Ratu Marta

Backpass

by Evans Edgar Simon

Evans Edgar Simon

Death. Glory. Rock n Roll. Kontributor Pandit Football Indonesia.

Ratu Marta

Marta Vieira da Silva adalah salah satu pesepakbola terbaik yang pernah ada di muka bumi. Ia pernah meraih pelbagai prestasi prestisius bersama tim yang dibelanya, terlebih sebagai individu. Sayang semua itu serasa tak berarti akibat ketimpangan yang masih kentara antara sepakbola perempuan dan laki-laki.

Seperti kebanyakan pemain sepak bola Brasil terkemuka, Marta berasal dari keluarga tak mampu. Bahkan, kota kelahirannya, Dois Riachos, yang berada di provinsi Alagoas, merupakan salah satu wilayah termiskin di Brasil.

Lahir sebagai seorang perempuan di Brasil – yang mengaku sebagai negara gila sepakbola – sama sekali tidak membantu. Malah, kenyataan ini memberatkan. Kegemaran Marta menendang si kulit bundar mendapat tentangan dari keluarganya. Bagaimanapun, ia tidak menyerah.

Ketika berusia 14 tahun, Marta memutuskan untuk menaiki sebuah bus, menempuh perjalanan selama tiga hari menuju Rio de Janiero. Ia meninggalkan kampung halaman untuk mengejar mimpi bergabung dengan klub profesional pertamanya, Vasco da Gama. Langkah itu mengubah kariernya, terlebih kehidupannya, secara drastis. Semua yang terjadi setelah itu bahkan melebihi khayalan Marta sendiri.

“Kepada Marta yang masih berusia 14 tahun. Naiklah ke bus itu. Saya tahu yang kamu pikirkan. Saya tahu perasaan kamu. Jangan pikirkan tentang seberapa kamu takut, seberapa kamu gugup, bagaimana orang-orang mengatakan bahwa kamu tidak bisa dan tidak seharusnya melakukan itu. Naik saja,” tulis Marta untuk The Players’ Tribune.

Dari Udik Menjadi Terbaik

Tentu wajar jika Marta, yang lahir pada 19 Februari 1986, merasa takut untuk mengambil satu-dua langkah kecil menaiki sebuah bus kurang lebih 18 tahun lalu. Beberapa pekan sebelumnya, dalam sebuah turnamen regional di Santana do Ipanema, ia (terpaksa) mundur dari tim karena seorang pelatih tim lawan mengancam mundur dari kompetisi. Alasannya bukan karena Marta terlalu hebat, melainkan karena ia seorang perempuan.

Satu pukulan telak tidak membuat Marta terjatuh. Sekalipun menangis, motivasi kuat terus mendorongnya untuk mengambil setiap kesempatan, termasuk kemungkinan mengikuti seleksi di Vasco da Gama. Ketika menaiki bus, ia bahkan belum tahu akan sempat menunjukkan kemampuannya atau tidak.

Selama di Rio, Marta menginap di rumah teman dari sepupunya. Bermodalkan sebuah sepatu sepak bola baru dan panjang sabar, kerjanya hanya memperhatikan telepon rumah dengan saksama. Setelah beberapa hari, barulah telepon yang ada di ruang tamu itu berdering. “Latihannya hari ini,” ucap seorang staf klub di ujung sambungan.

Marta tidak berpikir panjang. Ia langsung membawa sepatu barunya dan berangkat ke lapangan. Sesampainya di sana, sekalipun semua pesertanya adalah perempuan, ia masih tetap mendapatkan diskriminasi. “Udik”, begitulah kurang lebih kata para pemain lainnya, yang memang diakui Marta lebih tua dan merupakan anak-anak kota.

Marta, yang tidak membuka mulut sama sekali karena takut tambah diejek sepanjang proses seleksi, berbicara melalui permainannya di lapangan. Selepas seleksi, koordinator dari tim senior perempuan Vasco, Helena Pacheco, mengatakan bahwa ia ingin Marta menjadi bagian klub.

Vasco hanyalah awal bagi Marta, yang kemudian melanglang buana membela Santa Cruz (2002-04), Umea IK (2004-08), Los Angeles Sol (2009), Santos (2009-10, 2011), FC Gold Pride (2010), Western New York Flash (2011), Tyreso FF (2012-2014), FC Rosengard (2014-17), dan Orlando Pride (2017-sekarang).

Vasco hanyalah awal dari perjalanan panjang berhias satu titel UEFA Women’s Cup, tujuh Damallsvenskan (liga sepakbola perempuan Swedia), satu Copa Libertadores de Futbol Femenino, dan dua WPS Championship (liga sepakbola perempuan Amerika Serikat).

Tak ada yang mampu menghentikan Marta. Dari seorang anak miskin dari wilayah kumuh, Marta menjelma menjadi ratu sepakbola Brasil – bahkan dunia.

Masih Tetap Melawan

Bukan tanpa alasan Marta pantas dilabeli sebagai Rainha (ratu, dalam bahasa Portugis). Ia merupakan pemain perempuan terbaik dunia selama lima tahun berturut-turut (2006-2010). Melihat bahwa ia menjadi runner-up sebanyak empat kali (2005, 2011, 2012, 2014) dan menempati peringkat ketiga sebanyak dua kali (2004, 2013), tentu dominasi Marta tidak bisa lagi dibantah. Tidak ada satu pun pemain yang pernah masuk dalam nominasi sesering dirinya.

Baca juga: Saat Brasil (Tidak Lagi) Mendominasi Penghargaan Pemain Terbaik

Pada gelaran Piala Dunia Perempuan 2007, Marta memang hanya mampu membawa Brasil menjadi runner-up karena kalah dari Jerman 0-2 di partai final. Bagaimanapun, ia tetap bisa tersenyum karena membawa pulang bola emas (pemain terbaik) dan sepatu emas (pencetak gol terbanyak) berkat tujuh gol sepanjang turnamen. Delapan tahun berselang, ia menjadi top skor Piala Dunia Perempuan sepanjang masa (15 gol), satu gol lebih banyak dari pemegang rekor sebelumnya, Birgit Prinz.

Catatan-catatan di atas seharusnya sudah cukup untuk membuktikan bahwa Marta pantas berstatus sebagai legenda, selevel dengan Maradona, Pele, Lionel Messi, dan Cristiano Ronaldo. Faktanya tidak demikian.

Marta tidak lebih dari sekadar seorang pemain hebat di olahraga yang ia tekuni. Ia hanya terkenal di kalangan terbatas, tidak mendapat sorotan yang sama dengan para bintang sepakbola pria.

Diskriminasi gender dalam sepak bola masih sangat terasa. Marta pun menyadari betul mengenai hal ini sejak masih kecil, dan masih tetap melawan. Namun, patut diingat bahwa seorang atlet tidak bisa menjadi besar seorang diri. Ia membutuhkan ‘bantuan’ industri olahraganya.

Industri sepakbola perempuan masih teramat muda dan rapuh. Dalam perjalanan kariernya, Marta pernah lima kali harus berpindah klub karena pembubaran. Sebanyak enam (Vasco da Gama, LA Sol, FC Gold Pride, Santos, Western New York Flash, dan Tyreso) dari sembilan klub yang pernah dibelanya sudah punah karena masalah keuangan.

Kisah yang paling ‘lucu’ mungkin adalah Santos, yang harus menutup tim perempuannya pada 2011 demi membayar kontrak Neymar (ya, yang sekarang jadi bintang Paris Saint-Germain itu). Per November 2016, nilai kontrak Marta diperkirakan hanya 400 ribu dolar AS per tahun (sekitar 5,42 miliar rupiah).

Situasi itu berbanding terbalik dengan olahraga-olahraga individu, misalnya tenis. Berdasarkan laporan Forbes, Serena Williams mendapatkan pemasukan sebesar 27 juta Dollar AS (sekitar 365 miliar rupiah) pada Juni 2016 hingga Juni 2017. Sekitar 20 juta (271 miliar rupiah) dari jumlah tersebut berasal dari para sponsor.

Angelique Kerber, yang pernah menepati peringkat 1 dunia versi World Tennis Association pada 2016, mendapatkan pemasukan sekitar 5 juta dolar AS (67 miliar rupiah) dari sponsor-sponsornya. Jumlah serupa didapatkan oleh pebalap Danica Patrick.

Kita juga bisa menengok ajang mixed martial art dunia, Ultimate Fighting Championship (UFC). Ronda Rousey, yang kini sudah banting setir menjadi pegulat World Wrestling Entertainment (WWE), pernah mendapatkan 8 juta dolar AS (108 miliar rupiah) dari honor bertarung. Ia pun dipercaya membintangi film Fast dan Furious 7.

Kemewahan-kemewahan seperti inilah yang tidak didapatkan oleh Marta dari sepakbola. Bagaimanapun, ia tidak pernah berhenti mencintai sepakbola. Marta terus menendang si kulit bundar, membuat para lawan tertunduk lemas melihatnya merayakan gol.

Sebagaimana ratu bijak yang mencintai kerajaannya, Marta dengan setia mengingatkan bahwa “setiap perempuan berbagi hal yang sama, yakni sebuah perjalanan rumit dan cinta bagi sepakbola yang membuat mereka terus melangkah maju.”

Komentar