Formasi 4-2-3-1 Bangkit Seiring Redupnya Karier Makelele

Backpass

by Ardy Nurhadi Shufi 42174 Pilihan

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Formasi 4-2-3-1 Bangkit Seiring Redupnya Karier Makelele

Halaman kedua

Di Inggris memang tak banyak pemain semacam Makelele. Beberapa nama yang dianggap punya kemampuan seperti pemain yang pensiun di PSG tersebut adalah Owen Hargreaves, Michael Carrick, Tom Huddlestone dan Gareth Barry. Tak heran beberapa kesebelasan besar merekrut pemain "asing" untuk memainkan peran tersebut seperti Xabi Alonso (Liverpool), Yaya Toure (Manchester City), Bastian Schweinsteiger (Manchester United), Alex Song (Arsenal), dan Sandro (Tottenham Hotspur) untuk menemukan versi modern dari Makelele.

Oleh karena itu pula ketika Kante sukses di Leicester City banyak kesebelasan yang mengincarnya. Kante tetap bisa menguasai lini tengah meski Leicester City bermain dengan pola dasar 4-4-2 (hanya satu gelandang tengah sebagai partner). Di Chelsea saat ini pun ia bermain di pola 3-4-3, lagi-lagi hanya berpartner dengan satu gelandang.

Perlu diketahui, pelatih yang pertama kali mendatangkan Makelele ke Inggris adalah Claudio Ranieri. Uniknya, Ranieri juga yang memaksimalkan talenta Kante di Inggris bersama Leicester City. Menurut Ranieri, pemain seperti Makelele, yang kemudian bereinkarnasi pada diri Kante, bukan perebut bola yang identik dengan gelandang bertahan, melainkan playmaker.

"Saya punya arloji mewah. Arloji ini dijalankan oleh batre. Claude [Makelele] adalah batre baru saya. Dia sangat penting untuk masa depan Chelsea. Dia berada di urutan teratas daftar pemain yang saya ia inginkan," kata Ranieri saat memperkenalkan Makelele. "Dia adalah playmaker. Pemain terbaik (di perannya)."

Makelele disebut playmaker oleh Ranieri karena ia melihat kelebihan pemain asal Prancis tersebut dalam mencegah serangan lawan dengan intersep atau tekel bersih menjadi awal serangan timnya dimulai. Dengan begitu, timnya bisa mengubah situasi dari bertahan ke menyerang dalam seketika, atau yang dikenal dengan transisi bertahan ke menyerang.

Saat itu, pada awal 2000an, seperti yang dituliskan Jonathan Wilson di The Guardian, pola 4-2-3-1 mulai populer di Spanyol (yang tentunya dibawa ke Liga Champions atau Piala UEFA) setelah Real Madrid menduetkan Fernando Redondo dan Geremi untuk membebaskan Steve McManaman atau Raul Gonzalez di belakang penyerang (juga Makelele-Flavio Conceicao di belakang Zinedine Zidane). Begitu juga dengan Deportivo La Coruna-nya Javier Irureta yang mengandalkan Valeron, Sergio dan Mauro Silva di lini tengah.

Makelele bersama Fernando Hierro, Luis Figo dan Ronaldo Nazario (via shijuthomas.com)

Ketika itu 4-2-3-1 dianggap memudahkan sebuah kesebelasan menguasai jalannya pertandingan (ball possession). Sementara itu pemain seperti Makelele bisa mengemban tugas ganda yang diperankan double pivot dalam 4-2-3-1, itulah kenapa Ranieri menyebut Makelele sebagai playmaker, yang kemudian ia mereplikanya bersama Kante di Leicester City.

Dengan langkanya pemain seperti Makelele dan Kante yang bisa peran ganda di lini tengah, sepakbola Eropa mulai didominasi oleh skema dasar 4-2-3-1. Inggris pun ketularan hal tersebut karena gelandang perebut bola yang tersedia benar-benar gelandang tukang jagal murni. Alhasil saat ini, kesebelasan-kesebelasan yang tidak punya pemain seperti Kante punya gelandang perebut bola tukang jagal macam Victor Wanyama (Spurs), Fernandinho (Manchester City), Granit Xhaka (Arsenal), atau Oriol Romeu (Southampton) untuk menyempurnakan pola 4-2-3-1 mereka.

Chelsea sendiri termasuk kesebelasan yang ketagihan menggunakan pemain setipikal Makelele. Sebelum berhasil terjawab dengan mendatangkan Kante, The Blues sempat mendatangkan pemain-pemain yang dianggap mewarisi kemampuan Mekelele seperti Lassana Diarra, Michael Essien hingga John Obi Mikel.

Baca juga: Holding Midfielder Lebih Kompleks dari Gelandang Bertahan

***

Saat ini, selain Kante, pemain yang setipe Makelele adalah Idrissa Gueye (Everton), Casemiro (Real Madrid), Fabinho (Monaco), atau Saul Niguez (Atletico Madrid). Beberapa calon gelandang muda potensial yang tampaknya bisa memainkan peran ini adalah Wilfred Ndidi (Leicester City), Lucas Torreira (Sampdoria), Ellyes Skhiri (Montpellier), dan Santiago Ascacibar (Stuttgart).

Di samping pemain seperti Kante dan Makelele, sebenarnya lebih banyak bermunculan pemain setipe namun hanya mahir mengintersep bola ditambah kemampuan memulai serangan. Peran-peran tersebut dimainkan oleh Emre Can (Liverpool), Mousa Dembele (Spurs), Sami Khedira (Juventus), Grzegorz Krychowiak (West Bromwich Albion), Ander Herrera (Manchester United), Asier Illaramendi (Real Sociedad), Arturo Vidal (Bayern Muenchen), Yohan Cabaye (Crystal Palace), Milan Badelj (Fiorentina), Naby Keita (RB Leipzig), dan masih banyak lagi. Walaupun begitu mereka adalah tipe gelandang yang harus punya tandem, entah itu dalam formasi 4-2-3-1 atau 4-3-3.

Yang jelas munculnya pemain-pemain dengan tipe berbeda tersebut menunjukkan bahwa Makelele adalah talenta istimewa yang pernah dimiliki sepakbola Prancis. Baru Kante yang dianggap mewarisi kehebatannya. Oleh karena itu, setelah Kante, kita tidak tahu kapan lagi ada pemain yang cukup spesial untuk benar-benar layak disejajarkan dengan Makelele, tanpa embel-embel "The Next" atau "The New".

Baca juga: Menghargai Kante, Menghargai Pertahanan

Cerita karier Makelele lainnya bisa ditonton di video berikut

Komentar