Lima Panenka Terburuk di Dunia

Klasik

by Evans Edgar Simon

Evans Edgar Simon

Death. Glory. Rock n Roll. Kontributor Pandit Football Indonesia.

Lima Panenka Terburuk di Dunia

Sepakbola bukan hanya sekadar tentang kemenangan. Bagi sebagian orang, melakukannya dengan gaya adalah hal yang sama sakralnya. Apalah arti kemenangan jika hanya parkir di atas lapangan, bukan?

Khusus dalam skenario tendangan penalti, ada sebuah trik yang bisa membuat Anda mencetak `dua sukses` (satu menghasilkan gol dan satu lagi membuat kiper lawan malu) yakni `Tendangan Panenka`. Kiper yang sudah terlanjur serius akan melompat heroik hanya untuk menerima nasib bahwa Anda sukses mengelabuinya meski dengan tendangan `setengah hati`.

Bagaimanapun, `Tendangan Panenka` ini bukan hanya sekadar untuk gaya-gayaan. Ketika pertama kali dilakukan oleh Antonin Panenka pada final Piala Eropa 1976, ia meyakini tendangannya akan berhasil 1000%. Ia yakin karena belum pernah ada yang melakukannya. Kiper Jerman Barat, Sepp Maier, dan seluruh dunia tidak tahu ada tendangan penalti semacam ini.

Sudah banyak orang yang mencoba meniru tendangan Panenka. Ada yang sukses, tetapi tidak sedikit juga yang justru mendapat malu. Berikut adalah lima momen pilihan ketika Panenka gagal berbuah gol:

1. Ali Adnan (Vancouver Whitecaps) vs Los Angeles Galaxy

Kita mulai dari yang teranyar, yakni laga lanjutan Major League Soccer antara Vancouver Whitecaps vs LA Galaxy di Stadion BC Place pada 6 April 2019.

Tuan rumah mendapatkan hadiah penalti ketika laga baru berjalan satu menit. Ali Adnan, yang baru didatangkan dari Udinese dengan status pinjaman pada Maret, dipercaya menjadi eksekutor.

Mencetak gol perdana dengan Panenka tentu memberikan kesan istimewa. Hal itu yang mungkin membuat Adnan memutuskan untuk melakukannya. Barangkali juga, ia ingin menyaingi bintang LA Galaxy, Zlatan Ibrahimovic, yang baru mencetak panenka secara meyakinkan lima hari sebelumnya.

Dengan ancang-ancang penuh semangat, pemain asal Iran (ralat: Irak) tersebut sebenarnya berhasil mengecoh kiper David Bingham yang menjatuhkan diri ke arah kiri gawang. Nahas, bola hasil cungkilannya tidak cukup memiliki tenaga untuk melewati garis gawang sebelum dihentikan oleh tangan Bingham. Peluang mencetak gol cepat pun melayang dan Whitecaps kalah 0-2.

2. Luis Seijas (Venezuela) vs Argentina

Venezula tengah tertinggal 0-2 ketika laga Copa America Centenario melawan Argentina memasuki menit ke-42. Maka, peluang untuk memperkecil ketertinggalan tentu tidak boleh disia-siakan sebelum turun minum.

Peluang tersebut mereka dapatkan setelah kiper Argentina, Sergio Romero, mencoba memotong umpan silang secara ceroboh. Bukannya mengamankan bola, ia malah menjegal Josef Martinez dengan kepalanya.

Kiper Manchester United tersebut mencoba `membela diri` dengan memegangi kepala, seakan-akan ia adalah korban. Namun, penebusan yang sesungguhnya adalah ketika Luis Seijas mengeksekusi penalti dengan Panenka.

Romero, yang entah karena sudah mengetahui niatan Seijas atau terlalu pusing akibat kepalanya menabrak lutuh Martinez, bergeming di tengah gawang. Bola meluncur mulus ke pelukan. Tangan Romero mengepal di udara, giliran Seijas yang memegangi kepala.

3. Li Chunyu (Shijiazhuang Ever Best) vs Guangzhou R&F

Kepopuleran Panenka telah mendunia. Tragedi kegagalannya pun sampai hingga benua Asia, tepatnya dalam laga lanjutan Chinese Super League pada 2016.

Siapa yang tidak senang mendapatkan penalti di menit ke-89 saat skor sama kuat 2-2? Apalagi, tim Anda berada di dasar klasemen. Situasi inilah yang didapatkan oleh Shijiazhuang Ever Best ketika melawan Guangzhou R&F.

Li Chunyu mungkin berpikir untuk mencetak gol kemenangan dengan penuh gaya. Namun, yang didapatkan justru adalah malu. Eksekusi Panenka-nya jauh dari kata sempurna. Kiper Guangzhou hanya butuh satu tangan untuk menahan laju bola.

Beruntung, Shijiazhuang tetap memenangi laga dengan skor 3-2 berkat gol yang dicetak pada masa injury time.



4. Romario Balde (Benfica U-19) vs Shakhtar Donetsk U-19

Tidak yang tua, tidak yang muda. Semua ingin mencoba Panenka. Salah satunya adalah Romario Balde dalam laga UEFA Youth Cup 2015.

Gol dari Balde akan membuat Benfica unggul 2-0. Membuat mereka berada di atas angin untuk melaju ke semifinal. Sayang, idenya untuk melakukan Panenka berakhir tragis.

Bola cungkilan Balde naik mengenai lututnya sendiri, sebelum bergulir secara pelan ke arah gawang dan diselamatkan oleh kiper lawan. Shakhtar kemudian berhasil menyamakan kedudukan dan memenangi pertandingan melalui babak adu penalti.

Pemain yang saat ini dipinjamkan oleh Lechia Gdansk ke Academica Combria tersebut tidak bisa menahan kecewa (dan malu) ketika Benfica dipastikan tersingkir. Guardian melaporkan ia tiduran di atas lapangan dan menangis sejadi-jadinya. Sebuah respons yang tentu mudah dipahami.

5. Francesco Totti (AS Roma) vs Lecce

Hanya ada segilintir nama yang identik dengan tendangan Panenka setelah Antonin Panenka sendiri: Zinedine Zidane, Andrea Pirlo, dan tak ketinggalan Francesco Totti.

Ketika baru berusia 24 tahun, Totti membuat dunia berdecak kagum. Ia sukses mengelabui kiper Belanda, Edwin van Der Sar. Sebuah aksi yang terbilang nekat mengingat dilakukan dalam laga sekrusial semifinal Piala Eropa. Selepas itu, Panenka menjadi cukup identik dengan Totti.

Bagaimanapun, Totti tidak selalu berhasil melakukan Panenka. Ada kalanya ia gagal, seperti saat melawan Lecce dalam laga lanjutan Serie A 2004/05. Tendangannya dibaca dengan mudah oleh kiper Ivan Pelizzoli.


Jika kalian ingin melakukan tendangan penalti Panenka tapi tidak ingin gagal seperti lima momen di atas, simak cerita dan sketsa adegan Rochi Putiray tentang cara menendang penalti menggunakan teknik Panenka:


foto: Twitter/@MLS

Komentar