Berbahagia Ala Paulinho

Backpass

by Evans Edgar Simon

Evans Edgar Simon

Death. Glory. Rock n Roll. Kontributor Pandit Football Indonesia.

Berbahagia Ala Paulinho

Paulinho mungkin bukan pesepakbola idola bagi masyarakat luas. Ia sendiri mungkin tidak memiliki misi dan urgensi untuk dikenang. Baginya, karier sebagai pemain sepakbola adalah hidup yang harus dijalani dengan jiwa bersuka.

Nama Paulinho menjadi topik perbincangan hangat ketika ia meninggalkan Tottenham Hotspur untuk bergabung dengan kesebelasan Liga Super China, Guangzhou Evergrande, pada 2015. Ia dianggap sebagai bagian dari geng tak bermoral yang bermain sepakbola hanya demi uang.

Merumput di benua Asia atau Amerika ketika seorang pemain beranjak tua mungkin bisa dimaklumi banyak suporter, tetapi lain cerita jika sang pemain masih berada dalam usia produktif. Kompetisi yang relatif kurang berkualitas dan kalah pamor dibandingkan liga-liga Eropa memunculkan asumsi bahwa Paulinho adalah pemain mata duitan.

Orang-orang di sekitar Paulinho mempertanyakan keputusannya. Ia sendiri mengaku memiliki sedikit keraguan.

"Apakah keputusan tersebut adalah keputusan baik atau buruk? Aku tidak tahu. Satu-satunya hal yang aku tahu adalah aku akan pergi. Aku harus mayakininya karena aku perlu bermain dan mengembalikan kepercayaan diri," ucap Paulinho kepada The Player`s Tribune.

Menit bermain Paulinho bersama The Lilywhites memang sangat minim, terlebih sejak Mauricio Pochettino ditunjuk sebagai manajer pada awal musim 2014/15.

Rasa frustrasi tersebut turut memengaruhi kehidupannya di luar lapangan. Setelah latihan, ia tidak memiliki hasrat untuk berkumpul dengan rekan-rekan satu tim. Ia memilih untuk langsung pulang, membawa seluruh perasaan stres ke rumah.

"Ketika pulang, aku langsung menuju ke kamar dan tidak ingin berbicara dengan siapa pun," beber dirinya. "Ada dua orang yang bekerja di rumahku dan aku berkata kepada mereka `jika kalian memiliki masalah, tolong jangan membawanya kepadaku karena segalanya membuat aku stres`".

Maka ketika Guangzhou datang dengan kesempatan menjadi pemain utama (plus gaji besar, tentu saja), Paulinho tidak berpikir panjang. Ia langsung bertemu dengan CEO Tottenham, Daniel Levy, agar diizinkan hengkang.

Paulinho sebenarnya bisa saja makan gaji buta, tetapi ia tidak bahagia di Tottenham dan ia tak sungkan mengejar kebahagiaan tersebut hingga ke Tiongkok.

Pria yang lahir pada 25 Juli 1988 ini memang telah dipertemukan dengan banyak masalah sejak kecil. Ia ditinggal oleh ayahnya, Jose Paulo Bezerra Maciel senior, ketika baru berusia tiga bulan.

Awal karier sepakbola Paulinho pun jauh dari kata mulus. Hati Paulinho hancur lebur setelah gagal menembus skuat senior Pao de Acucar (sekarang bernama Gremio Osasco Audax Esporte Clube), kesebelasan idolanya sejak kecil.

Paulinho yang saat itu baru berusia 17 tahun pun memutuskan untuk merantau ke Eropa. Ia bergabung dengan klub Lithuania, FC Vilnius. Alih-alih menyembuhkan luka, ia justru menjadi korban rasialisme.

"Di jalanan, orang-orang mencoba untuk memprovokasi. Mereka memanggil-manggil nama kami (Paulinho dan rekannya, Rodney). Di pertandingan, fans lawan membuat suara-suara monyet dan melempar koin. Sungguh menjijikkan," kenang dirinya.

Paulinho sempat membela klub Polandia, LKS Lodz, pada musim 2007/08 sebelum pulang ke kampung halamannya, Sao Paulo.

Pengalaman buruk di Eropa membuat Paulinho kehilangan semangat untuk bermain sepakbola. Ia merasa depresi dan tidak lagi berbahagia ketika bola berada di kakinya. Baginya, sukses sebagai pesepakbola adalah ilusi.

Beruntung, Paulinho memiliki keluarga yang tak henti-hentinya memberikan dorongan. Kepercayaan diri itu perlahan kembali tumbuh dan ia merumput bersama klub yang dua tahun sebelumnya menolaknya, Pao de Acucar, di divisi empat sepakbola Brasil.

Dari situlah karier Paulinho mulai menanjak. Ia dipinang klub divisi dua, Bragantino, pada 2009. Setahun berselang, ia membela salah satu klub paling populer di Brasil, Corinthians.

Di bawah arahan pelatih Tite, yang saat ini menangani Tim Nasional Brasil, Paulinho mengantarkan Corinthians meraih trofi-trofi prestisius, termasuk Copa Libertadores dan Piala Dunia Antarklub.

"Tentang keraguan dari orang-orang, hampir seluruh karierku didasari dengan pertanyaan. Jadi, inilah yang tepat dan berjalan dalam hidupku," tutur Paulinho mengenai kepindahannya ke Barcelona pada pertengahan musim 2017/18 lalu.

Bagi banyak orang, keputusan Barca merekrut Paulinho memang merupakan hal yang terbilang sukar dicerna. Ia adalah satu-satunya pemain sepanjang sejarah Barca yang dibeli dari klub Tiongkok. Belum lagi ditambah fakta bahwa ia kemudian dipercaya untuk membela Brasil di Piala Dunia 2018.

Yang banyak orang lupakan, Paulinho bermain dengan penuh sukacita bersama Guangzhou. Ia merupakan salah satu bagian integral keberhasilan klub berjuluk Macan Tiongkok Selatan itu meraih dua trofi Liga Super Tiongkok, satu Piala FA Tiongkok, dan satu Liga Champions Asia.

Kini, pria yang memiliki sepasang anak kembar bernama Sofia dan Ze Pedro itu kembali merumput bersama Guangzhou dengan status sebagai pemain pinjaman selama semusim penuh.

Paulinho tidak peduli jika kembali dihujani kritik atau tuduhan mata duitan. Yang Ia tahu, ia berbahagia.

Komentar