Ivy Faria, Titik Balik Kehidupan Romario

Backpass

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Ivy Faria, Titik Balik Kehidupan Romario

Brasil merupakan gudangnya pesepakbola hebat. Ratusan hingga mungkin ribuan pesepakbola dengan talenta luar biasa lahir di sana. Dari sederet nama pesepakbola hebat asal Brasil, muskil rasanya mengesampingkan sosok bernama Romario de Souza Faria – yang hari ini, 29 Januari, berulang tahun.

Romario adalah seorang legenda sepakbola dengan segudang prestasi, baik di level klub maupun tim nasional. Tapi ia tak semata dikenal karena prestasi dan kemampuan olah bolanya yang menawan. Lebih dari pada itu, ia juga dikenal karena sikapnya yang kontroversial dan cenderung seenaknya.

Romario berlidah pedang. Kata-katanya begitu tajam menyindir apa yang tak ia sukai. Bahkan, perseteruan panjangnya dengan Pele pun berhulu dari perang kata-kata. Selain itu, ia juga dikenal karena kegilaannya pada ingar-bingar kehidupan malam. Baginya, kehidupan malam adalah teman terbaik, dan menjadi energinya untuk tampil impresif di pertandingan.

"Jika saya tidur terlalu sering, maka saya tidak akan bisa mencetak gol. Itulah sebabnya saya sering keluar malam. Dunia malam adalah teman terbaik saya. Ketika saya merasa senang, maka saya selalu mencetak gol."

Mendiang Sir Bobby Robson pernah dibuat pusing bukan kepalang karena kebiasaan Romario yang menggilai dunia malam. Romario sering berpesta pada Jumat malam, tidak peduli bila keesokan harinya ia harus bermain dalam sebuah pertandingan. Awalnya Robson sering menegur pemainnya itu karena kebiasaan buruknya. Namun pada akhirnya Robson pun menyerah dan seolah membiarkan Romario melakukan apa yang ia suka asal tak mengganggu performanya di lapangan.

"Tidak ada yang mengendalikan kehidupan pribadinya. Untuk Romario, Jumat malam adalah malam pesta, bahkan jika kita bertanding keesokan harinya. Alkohol bukanlah masalahnya - dia pria Coca-Cola - tapi dia akan bertahan sampai pukul empat pagi dan tidur seharian sebelum pukul 7.30 malam,” tulis Robson dalam buku autobiografinya, dilansir dari The Guardian.

“Kami akan menerima telepon dari orang-orang yang mengatakan `Romário sudah keluar semalaman. Dia pergi dari sini jam empat `. Dia akan berdansa, mengobrol, bertemu dengan seorang wanita lokal, dan kemudian tidur seharian, sebagai pemulihan kondisi fisiknya sebelum pertandingan.”

Namun Robson tak menampik bahwa Romario merupakan pemain andalannya di lini depan. Bisa dibilang, bagi Robson, Romario tak ubahnya lumbung frustasi sekaligus lumbung gol bagi PSV, tim yang Robson tukangi setelah meletakkan jabatan sebagai pelatih timnas Inggris.

“Ada hari-hari di mana ia secara menyedihkan sangat malas. Tapi jujur saja, dia adalah finisher yang sangat luar biasa. Dia bisa membuat bola melewati kiper dari sudut yang akan membuat Anda bertanya: `Bagaimana dia melakukan itu?’.”

Titik balik kehidupan Romario setelah pensiun

Selama aktif menjadi pesepakbola, kesan kontroversial seakan selalu mengikuti ke mana Romario pergi. Namun semua berubah saat Romario gantung sepatu. Kehidupannya setelah pensiun dari dunia sepakbola berbalik 180 derajat.

Karier sepakbola Romario berakhir pada 2009 lalu di klub Brasil, America FC. Saat itu ia memutuskan gantung sepatu di usia 43 tahun, dengan catatan 1.000 gol yang dikemas sepanjang kariernya. Setelah pensiun, Romario banting stir menjadi politikus di Brasil. Pada pemilihan umum 2010, ia terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Sosialis Brasil.

Menjadi wakil rakyat, Romario menyadari besarnya tanggung jawab yang ia emban. Perlahan, ia mulai belajar untuk menjadi pribadi yang lebih disiplin terhadap waktu. Hasilnya, ia berhasil mengubah kepribadiannya menjadi lebih rajin. Romario yang sering terlambat atau mangkir latihan itu kini telah menjadi wakil rakyat paling disiplin dengan tingkat kehadiran paling sempurna di antara anggota parlemen lainnya.

Tidak hanya itu, Romario pun telah bertransformasi menjadi sosok yang lebih toleran dan peduli terhadap sesama. Ia kerap aktif dalam kegiatan sosial. Saat ini, ia dikenal sebagai juru kampanye yang menyuarakan hak-hak penyandang disabilitas.

Dalam sebuah wawancara bersama BBC, Romario mengungkapkan bahwa pada awalnya ia tidak pernah berpikir untuk menjadi politikus. Namun kelahiran anak keenamnya, Ivy Faria, yang menderita down syndrome telah menggugah hatinya untuk berpaling dari dunia yang telah membesarkan namanya.

Romario dan putirnya, Ivy Faria. Sumber: Meio Norte

Faktor finansial bukan alasan utama Romario memilih terjun ke dunia politik. Lebih dari pada itu, misinya terjun ke dunia politik adalah untuk memobilisasi hak-hak penderita down syndrome.

"Ketika saya berhenti menjadi pemain sepak bola, memang benar bahwa politik bahkan tidak masuk dalam pertimbanganku. Lalu delapan tahun yang lalu putriku lahir dengan down syndrome. Saya mulai meluangkan waktu bersama orang tua, saudara dan teman orang-orang yang menderita down syndrome. Saya mulai menyadari tidak ada orang yang mewakili orang-orang ini dalam dunia politik, jadi saya memutuskan untuk mencalonkan diri."

Secara tidak langsung, Ivy, telah menjadi titik balik dalam kehidupan Romario. Kehadiran Ivy telah membentuk Romario menjadi sosok yang lebih toleran. Lebih penting, Ivy pun telah memberikan pukulan telak kepada ayahnya itu untuk lebih menghargai kehidupan yang telah diberikan Sang Pencipta.

"Ivy adalah hadiah dalam kehidupan saya. Saya lebih bahagia, lebih sabar dan toleran. Saya lebih mengerti hidup. Saya melihat beberapa orang tua anak-anak dengan down syndrome berusaha menyembunyikan anak mereka, mereka tidak membicarakan hal itu. Saya ingin menunjukkan bahwa itu bukanlah sikap yang bagus," kata Romario kepada surat kabar Brasil, O Globo, pada 2005 lalu.

Romario tidak hanya vokal menyerukan hak-hak penderita down syndrome, namun kehadirannya di parlemen pun tak ubahnya wakil bagi penderita disabilitas secara keseluruhan. Pada 2014 lalu, saat Brasil tengah bersolek untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia, Romario lantang bersuara agar komite penyelenggara Piala Dunia 2014 memerhatikan akses menyaksikan pertandingan untuk kaum disabilitas.

Tak segan, Romario pun mengancam untuk menyuarakan penolakan Brasil sebagai tuan rumah Piala Dunia, bila komite penyelenggara Piala Dunia 2014 tak memberikan akses dan fasilitas yang layak bagi penyandang disabilitas menikmati secara langsung pertandingan Piala Dunia di stadion.

***

Pada akhirnya, Romario tetap menentang habis-habisan gelaran Piala Dunia 2014 yang menurutnya telah membuat masyarakat Brasil sengsara. Brasil setidaknya menghabiskan dana sekitar 2 miliar dolar AS untuk mempersiapkan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia 2014.

Romario menentang penghamburan uang yang sebagian besar didapat dari hasil pajak yang dibayar masyarakat Brasil. Menurutnya "Piala dunia akan menjadi perampokan terbesar dalam sejarah Brasil.”

Pada Desember 2017, Romario mengumumkan pencalonan dirinya sebagai Presiden Federasi Sepakbola Brasil (CBF), menggantikan Marco Polo del Nero, yang diberhentikan sementara oleh FIFA.

Pemberhentian sementara Del Nero terkait kasus korupsi yang konon menjadi kasus korupsi terbesar dalam sejarah sepakbola dunia. Tidak hanya Del Nero, kasus korupsi tersebut pun menjerat dua mantan Presiden CBF sebelumnya, Ricardo Teixeira dan Jose Maria Marin.

Dalam kampanyenya di bursa pencalonan Presiden CBF, Romario menyerukan pemberantasan korupsi dalam tubuh CBF.

(pik)

Komentar