(On this Day 18 Februari) Malaikat yang Bernyanyi dengan Kakinya

Backpass

by redaksi

(On this Day 18 Februari) Malaikat yang Bernyanyi dengan Kakinya

Pada 18 Februari 1967, seorang pemain dengan kemampuan luar biasa tapi ganjil bagi bangsa Italia dilahirkan: Roberto Baggio. Di negeri yang nyaris identik dengan Katolik, pemain yang sangat populer pada masanya itu justru memutuskan menjadi seorang penganut Buddha. Ganjil, mungkin juga janggal. Dan mengejutkan.

Ya, mantan pemain Juventus ini sudah menjadi penganut agama Buddha sejak tahun 1988. Sungguh aneh memang, dan sampai batas tertentu mengejutkan, ketika negara yang menjadi pusat tempat penting agama Katolik (Vatican berada di Roma), salah satu pemain pujaannya justru memutuskan menjadi agama Buddha. Seorang Buddha di "tim Katolik".

Peraih FIFA World Player Of The Year pada tahun 1993 ini diperkenalkan dengan agama Buddha oleh temannya bernama Morrichio. Ketika itu adalah masa-masa sulit karirnya sebagai seorang pesepak bola profesional. Cedera yang dideritanya membuat ia harus menepi untuk jangka waktu yang lama. Ketika ia memaksakan untuk bermain, ia hanya mampu bermain selama 10 menit.

Pemain yang terkenal dengan kuncirnya ini menyambut baik ajaran baru yang diperkenalkan oleh sang teman. Ia mulai membaca-baca buku tentang ke-Buddha-an. Hingga akhirnya ia menjadi seorang anggota Sokko Gakkai International, sebuah organisasi Buddha.

Akhirnya Baggio resmi memeluk agama Buddha pada 1 Januari 1988. Saat itu waktu menunjukkan pukul 7.30 pagi. Ia mendatangi rumah Morrichio. Kemudian ia membangunkan rekannya yang baru tertidur selama 3 jam untuk menyatakan keinginannya memeluk agama Buddha.

Morrichio yang mengantuk sangat kaget ketika Baggio mengungkapkan keinginannya ini. Tapi setelah Baggio menceritakan lebih mendetil, akhirnya rekannya ini pun mengerti.

Saat itu bukan hanya hari baru di tahun yang baru. Bagi seorang Roberto Baggio, hari itu adalah hari dimana ia memulai kehidupannya yang baru. Menjadi seorang Buddha.

Ketika cedera menimpanya, pria yang sekarang berusia 47 tahun ini sering bertanya "kenapa harus aku?" Tapi setelah mengenal Buddha, ia mempelajari satu hal penting tentang kehidupan. Yaitu "kehidupan adalah kenyataan yang pahit". Sejak saat itulah pandangannya tentang kehidupan dan masa depan berubah.

Keputusannya untuk menjadi seorang penganut Buddha ini tentu mendapat protes keras dari keluarganya yang merupakan keluarga Katolik. Tapi Baggio tetap pada pendiriannya. Ia kemudian menjadi sosok Baggio yang berbeda dengan Baggio sebelumnya. Buddha sepertinya telah memberikan ketenangan dalam hidupnya. Perlahan, keluarganya pun mulai memahami dan menerima pilihannya ini.

"Aku telah menjadi seorang Buddha selama 25 tahun dan hidupku berubah drastis setelahnya. Ini menjadi pengalaman yang sangat positif untukku. Semua orang berhak menemukan filosofi hidupnya masing-masing dan melakukan apapun untuk membuatnya bahagia," ujar Baggio ketika menyatakan pensiun dari sepakbola pada 2004.

Ya, Buddha telah melekat dalam cerita kehidupan seorang Roberto Baggio. Sesibuk apapun latihan dan pertandingan yang dijalaninya, ia selalu tak pernah lupa untuk bermeditasi. Inilah yang kemudian membuat publik menjulukinya The Divine Ponytail atau Si Kuncir Ilahi.

John Foot, penulis buku penting berjudul Calcio: A History of Football, pernah memberi kesaksian tentang mistisisme sosok Baggio ini.

"Ada sebuah acara TV tentang sepakbola yang sangat baik mengundang banyak fans ke studio untuk berbicara tentang sepakbola. Mereka terdiri dari suster, penulis, penyanyi hingga suporter garis keras. Acara itu dimulai dengan tayangan tentang kegagalan Baggio (mencetak gol dalam adu penalti di final Piala Dunia 1994), tapi mereka semua bernyanyi seakan Baggio mencetak gol sebab di pikiran mereka Baggio itu mistis," tulis Foot.

Benarkah kegagalan Italia di Piala Dunia 1994 sebagai kesalahan Baggio karena gagal menjadi penendang penalti terakhir dalam adu penalti di final Piala Dunia melawan Brazil? Anda bisa membaca ulasan kami tentang itu DI SINI.

Baggio memang telah menjadi salah satu sosok paling enigmatik dalam sepakbola Italia. Menjadi seorang Buddhis di negeri di mana Vatikan justru berada, sudah memperlihatkan "kejanggalan" sosok dan kepribadiannya. Tidak ada yang meragukan kemampuannya dalam mengolah bola, tapi kegagalan demi kegagalan toh mengakrabi karirnya. Ia dipuja banyak orang, tapi juga tak disukai oleh banyak -- terutama-- pelatih.

Baggio terheran-heran, juga semua orang, ketika Arrigo Sacchi menariknya ke luar lapangan setelah Italia harus bermain 10 orang saat menghadapi Norwegia di laga terakhir babak grup Piala Dunia. Gianluca Pagliuca menerima kartu merah dan harus ada kiper yang masuk dengan konsekuensi mesti ada pemain lain yang ditarik. Baggio justru yang ditarik keluar. Baggio meradang, walau hanya dalam hati. Orang terheran-heran, mengapakah pemain terbaiknya yang harus ditarik Sacchi?

Sudah jadi rahasia umum kalau Marcello Lippi tak menyukainya. Dialah yang membuang Baggio ke Milan dari Juventus. Mereka bertemu lagi di Inter Milan di musim 1999/2000. Lippi yang baru saja ditunjuk sebagai pelatih Inter meminta Baggio untuk memata-matai para pemain Inter yang berbicara miring tentang dirinya. Diminta sebagai "mata-mata", tentu saja Baggio menolak. Integritasnya terlalu mahal untuk direndahkan sedemikian rupa. Akibat penolakan itu, bara pertikaian kembali membuncah. Sepanjang musim itu, Baggio hanya main 19 kali, itu pun banyak dari bangku cadangan dan hanya mencetak 6 gol di liga.

Dalam biografinya, Baggio menceritakan bagaimana Lippi marah besar kepada Vieri dan Panucci dalam satu sesi latihan. Alasannya sepele: keduanya memberikan tepuk tangan untuk beberapa aksi Baggio yang memukau di latihan itu. Lippi marah besar dan berkata kepada Vieri dan Panucci: "Kalian pikir apa yang sudah kalian lakukan barusan? Kalian kira ini gedung teater? Kalian di sini bukan untuk bertepuk tangan pada yang lain!"

Lippi memperlihatkan bagaimana Baggio diperlakukan dalam iklim sepakbola Italia di masanya. Itulah yang menyebabkan John Foot, sekali lagi, menyebutkan bahwa Baggio adalah bakat yang disia-siakan Italia. Tidak ada yang bisa memaksimalkan bakat Baggio, atau mungkin tidak ada yang tahu bagaimana memaksimalkannya.

Itulah sebabnya ia memilih bermain di kesebelasan-kesebelasan papan tengah seperti Brescia dan Bologna setelah ia kesulitan bermain di kesebelasan-kesebelasan besar. Bersama Bologna dan terutama Brescia, Baggio menikmati sepakbola yang membahagiakana, ketika ia bisa sepenuhnya bermain dengan bola dan menikmati intimitas yang tak terpermanai dengan sepakbola. Ia bahkan pensiun di Brescia.

Jangan heran ketika ia pensiun pada 2004, Arrigo Sachi berujar: "Italia mencintaimu, tapi juga mempermalukanmu."

Inilah secarik cerita tentang pemain yang oleh Aldo Agroppi, pelatih yang sempat menangani Baggio di Fiorentina, disebut sebagai "malaikat yang bernyanyi dengan kakinya".

Komentar