Pentingnya Kerja Sama

Backpass

by Evans Edgar Simon

Evans Edgar Simon

Death. Glory. Rock n Roll. Kontributor Pandit Football Indonesia.

Pentingnya Kerja Sama

Sepakbola adalah olahraga yang menuntut kerja sama. Hal ini tak hanya berlaku bagi para pemain, melainkan juga staf pelatih dan manajemen. Eks pelatih Tottenham Hotspur, Juande Ramos, tentu sangat memahami hal tersebut.

Jermaine Jenas menjalani sebuah sesi latihan bersama Tottenham pada 26 Oktober 2008 dengan perasaan bingung dan setengah terkejut. Ia bukannya tidak mengerti instruksi yang diberikan. Ia hanya gagal paham alasan Ramos meminta Tom Huddlestone, yang posisi aslinya adalah gelandang bertahan, bermain sebagai sayap kiri.

"Kami melihat ke arah asisten (pelatih) Gus Poyet. Ia melihat balik dan mengatakan `aku tidak tahu harus mengatakan apa`," kenang Jenas sebagaimana dikutip Standard.

Menjelang tengah malam, tepatnya sekitar pukul 23.00, Alan Hutton mengetuk pintu kamar hotel Jenas. Hutton mengatakan kepada Jenas ada pertemuan mendadak.

"Aku pikir ia memanggil hanya karena ada satu pemain yang melucu. Kami menuruni tangga dan CEO (Daniel Levy) mengatakan bahwa Juande telah dibebastugaskan. Harry (Redknapp) yang akan mengambil alih," tutur Jenas.

Menurut Jenas, karier Ramos bersama Tottenham berakhir tepat ketika ia meminta Huddlestone menjadi sayap kiri. Keputusan Ramos dianggap melampaui akal sehat.

Bisa jadi, Ramos memang sudah tidak berpikir jernih kala itu. Ia berada dalam tekanan hebat menyusul hasil buruk di delapan pekan pertama musim 2008/09, hanya meraih 2 dari maksimal 24 poin. Itu adalah start Liga Inggris terburuk yang dialami Tottenham sejak berdiri pada 5 September 1882.

Kesalahan itu Abadi

Sekitar enam tahun berselang, Ramos kembali ke Stadion White Hart Lane. Ia datang bersama kesebelasan asuhannya, FC Dnipro, untuk melakoni laga Liga Europa.

"Orang-orang di White Hart Lane seharusnya memiliki kenangan yang baik tentangku. Terakhir kali, Spurs meraih titel juara bersamaku. Jadi, aku pikir mereka mengingat saya dengan baik," tutur dirinya ketika diwawancarai Sid Lowe untuk Guardian sebelum laga.

Ramos tentu tidak salah. Ia adalah sosok yang mengakhiri puasa gelar The Lilywhites selama 17 tahun (dan trofi terakhir yang pernah diraih klub hingga detik ini) dengan menjuarai Piala Liga pada musim 2007/08.

Perjalanan Robbie Keane dkk. untuk mengangkat trofi Piala Liga sendiri terbilang historis. Mereka membantai rival sesama London Utara, Arsenal, di babak semifinal dengan skor 5-1. Ini adalah kemenangan pertama mereka sejak 1999. Di partai puncak, giliran Chelsea dikalahkan dengan skor 2-1.

Keberhasilan tersebut terasa semakin istimewa mengingat Ramos sebenarnya baru menjadi pelatih Tottenham ketika musim sudah berjalan dua bulan, tepatnya pada 27 Oktober 2007.

"Semuanya merasa senang...," kenang Ramos, yang disusul dengan jeda, seperti yang dideskripsikan oleh Lowe. "(Lalu) saya dipecat."

Sosok yang lahir pada 25 September 1954 tersebut nampak masih sulit menerima kenyataan bahwa ia dipecat dari Tottenham hanya satu tahun kurang satu hari sejak resmi ditunjuk menggantikan Martin Jol. Ia bukannya melepas tanggung jawab atas hasil buruk, tetapi ada satu nama yang berperan besar atas kegagalan kariernya: Damien Comolli, sang direktur olahraga.

Comolli sendiri dipecat tak berselang lama. Ramos menilai bahwa itu adalah "kebijakan terhormat" yang dilakukan oleh Levy.

"Jika ia (Levy) benar-benar menyalahkan diriku atas bursa transfer, Comolli mungkin dipertahankan tetapi struktur manajemennya berubah. Ia tahu (sosok yang salah), tetapi ketika sudah berhadapan dengan media dan fans, maka ini adalah kesalahan manajer," terang Ramos.

Sekalipun Ramos mengklaim diri sebagai manajer, sejatinya ia tidak menjalankan tugas sebagai seorang manajer di Tottenham. Ia adalah seorang kepala pelatih.

Budaya sepakbola Inggris memang telah lama akrab dengan titel manajer; satu orang ditunjuk untuk mengatur segalanya, mulai dari administrasi, persiapan para pemain, hingga transfer.

Adapun kepala pelatih memiliki tugas khusus untuk meramu taktik. Tugasnya tentu bisa lebih luas, tetapi sangat jarang sampai merambat hingga ke jual-beli pemain. Urusan terakhir biasanya diserahkan kepada direktur olahraga untuk menjembatani pelatih dengan manajemen tim (dalam kasus ini maksudnya CEO Daniel Levy).

Pada bursa transfer musim panas 2008, Ramos kehilangan dua penyerang yang menjadi andalan di musim sebelumnya: Keane (dijual ke Liverpool) dan Dimitar Berbatov (dijual ke Manchester United). Sebagai pengganti, ia meminta Samuel Eto`o dan David Villa.

"Eto`o meminta gaji terlalu tinggi. Kami bernegosiasi dengan Villa, yang merupakan salah satu pemain terbaik dunia ketika itu. Levy adalah sosok yang sangat keras dalam negosiasi dan pada akhirnya transfer itu tidak terealisasi," kata Ramos.

Pria bernama lengkap Juan de la Cruz Ramos Cano itu terpaksa menjalani musim dengan Darren Bent, Frazier Campbell, dan Roman Pavlyuchenko untuk mengisi lini depan.

Khusus kasus Bent, terdapat andil besar dari otak bisnis Levy. Sang striker merupakan salah satu alasan Levy berani melego Keane dan Berbatov.

"Levy melakukan investasi senilai 17 juta Paun (untuk merekrut Bent dari Charlton Athletic pada 2007), tetapi ada dua pemain yang lebih baik di tim. Dua halangan ini harus dibuang agar investasi bisa berjalan. Tidak ada masalah terkait aspek finansial. Dari aspek olahraga, hal ini ternyata menjadi sebuah bencana," ucap Ramos.

Pemain-pemain lain yang didatangkan oleh Comolli juga ternyata tidak sesuai dengan permintaan Ramos, kecuali Luka Modric, karena Comolli sangat menjaga pengeluaran klub. "Aku menerima pemain-pemain Comolli, yang tidak kuminta. Itu adalah sebuah kesalahan."

Seperti Levy, Comolli benar-benar memikirkan aspek finansial dalam setiap langkah transfer. Prospek nilai jual sang pemain di masa depan menjadi yang terpenting.

Ketika mengumumkan kepergian Ramos dan kedatangan Redknapp, Levy pun mengatakan bahwa "ini adalah waktu yang tepat bagi kami untuk kembali ke gaya manajemen yang lebih tradisional bagi klub." Ia sadar kegagalan menemukan pengganti Keane dan Berbatov berbuah mahal, alhasil Comolli ikut ditendang.

Menyalahkan Comolli seorang tentu juga tidak terasa adil. Buktinya Modric dan Gareth Bale, dua pemain yang dianggap sebagai kegagalan pada era kepemimpinan Ramos, sekarang masuk ke barisan pemain terbaik dunia.

Bagaimana pun, nasi telah jadi bubur. Kesalahan Ramos dan Comolli abadi dalam sejarah serta ingatan para suporter Tottenham. Salah satu kombinasi kepala pelatih-direktur olahraga paling potensial dalam manajemen kesebelasan modern hancur berantakan karena ketidaksabaran dan salah menentukan prioritas.

Komentar