Jurnalismenya Baik, Maka Sepakbolanya Baik

Backpass

by Rahman Fauzi

Rahman Fauzi

Homo Narrans.

Jurnalismenya Baik, Maka Sepakbolanya Baik

Sepanjang kendali PSSI dipegang Edy Rahmayadi dalam durasi 2016-2019, panen kutipan terjadi. Kronologinya begini: Momen dilantik di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta (10 November 2016), diikuti pensiun dini dari jabatan Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (21 Januari 2018), diseling pelantikan menjadi Gubernur Sumatra Utara (5 September 2018), sampai akhirnya memundurkan diri pada Kongres PSSI di Bali (20 Januari 2019). Sepanjang masa itu, pikiran, ucapan, dan tindakan Edy menghiasi hari-hari publik yang menaruh perhatian.

Kutipan Edy barang kali sulit dipercantik secara artsy untuk kiriman Tumblr. Juga belum kunjung mampu menembus redaksional ketat Brainy Quote ataupun Good Reads. Namun seperti hujan yang sama-sama kita suka, kutipan Edy Rahmayadi mungkin layak pula sama-sama kita ‘suka’ terlebih akhirnya dia memilih fokus mengurus Sumatra Utara.

“Kamu (saja yang) jadi Ketua PSSI, mudah-mudahan tidak ada yang tewas, deh,” katanya kepada jurnalis Tirto.id menyoal tewasnya suporter Persita Tangerang pasca dikeroyok suporter PSMS Medan. Klub yang juga dia kelola berbarengan PSSI.

“Tirto? Ada wartawan Tirto?” tanyanya lugu beberapa waktu kemudian saat PSSI menghentikan sementara Liga 1 akibat kematian suporter. Padahal, media tersebut beberapa kali menurunkan laporan soal wajah retak sepakbola nasional. Termasuk mengkritisi kinerjanya sebagai Ketua PSSI yang dimulai pada tahun yang sama dengan media itu berdiri.

“Saya tak lihat atlet yang salah. Yang salah adalah suporter,” jawabnya normatif soal kematian Haringga Sirla akibat permusuhan mengakar antarkelompok suporter.

Dia menyebut pemain naturalisasi Ilija Spasojevic dari Amerika Latin. Seolah-olah Spaso punya cetakan pemain telenovela, padahal dari namanya saja khas Balkan. Dia membuat gaduh perpindahan Evan Dimas dan Ilham Udin Armayn ke Selangor dengan mempertanyakan, “Siapa mereka (klub Malaysia)? Seenaknya saja mengontrak-ngontrak?”. Seolah-olah kontrak profesional antarnegara suatu hal tabu di era revolusi industri 4.0. Dua ucapan dalam konteks timnas yang bersiap menyambut agenda padat tahun 2018.

Gaya komunikasi Edy jelas tidak segan mengintimidasi langsung para pewarta. Presenter Aiman Witjaksono ditanya balik, “Apa urusan Anda menanyakan itu? Bukan hak Anda bertanya kepada saya”, setelah dicecar pertanyaan soal dualisme jabatan dalam acara Kompas Petang. Pada akhir tahun, Aiman meraih penghargaan Presenter Berita pada Panasonic Gobel Awards. Pada awal tahun, kita tahu pilihan yang diambil Edy Rahmayadi.

Paling monumental: “Wartawan harus baik. Jadi kalau wartawannya baik, timnas baik”.

Kegagalan Indonesia lolos dari babak grup Piala AFF 2018, ternyata ditentukan faktor kunci berupa baik atau buruknya wartawan. Oh #SiapPakEdy.

Anjing Penjaga Kekuasaan

Akhirnya rezim Edy Rahmayadi yang penuh dengan konfrontasi dengan awak media tuntas. Kutipan terakhirnya: “Demi PSSI berjalan dan maju, makanya saya nyatakan hari ini saya mundur dari (jabatan) Ketua PSSI.” Sikap ksatria yang patut diacungi jempol juga, karena beberapa seruan ‘nama Ketua PSSI+mundur’ hanya dianggap angin lalu meski punya catatan rapor merah. Sepatutnya mafhum, karena tuntutan tinggi seperti itu bukan terjadi pada eranya seorang.

Toh, ucapan “Jadi kalau wartawannya baik, timnas baik” tidak serta merta diartikan pada tataran denotasi (harfiah/literal) saja sebagaimana terdengar telinga. Memang harus ada andil jurnalis lewat tanggung jawabnya turut serta memajukan sepakbola nasional. Meskipun jelas bukan urusan teknis tepat saat pertandingan.

Contoh konkret andil jurnalisme baik pada akhir masa jabatan Edy, program bincang-bincang Mata Najwa bertajuk "PSSI Bisa Apa" tiga jilid, laporan mendalam Tirto.id tentang sepakbola yang jadi kuburan suporter dan bagaimana sepak terjang para petinggi klub, konsistensi Tempo menguak jaringan mafia bola, judul tangguh koran Jawa Pos#EdyOut’, obrolan blak-blakan Asumsi dengan Rochy Putiray, dll. Tentu media massa lainnnya yang punya perhatian kuat tentang sepak bola nasional juga mengupayakan yang terbaik demi kemajuan sepakbola nasional.

Baca juga: Peran Polisi dan Media dalam Memberantas Match-Fixing

Sedikit banyak produk-produk jurnalistik membuat ‘kemeriahaan’ soal ketidakberesan pencapaian yang mesti ditangkap publik. Sedikit banyak, fungsi anjing penjaga terhadap kekuasaan yang kapabilitasnya diragukan bisa diperankan. Sedikit banyak memengaruhi pembentukan satuan tugas (satgas) anti-mafia bola oleh kepolisian, dan barang kali keputusan mundur Edy Rahmayadi seiring banyaknya kematian suporter, isu pengaturan skor, serta prestasi timnas yang belum signifikan.

Tentu saja bukan domain pers semata, karena juga ada peran suporter kritis, pemain yang lantas bersuara, dan pemangku kebijakan yang punya kewenangan lebih besar.

Jadi, ucapan “Wartawan baik, timnas baik” bukan serta merta diartikan membentuk timnas berkomposisi awak media, melainkan pers yang menjalani fungsinya secara tepat guna mampu menghadirkan harapan perbaikan kinerja para pemangku kekuasaan dan organisasi kenegaraan yang punya tanggung jawab kepada publik. Apalagi seandainya lembaga tersebut dibiayai dari anggaran belanja negara hasil pungutan pajak warga negara.

Di sini, pers layak memantau sepak terjang pemegang kekuasaan secara independen. Mengapresiasi kalau memuaskan, lalu terus mengabarkan kalau terjadi penyimpangan dan tidak kunjung ada perbaikan. Tentu saja konfrontasi aktor dunia sepakbola dengan para pewarta semacam itu bukan hanya ada di Indonesia saja.

Jurnalis veteran Aljazair, Maamar Djebour, pernah dimaki pelatih timnas negaranya, Rabah Madjer. Setelah dipertanyakan kualitas timnya akibat tidak lolos Piala Dunia 2018, Madjer menghina Djebour sebagai ‘musuhnya timnas’ dan sebaiknya pensiun untuk memberi kesempatan kepada jurnalis muda.

Situasi lebih buruk menimpa pelatih Meksiko tahun 2015, Miguel Herrera. Dia menonjok seorang jurnalis pengkritiknya di bandara Philadelphia saat memimpin tim di Piala Emas untuk dipecat beberapa hari kemudian.

Arda Turan juga pernah muak dengan perilaku jurnalis. Kapten Turki tersebut bahkan sempat mengakhiri karier internasionalnya sementara setelah puas memukuli jurnalis, Bilal Mese, yang menyebar rumor dan menghina keluarganya. Tidak terhitung tentu perilaku sosok-sosok vokal lapangan hijau yang tidak ragu menunjukkan kesinisan kepada jurnalis, seperti José Mourinho, Zlatan Ibrahimovic, dan Samir Nasri. Mereka tersinggung karena pemberitaan.

Dalam praktiknya memang jurnalisme tidak melulu soal hal-hal mulia semacam mengabarkan informasi penting untuk publik dan membantu mengambil keputusan. Baik yang dilakukan dengan motif sengaja atau tidak sama sekali, praktik jurnalisme kerap mengandung daif. Fakta itu suci, tapi tak dipungkiri bisa tergantung perspektif dari mana seseorang itu berdiri.

“Jurnalisme adalah laku ikhtiar dengan segala kelebihan dan kekurangannya,” begitu kata Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, Arif Dzulkifli.

Selamat Hari Pers Nasional

Tentu relasi pers dengan apa yang diliputnya tidak melulu berujung konflik. Hari per hari, berita diproduksi. Berita langsung tentang laporan pertandingan, kabar terbaru pemain, dan pergerakan bursa transfer mengisi pemberitaan. Berita khas (feature news) soal sisi lain pelaku dunia sepakbola, sejarah di baliknya, budaya suporter, kultur busana dan teknologi, dsb lazim diproduksi memberi sudut pandang baru tentang sepakbola yang tidak hanya dipandang olahraga, tapi juga industri penghasil produk budaya populer.

Berita mendalam juga kian hari banyak disusun, seperti menguliti praktik judi sepakbola, perbudakan yang terjadi demi terselenggaranya Piala Dunia, pengemplangan pajak, atau praktik korupsi para elite mengatasnamakan sepakbola.

Produk jurnalistik berupa opini juga kian menjamur. Para penulisnya memberi sudut pandang unik memaknai lanskap si kulit bundar, seperti Messi yang tidak ubahnya seorang Sisifus atau menggambarkan penderitaan para pemadat sepakbola yang sakau saat libur kompetisi.

Jelas konten visual seperti karikatur dan meme juga tidak ketinggalan menerpa dengan beragam kekocakan. Pada awal 2019 belakangan, video blog bernafas jurnalisme warga buatan kelompok suporter semakin mirip jamur di musim hujan. Setelah Robbie dan DT dari AFTV mengamalkan filosofi Arsène Wenger dan Herbert Chapman: menjadi seorang pionir.

Merujuk Undang-Undang 40 tahun 1999 tentang pers, pers nasional berfungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. Selain tentu saja sebagai lembaga ekonomi. Kedua aspek soal idealisme praktik jurnalistik dan komersialisme yang mengalirkan pundi-pundi uang supaya kegiatan terus berjalan merupakan dua garis yang selalu beriringan. Tentu ada penekan pada salah satunya.

Dalam konteks media sepakbola, para pegiatnya bertugas memberi informasi bernilai berita, mengedukasi lewat pembuatan konten-konten yang proporsional, menyajikan hiburan bagi audiensnya yang sudah rumit dengan tuntutan keseharian, dan kontrol sosial aktor-aktor di dalamnya supaya sadar hak dan kewajiban yang digenggam tanpa harus memberi vonis apalagi fitnah. Semua tetap berjalan dalam koridor bisnis yang tidak boleh satu centimeter pun menggeser roda idealisme pers.

Menulis (juga pembuatan konten lain) adalah upaya merawat ingatan. Esais Zen RS menyebut, merawat ingatan sepakbola merupakan hal mulia. Sebab sebagai suatu bangsa kita mudah lupa dan hanya mengingat apa yang kita mau saja. Dari karya jurnalisme kita bisa diajak mengingat kembali apa yang terjadi di masa lalu untuk perbaikan hari ini dan evaluasi masa depan.

Tentang pencapaian masa lampau yang belum kunjung diulangi atau dilewati masa kini. Tentang pemimpin-pemimpin PSSI yang punya macam-macam perilaku. Tentang mafia bola yang terus menempel di banyak orde. Tentang keikutsertaan Piala Dunia 1938 dan menahan imbang 0-0 Uni Soviet di Olimpiade yang terus dielap-elap, tanpa mendapati pembandingnya lagi hari ini. Tentang catatan-catatan kekerasan berujung pembunuhan antarsuporter yang sangat menyedihkan. Tentang informasi fundamental mengenai statistik performa pemain, detail kompetisi suatu masa, jumlah gol, aksi laga perlaga yang mesti terarsip rapi supaya tidak lupa.

Sampai hari ini, setiap 9 Februari diperingati sebagai Hari Pers Nasional, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Wartawan dan jurnalis mesti ada memenuhi hak tahu dan hak memberitahukan masyarakatnya. Memegang mandat memberi suara bagi yang tidak mampu bersuara setelah tersingkir dalam sistem kelas yang banyak menguntungkan penguasa sumber daya. Tanpa bersikap tinggi hati atau berniat mencelakai. Dalam konteks ini, sepakbola sebagai bagian kehidupan memang layak diberi perhatian.

Tanpa mengesampingkan kompleksitas dinamika yang melingkupi dunia pers sepakbola nasional itu sendiri, maka jurnalisme yang baik pantas mendambakan kancah sepakbola yang baik pula. Selamat Hari Pers Nasional. Semoga semakin banyak karya jurnalistik bertema sepakbola berkualitas mumpuni yang bermanfaat bagi publiknya.

Seperti ucapan Najwa Shihab, “Karena sepakbola urusan kita”.

Komentar