Keinginan Jokowi, Keinginan Kita Semua

Editorial

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Keinginan Jokowi, Keinginan Kita Semua

“Sepakbola merupakan olahraga yang digemari berbagai kalangan masyarakat, juga bisa menyatukan kita, menyatukan bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, pemerintah akan terus memberikan perhatian untuk mempercepat pembangunan sepakbola nasional. Meski perlu dicatat juga, pembangunan cabang olahraga lain tetap dilanjutkan.”

Kalimat di atas diucapkan langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, Selasa kemarin, 24 Januari 2017. Ucapan tersebut dikeluarkan Jokowi, sapaan akrabnya, saat melakukan Rapat Terbatas untuk mempercepat kemajuan sepakbola Indonesia.

Pemerintah mempercepat kemajuan sepakbola Indonesia. Ya, Anda tidak salah membacanya. Presiden kita ingin sepakbola Indonesia lebih maju. Dan ini bukan ucapan semata. Jokowi begitu serius hendak membenahi sepakbola Indonesia, yang sudah lama kering prestasi.

Keseriusan tersebut dapat dilihat dari siapa saja yang hadir pada Rapat Terbatas tersebut. Tidak hanya Menteri Pemuda dan Olahraga dan Wakil Presiden RI saja yang hadir, menteri-menteri lain pun duduk bersama merumuskan rencana untuk mewujudkan keinginan Jokowi ini, yang juga sebenarnya keinginan masyarakat Indonesia.

Menteri Perekonomian, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Menteri Keuangan, Menteri BUMN, Menteri Agraria dan Tata Ruang, serta Menteri lainnya turut hadir dalam rapat yang dilaksanakan di Kantor Presiden tersebut. Serta tak lupa Ketua Umum KONI dan sosok yang paling penting di sepakbola Indonesia saat ini, Edy Rahmayadi, yang merupakan Ketua Umum PSSI.

Dari Rapat Terbatas ini, Jokowi terlihat tak main-main dalam percepatan pembangunan sepakbola Indonesia. Keinginannya tersebut hendak diselaraskan dengan aspek-aspek lain yang juga bisa mendukung percepatan ini. Inilah alasannya mengapa turut diundang pula menteri lain yang sebenarnya tak ada kaitannya dengan sepakbola, bahkan olahraga. Namun dari situ terlihat bahwa Jokowi benar-benar mempertimbangkan dengan matang rencana seperti apa yang harus dilakukan oleh Indonesia untuk percepatan ini.

Keinginan Jokowi ini berlandaskan apa yang ditunjukkan timnas Indonesia di Piala AFF 2016 lalu. Meski sempat vakum karena dihukum FIFA, namun timnas Indonesia cukup menunjukkan prestasi yang patut diapresiasi. Meski gagal menjadi juara, namun sepertinya Jokowi melihat adanya momentum dan potensi bagi sepakbola Indonesia untuk bisa lebih berkembang. Dan lebih dari itu, sepakbola juga bisa mempersatukan bangsa Indonesia.

Jokowi menyebutkan bahwa pemerintah sudah mendapatkan laporan, saran dan masukan dari PSSI terkait situasi sepakbola Indonesia saat ini. Dari situ, ada empat hal yang hendak dicapai dari hasil Rapat Terbatas ini; pembinaan usia muda, pembenahan total sistem tata kelola sepakbola Indonesia, pembenahan manajemen klub, serta penyiapan infrastruktur seperti stadion, tempat latihan, dan lapangan sepakbola untuk masyarakat umum.

“Yang pertama, saya minta pembinaan sepakbola dilakukan sejak usia dini. Jangan berharap sepakbola kita akan maju di tingkat regional maupun dunia jika pembinaan usia dini ini dilupakan. Oleh sebab itu di sini, kita mengundang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan juga Menteri Perguruan Tinggi,” kata Jokowi.

Hal ini sangat penting dilakukan. Kita tak bisa memiliki skuat timnas yang kuat jika kita melupakan pembinaan usia dini. Jepang misalnya, setiap sekolah baik itu sejak tingkat SD hingga Perguruan Tinggi memiliki klub sepakbola yang menjadi wadah untuk para pesepakbola muda mengasah kemampuannya. Bahkan jangan heran jika sangat banyak pesepakbola Jepang yang sudah berada di level pro begitu lulus tingkat SMA. Jokowi menggandeng Menteri Pendidikan agar tujuan tersebut bisa dilaksanakan.

Dalam beberapa tahun terakhir, pembinaan sepakbola muda tampak dilupakan oleh PSSI. Ini tentunya membuat pemberdayaan para pemain muda di usia 13 tahun hingga 21 tahun sangat terbatas. Inilah yang menghambat berkembangnya talenta-talenta muda Indonesia.

Baca juga: Belajar dari Jepang Soal Naturalisasi dan Pembinaan

“Yang kedua pembenahan total sistem dan tata kelola kompetisi sepakbola nasional agar lebih kompetitif, lebih berkualitas, yang mengusung fair play, karena sistem kompetisi yang baik akan memunculkan bibit-bibit pemain muda yang potensial dari berbagai daerah.”

Bersambung ke halaman berikutnya

Komentar