Rumput Stadion yang Berakar pada Mentalitas Bangsa

Editorial

by Dex Glenniza 27028

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Rumput Stadion yang Berakar pada Mentalitas Bangsa

Kita memang tidak boleh egois. Stadion sepakbola, apalagi di Indonesia yang dirancang untuk multifungsi (biasanya ditandakan dengan hadirnya trek atletik), tidak hanya diperuntukkan untuk menggelar pertandingan olahraga sepakbola saja.

Begitu juga, Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), tidak boleh egois. GBLA memang tidak menggelar satupun pertandingan sepakbola atau olahraga lainnya dari tanggal 17 September sampai 29 September 2016. Di antara dua tanggal tersebut adalah pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX di Jawa Barat.

Secara detil, hanya acara pembukaan pada 17 September 2016 dan acara penutupan pada 29 September 2016-lah GBLA dipakai. Selain dua tanggal tadi, GBLA tidak terpakai, meskipun tidak sepenuhnya “menganggur”.

Persiapan acara pembukaan (gladi resik) yang berlangsung jauh sebelum acara tersebut, sampai akhirnya penutupan, memaksa rumput lapangan GBLA untuk ditutup dengan grass cover berupa kayu, selama lebih dari satu bulan.

Jika Anda belum mengetahuinya, rumput yang sudah tertutup dari sinar matahari, oksigen, dan air selama lebih dari tujuh hari, sudah pasti akan mengalami kerusakan. Bahkan dengan grass cover teknologi tercanggih pun, rumput tetap akan mati jika sudah lebih dari sepekan.

Kemudian pertanyaannya adalah, apakah grass cover yang digunakan di GBLA merupakan jenis yang baik?

Sudah ketinggalan zaman

Sebelum tahun 1990-an, stadion juga sudah sering digunakan untuk menggelar acara non-olahraga dengan sorotan utama adalah konser. Acara pembukaan dan penutupan PON XIX bisa kita sejajarkan tingkatnya dengan sebuah konser.

Dahulu, rumput di atas lapangan stadion dilindungi dengan selimut atau karpet, yang kemudian diletakkan lapisan kayu di atasnya. “Saat ini hal tersebut sudah dianggap sangat kuno dan ketinggalan zaman,” kata Michael Deane, CEO Terraplas, salah satu merek grass cover terkenal dari Amerika Serikat.

Meskipun demikian, sampai hari ini memang belum ada teknologi grass cover yang bisa membuat rumput terus hidup jika tertutup selama satu pekan atau bahkan lebih. Para peneliti masih melakukan riset dengan grass cover menggunakan bahan yang transparan dan bisa dimasuki oleh udara (oksigen). Walaupun belum menemukan sistem yang sempurna, para peneliti optimis akan menemukannya dalam beberapa tahun ke depan.

Kembali ke kasus GBLA, panitia PON XIX menggunakan grass cover dengan bahan yang kuno tersebut, yaitu lapisan kayu yang diletakkan di atas tulangan-tulangan yang juga terbuat dari kayu.

Dengan menggunakan penutup berupa kayu, proses bongkar dan pasang bisa memakan waktu lebih lama, bisa lebih dari 24 jam. Sedangkan jika menggunakan grass cover sesuai spesifikasi, seperti yang Gelora Bung Karno (GBK) miliki, bisa memakan waktu lebih sebentar, yang jelas tidak sampai 24 jam.

Karena proses bongkar-pasang yang lama ini, maka, menurut dugaan kami, panitia tidak membongkarnya setelah pembukaan, membiarkan rumputnya tertutup terus sampai kemudian penutupan. Tidak heran rumput GBLA saat ini rusak parah.

Melihat kasus GBLA di atas, memesan grass cover yang sesuai spesifikasi bisa membutuhkan waktu yang panjang. Jika persiapan terlalu dekat, grass cover yang digunakanpun seadanya, seperti lapisan kayu.

Kami menduga panitia pelaksana acara pembukaan dan penutupan PON XIX tidak mempersiapkan dengan baik sehingga pada akhirnya menggunakan kayu.

Kemudian, entah dengan alasan apa, kami menduga hanya karena malas membongkar pasang, grass cover kayu tersebut tetap dibiarkan (tidak dibongkar atau sekadar diangkat) sampai rumput benar-benar rusak. Rusaknya rumput ini pada akhirnya menimbulkan konsekuensi biaya perbaikan sampai 400 juta rupiah.

Konsekuensi rumput yang rusak jika digunakan untuk acara lain

Ketika stadion dipakai untuk acara lain, terutama acara non-olahraga seperti konser, tentu ada konsekuensi seperti pada bagian utama stadion, yaitu rumput, sampai ke beberapa ruang di dalam stadion.

Misalnya dalam konser, ruang ganti pemain akan disulap menjadi tempat istirahat bagi artis atau untuk meletakkan peralatan. Tidak perlu pusing, hal ini ternyata direkomendasikan langsung oleh FIFA.

Lain halnya untuk urusan lapangan yang berhubungan langsung dengan rumput. FIFA menyatakannya dalam Football Stadiums: Technical recommendations and requirements: “Penggunaan rumput artifisial akan memudahkan, karena bisa langsung digunakan dan/atau dilapisi dengan lapisan tertentu agar rumput tidak rusak.”

Tanpa rumput artifisial, aktivitas acara di atas lapangan akan merusak rumput dan permukaan tanah. Rumput artifisial ini tidak harus rumput sintetis, tapi juga tetap rumput asli, hanya saja ditanam pada medium yang bukan tanah stadion.

Namun, banyak acara juga bisa diadakan di atas rumput alami tapi harus dilapisi dengan grass cover untuk waktu tertentu, seperti yang pernah dilakukan pada konser One Direction di Gelora Bung Karno pada Maret 2015.

Selain jenis rumput yang direkomendasikan oleh FIFA, ada beberapa aspek dalam menyiasati stadion yang digunakan untuk acara selain olahraga (bukan hanya sepakbola).

Perencanaan dalam perancangan stadion adalah faktor nomor satu yang juga dijelaskan dalam bab pertama di Football Stadiums: Technical recommendations and requirements”, yaitu “Pre-construction decision.

Faktor penjadwalan adalah faktor krusial dalam hal ini. Untuk kasus GBLA, mungkin kita bisa mencurigai penjadwalan yang tidak baik.

Kita bisa melihat, jadwal acara yang bahkan berselang dua sampai tiga hari bukan masalah yang terlalu serius asal rumput tetap dijaga kondisinya. Tetapi biasanya hal ini akan dihindari dengan sendirinya ketika penyusunan jadwal sudah baik, bukan hanya dari pihak yang berkaitan dengan olahraga, tapi juga dari pihak non-olahraga, seperti misalnya event organizer.

Rusaknya rumput tidak bisa ditoleransi, tapi..... Bersambung ke halaman berikutnya...

Komentar