Antara Pertandingan Sepakbola atau Salat Magrib

Editorial

by Dex Glenniza 116130

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Antara Pertandingan Sepakbola atau Salat Magrib

Lanjutan dari halaman sebelumnya

Membandingkan dengan negara penduduk muslim besar lainnya

Melihat Indonesia memiliki 53 kasus pertandingan yang berbentrokan dengan waktu magrib sepanjang musim lalu, ditambah dua lagi yang sudah terjadi di Piala Presiden kali ini, dan dua lagi yang akan/belum terjadi di sisa Piala Presiden, kita mungkin jadi bertanya mengenai apa yang terjadi di negara berpenduduk muslim besar lainnya.

Setelah saya melihat dan membandingkan dengan 15 negara lainnya, ternyata kasus ini bervariasi.

Tabel perbandingan 16 negara berpenduduk muslim yang besar mengenai waktu sepak mula yang berbentrokan dengan waktu magrib

Dari 15 contoh negara yang saya ambil, hanya lima negara yang mengatur jadwal pertandingan di kompetisi tertinggi sepakbola mereka yang tidak berbentrokan dengan waktu magrib, yaitu India, Nigeria, Arab Saudi, Suriah, dan Malaysia.

Lima negara di atas biasanya mengatur jadwal sepak mula untuk terjadi setelah magrib atau jauh sebelum magrib.

Sementara tiga negara yaitu Turki, Mesir, dan Maroko, masing-masing hanya memiliki tidak lebih dari dua pertandingan yang berbentrokan dengan magrib selama Februari dan Maret 2017. Hal ini bisa saja terjadi karena keterpaksaan alih-alih karena jadwal yang sudah biasa, misalnya biasa bermain pada pukul 18:00.

Sementara tujuh negara sisanya sebenarnya memiliki variasi waktu sepak mula yang berbentrokan dengan waktu magrib, dengan asumsi seperti di atas, yaitu satu pertandingan yang bisa memakan waktu 120 menit.

Namun, jika kita hanya melihat waktu yang benar-benar krusial bentroknya dengan magrib (ditandai dengan tulisan berwarna merah, yaitu dengan asumsi waktu sepak mula maksimal 30 menit sebelum waktu magrib), kita hanya menemukan empat negara saja, yaitu Iran (dengan memiliki waktu sepak mula 17:50), Uni Emirat Arab (17:50), Kuwait (18:20), dan Bahrain (17:15).

Indonesia sendiri secara rata-rata di musim lalu, tidak memiliki waktu yang bentrokannya cukup krusial dari waktu magrib jika kita melihat tabel di atas. Tapi bukan berarti operator liga atau regulator di PSSI bisa melupakan masalah ini untuk ke depannya, bahkan kalau bisa termasuk di dua pertandingan Piala Presiden ke depannya.

Kita mungkin bisa mengambil masalah yang pernah terjadi di Italia atau di Eropa, ketika pertandingan menyesuaikan waktu orang beribadah ke gereja.

Sorotan terhadap fasilitas tempat ibadah di stadion

Sebenarnya bentrokan waktu pertandingan sepakbola dengan waktu magrib, atau waktu salat manapun, bisa dihindari jika setiap stadion memiliki kelengkapan infrastruktur yang memadai, seperti tempat ibadah, masjid, atau musala.

Pada empat peraturan FIFA dan dua peraturan AFC yang berkaitan dengan stadion atau infrastruktur, tidak ada pembahasan mengenai syarat pengadaan tempat ibadah ini. Begitu juga dengan peraturan dari PSSI.

Dalam penelitian tesis saya yang saya lakukan tahun lalu (jadi saya tidak tahu persis kondisi pada tahun ini, ya) yang melibatkan langsung Gelora Bandung Lautan Api dan Stadion Si Jalak Harupat, saya menemukan beberapa masalah dari pengadaan tempat ibadah, terutama mengenai kebersihan, ketersediaan air, alat salat, dan akses.

Di Si Jalak Harupat misalnya, terdapat musala yang hanya bisa diakses dari tribun VIP dan VVIP, dengan luas sekitar 3 x 3,5 m beralaskan lantai, hanya memiliki tiga sajadah (alas salat), tidak ada sarung dan mukena, serta hanya dua wastafel yang airnya sangat kecil. Begitu juga dengan Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), hanya di GBLA musalanya lebih luas meskipun terletak di “ruang sisa” tempat sirkulasi.

Tidak heran mungkin bagi sebagian penonton mengurungkan niat mereka untuk beribadah. Mungkin penonton akan berpikir sebaiknya dijamak (digabungkan dengan waktu salat lain) saja. Tapi kembali ke masalah agama, sudah memenuhi syarat untuk menjamak salat atau tidak?

Alangkah baiknya sebenarnya ada masalah bentrok magrib ini ataupun tidak, stadion-stadion di Indonesia yang memiliki mayoritas penduduknya beragama Islam, menyediakan fasilitas tempat beribadah yang sesuai.

Semuanya kembali ke diri masing-masing, karena meskipun misalnya sudah tersedia tempat ibadah dan/atau waktu sepak mula yang tidak bentrok dengan waktu salat, itu bukan jaminan juga kalau seorang pemeluk agama Islam akan menunaikan ibadah salat.

Baca juga: Pengaruh Sepak Mula bagi Penonton

***

Mengatur jadwal sepakbola itu memang sulit, ada banyak faktor yang menjadi pertimbangan, di antaranya adalah izin, keamanan, hak siar, dan lain-lain. Jika tidak ada waktu lain yang sesuai karena alasan tadi, paling tidak harus ada pertimbangan berupa infrastruktur dan sebagainya, seperti yang sudah disampaikan di atas.

Untuk beribadah atau tidak adalah hak masing-masing, tapi jangan sampai kita merampas (secara langsung maupun tidak langsung) hak orang lain untuk beribadah.

Setidaknya, yang harus kita lakukan adalah saling menghormati, melihat agama sebagai budaya misalnya. Apalagi di Indonesia, masalah yang menyinggung agama adalah masalah yang sensitivitasnya tinggi, sampai-sampai politik atau sepakbola saja bisa dikaitkan dengan agama.

Namun, semoga para pengambil keputusan di sepakbola Indonesia bisa mengedepankan sudut pandang muslim atau budaya yang ketimuran ke depannya, bukan justru terus menghamba pada rating televisi karena pukul 18:00 WIB adalah prime time yang menggiurkan.

Membentrokkan waktu salat, terutama magrib, dengan pertandingan sepakbola berpotensi membuat percikan konflik, apalagi Indonesia sekarang ini sedang marak saling melaporkan ke polisi. Bisa-bisa dilaporkan atas penistaan agama berjamaah kalau begini terus.

Komentar