Epos Gascoigne yang (Seharusnya) Belum Boleh Tamat

Backpass

by Marini Saragih

Marini Saragih

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Epos Gascoigne yang (Seharusnya) Belum Boleh Tamat

Seorang pesepakbola akan dipuja-puja sebagai pahlawan jika ia menggila di atas lapangan. Namun ia akan dicampakkan jika menggila di luar lapangan.

Sebagai mantan pesepakbola yang dulu bermain untuk Tottenham Hotspur dan tim nasional Inggris pada era 90-an, Paul Gascoigne pernah menggila baik di atas maupun di luar lapangan. Ia benar-benar paham bagaimana rasanya diguyur pujian sebagai pahlawan maupun disingkirkan karena dunia medis berkeyakinan bahwa seorang penderita gangguan mental adalah orang yang harus menepi sejenak dari lingkungannya.

Piala Dunia 1990 barangkali menjadi penanda awal dari epos seorang Paul Gascoigne. Pada laga yang memperebutkan tiket final Piala Dunia 1990, Inggris tertinggal 0-1 dari lawannya, Jerman Barat, berkat gol Andreas Brehme. Gary Lineker yang pada perhelatan Piala Dunia 1986 menjadi pencetak gol terbanyak berhasil menyamakan kedudukan pada menit ke-80. Pertandingan pun dilanjutkan pada babak tambahan.

Gascoigne, yang sudah mengantongi kartu kuning saat bertanding melawan Belgia di babak perdelapan final,  melanggar pemain Jerman Thomas Berthold. Pelanggaran tersebut membuat wasit asal Brasil Jose Roberto Wright menghadiahinya dengan kartu kuning.

Bagi Gascoigne muda, kartu kuning ini adalah kengerian yang teramat sangat, sebuah kengerian yang membuatnya menangis di tengah lapangan. Kalaupun Inggris berhasil mengalahkan Jerman Barat, kartu yang lazimnya berukuran 12 x 6 cm ini bagaikan kunci yang menutup pintu-pintu kesempatannya untuk ikut bertanding di partai final.

Kartu kuning, akan seperti apapun hasilnya, adalah perihal yang wajar dalam sepakbola. Di atas lapangan, bola harus dikendalikan sekuat-kuatnya. Bila ia di bawah kendalimu, ia akan berpihak kepadamu. Ia akan patuh saat kepala atau kakimu memerintahkan ke mana ia harus bergerak, lantas menghadiahimu kemenangan saat gelindingnya berhenti di gawang kesebelasan yang menjadi lawanmu.

Namun sebaliknya, bola dapat berubah menjadi begitu liar. Bila terlena sejenak, ia akan membikin gelar juara sebagai angan-angan belaka. Ia bisa membuatmu tertimpa malu yang bukan kepalang hebatnya. Agaknya perihal inilah yang diyakini Gascoigne beberapa detik sebelum pelanggaran yang membuatnya diganjar kartu kuning itu terjadi.

Dibandingkan menganggapnya sebagai pesepakbola bau kencur (tahun 1990, Gascoigne baru berusia 23 tahun) yang labil saya lebih suka menganggapnya sebagai antinomi stereotip yang melekat pada sepakbola Inggris. Di dalamnya kita mengenal budaya hooligan--walaupun fenomena hooligan tidak hanya ada di Inggris , kick and rush yang nyatanya belum benar-benar hilang, ataupun pesepakbola yang gemar marah-marah saat diganjar kartu oleh wasit.

Tangisan Gascoigne waktu itu melahirkan dua persepsi. Tangisan yang terlihat sebagai tangisan remaja yang tak siap dengan kekalahan dan tangisan seorang pesepakbola yang sebegitu inginnya ikut bertanding membela negaranya. Namun persepsi apapun yang diterima, masyarakat Inggris tetap menjadikannya sebagai pahlawan.

Jika tangisan itu membuatnya terlihat sebagai anak yang cengeng, maka pada hari itu juga ia menjadi pahlawan yang cengeng. Jika tangisan pada menit ke-99 itu berarti penolakannya terhadap sepakbola berperangai keras, maka pada hari itu juga itu sudah dinobatkan sebagai pahlawan yang menolak perangai sepakbola yang demikian.

Namun semengagumkan apapun seorang pahlawan, agaknya kita tak sadar kalau cerita kepahlawanan sering kali dipaksa berakhir oleh satu-dua hal yang sebenarnya sah-sah saja terjadi pada setiap orang. Kekaguman akan satu-dua hal yang berhasil dibuatnya memantik kesenangan kita untuk menjadikannya sebagai pribadi yang sempurna. Gascoigne pun pernah membuat dirinya diganjar kartu kuning lewat cara konyol.


Diantar Pak Polisi (Sumber gambar: ok.co.uk)

Hari-hari Paul Gascoigne sebagai mantan pesepakbola mengenyahkan label pahlawan yang sempat melekat padanya. Ia semakin karib dengan alkohol, lantas bergulat mati-matian dengan depresi yang diidapnya, yang konon semakin menjadi-jadi pasca meninggalnya sang ayah. Sosok pahlawan itu menjelma menjadi pria ugal-ugalan bermental labil.

Ketidaksanggupannya untuk hidup berjarak dengan alkohol yang diikuti dengan keputusan untuk menenggak 40 botol bir dalam waktu 13 jam, membikin para orang tua memanjatkan doa agar kelak anak-anaknya tak tumbuh menjadi pribadi sepertinya. Depresi membuat Paul Gascoigne sebagai pribadi yang begitu meledak-ledak, 50 ocehan dalam waktu 16 jam di akun media sosialnya (21/03/2015) pun pada akhirnya melahirkan cibiran dan olok-olok.

Apa boleh buat, jika depresi dapat diartikan sebagai ketidakberdayaan dalam menanggung kesedihan, maka epos seorang Gascoigne yang juga bercerita tentang tendangan bebas legendaris pada partai semi final Piala FA 1991 antara Spurs dan Arsenal itu dipaksa berakhir karena ketidakberdayaan yang demikian, lantas diganti menjadi cerita tentang pesohor yang gagal. Kesedihan menjadi perihal yang haram bagi sepenggal epos--walaupun jika diingat-ingat lagi, epos adalah kisah-kisah yang tak bisa lepas dari kepayahan untuk menanggung sesuatu.

Pada akhirnya, di hari ulang tahun Gascoigne ini saya bukannya hendak merayakan drama ataupun emosi yang meledak-ledak. Saya tak bermaksud mengungkit-ungkit kesedihan yang sudah berumur. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa alih-alih dianggap sebagai pahlawan, pesepakbola lebih sering dijadikan, mengutip seorang penulis, sosok yang keramat. Kita yang menikmati sepakbola menjadi semacam penganut aliran kepercayaan yang menuhankan seorang pesohor lapangan hijau, yang gemar mendaulatnya supaya menjadi pribadi paripurna yang tak boleh berbuat salah, meluapkan amarah apalagi menanggung kesedihan.


Baca juga: Gascoigne Rela Dibayar 8 Pounds untuk Bayar Sewa Rumah

Sumber gambar: express.co.uk

Komentar