Gudang Bakat, Gudang Masalah

Backpass

by M. Rifky Herlanda P.

M. Rifky Herlanda P.

Bola adalah pacar.

Gudang Bakat, Gudang Masalah

Ravel Morrison tidak kalah dari rekan satu angkatannya, Paul Pogba. Ia salah satu pemain muda dengan masa depan paling cerah di tim Manchester United yang menjuarai FA Youth Cup 2011.

Jalan masuk Morrison ke tim muda United tak umum. Sementara yang lain mendaftar, ia menerima beasiswa. Morrison, pemain kelahiran 2 Februari 1993, direkrut langsung oleh pemandu bakat United, Phil Brogan, karena dianggap memiliki kecakapan komplet.

Dalam diri Morrison sudah ada semua yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pesepakbola: keseimbangan yang baik, lari yang cepat, visi bermain yang luar biasa, kedua kaki yang sama kuat, umpan yang tepat dan jeli, serta insting mencetak gol yang tajam.

Legenda United, Paddy Crerand, pernah mengatakan bahwa Morrison adalah pemain muda terbaik yang pernah ia lihat setelah Geoge Best. Crerand cukup percaya diri dengan penilaiannya karena ia menonton nyaris semua pertandingan Morrison sebagai bagian dari pekerjaannya di MUTV.

Morrison, singkatnya, pemuda yang sangat menjanjikan. Namun sementara Pogba kini sudah memainkan peran kunci di United, Morrison nyaris tak terdengar.

Pemuda Bermasalah

"Ravel Morrison bisa dibilang salah satu contoh paling menyedihkan. Ia memiliki bakat alami sebesar pemain muda mana pun yang pernah kami datangkan, namun ia terus membuat masalah," ujar Alex Ferguson menyatakan kecewanya.

"Menyakitkan sekali ketika harus menjualnya ke West Ham pada Januari 2012, karena sebenarnya ia bisa menjadi pemain yang sangat fantastis. Tapi, setelah beberapa tahun, masalah yang ia buat di luar lapangan terus meningkat, dan pada akhirnya tidak ada pilihan selain harus memutus tali menyulitkan ini," tambah Ferguson yang menilai Morrison salah satu pemain muda dengan bakat alami terbaik yang pernah ia rekrut.

Begitu banyak sanjungan untuk Morrison tidak membuat ia semakin termotivasi untuk membuktikan diri pantas menerima semua itu. Semua kemampuan yang ia miliki untuk menjadi pemain terbaik di dunia seakan tidak ada gunanya. Semua itu sia-sia karena perilakunya.

United sendiri bukannya menyerah begitu saja. Pihak klub mendukung Morrison saat ia dinyatakan bersalah karena mengintimidasi saksi perampokan dengan senjata tajam. United juga membela Morrison saat sang pemain dinyatakan bersalah melakukan tindak kekerasan kepada kekasih dan ibu kekasihnya.

Masalah-masalah juga ditimbulkan Morrison di lingkungan klub. Ia mengutil barang-barang rekan-rekannya. Salah satunya adalah mengambil sepatu rekannya, untuk diberikan kepada kawan-kawannya. Ia pun sempat diinterogasi oleh Rio Ferdinand karena kelakuan macam itu, ketika sang bek senior United kehilangan jam tangan.

Pada akhirnya, tak semua tingkah Morrison dimaklumi. Ferguson pun sempat heran ketika Morrison meminta gaji 15 ribu paun per pekan, padahal ketika itu ia sudah membuat beberapa masalah. Morrison juga sering melakukan tindakan indisipliner; Ferguson adalah pelatih yang mengutamakan disiplin dari pemainnya.

Selalu Mengecewakan

Ravel Morrison yang dipromosikan ke tim utama langsung oleh Alex Ferguson tidak bisa membuktikan diri. Ia malah membuat banyak masalah. Saking banyaknya, Ferguson pun melepas sang pemuda berbakat ke West Ham United.

Saat itu West Ham dimanajeri Sam Allardyce. Sebelum kepindahan Morrison, Ferguson sempat berkata kepada Allardyce bahwa apabila ia mampu merubah sikap Morrison, West Ham akan memiliki pemain yang sangat fantastis.

Mendapatkan gaji sebesar 20 ribu paun di West Ham tak kunjung membuat Morrison tampil layaknya pemain bagus. Karena tidak menunjukkan performa sesuai gaji yang ia terima, Morrison dipinjamkan ke Birmingham City yang, seperti West Ham, juga bermain di divisi Championship. Sepanjang musim 2012/13, Morrison tampil dalam 27 pertandingan Championship; mencetak tiga gol dan tiga asis.

Setelah cukup mendapat tempat di Birmingham, Morrison kembali berulah. Ia sempat berselisih dengan Lee Clark dan itu membuat masa peminjamannya tidak diperpanjang oleh Birmingham. Ia kembali ke West Ham.

Pada kesempatan keduanya di West Ham, Morrison tampil dalam 16 pertandingan. Lagi dan lagi, ia berulah. Morrison kedapatan merokok dan mabuk-mabukan bersama kawan-kawan terdekatnya. Akibatnya, ia kembali dipinjamkan, kali ini ke Queens Park Rangers (QPR), pada Januari 2014.

Harry Redknapp, manajer QPR saat itu, ingin mempermanenkan status Morrison. Namun sang pemain pindah ke Cardiff City. Alih-alih cemerlang, Morrison kembali membuat ulah. Ia mengunggah foto dirinya memegang botol minuman keras. Itu terjadi sebulan setelah Morrison terbukti melakukan tindak kekerasan terhadap kekasih dan ibu kekasihnya.

Karena ulahnya itu, ia dikembalikan ke West Ham setelah hanya bertahan enam bulan saja. Pada musim 2014/15, ia dilepas West Ham dengan status bebas transfer. Semusim jeda, Morrison bergabung dengan Lazio pada awal musim 2015/16.

Dua tahun di Italia, Morrison hanya memainkan delapan pertandingan. Karena tidak nyaman, ia sempat membuat unggahan di Twitter dengan kata kata, “Januari….” dan karena itu ia ramai diperbincangkan akan pindah oleh media-media Italia. Benar saja: Morrison langsung dipinjam kembali ke QPR, dan hanya memainkan lima pertandingan.

Morrison kini membela klub Liga Meksiko, Atlas FC. Sejauh ini ia telah memainkan 16 pertandingan dan mencetak empat gol bersama klub barunya.

(pik)

Komentar