Muhammad Ali, Tentang Menjadi Muslim, Perang, dan Guyonannya Terhadap Para Pesepakbola

Editorial

by Frasetya Vady Aditya 67776

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Muhammad Ali, Tentang Menjadi Muslim, Perang, dan Guyonannya Terhadap Para Pesepakbola

Joe Elsby Martin mungkin hanya berniat menghibur Cassius Clay Junior yang sepedanya dicuri orang. Alih-alih menggebuki sang pencuri, Martin malah bilang begini: “Kamu lebih baik belajar bela diri sebelum memulai perkelahian.”

Tangisan di malam gerimis pada 1954 itu menjadi awal berubahnya seorang Cassius Clay Junior. Pertemuannya dengan Martin, bahkan sempat membuatnya lupa akan sepeda Schwinn merah miliknya yang baru dicuri. “Pemandangan, suara, serta bau dari tempat latihan tinju membuatku amat gembira sampai aku lupa tentang sepeda (yang dicuri),” kenang Clay dalam otobiografinya, The Greatest: My Own Story.

“Ngomong-ngomong,” ucap Martin sembari menepuk pundak Clay, “Kami berlatih setiap malam, dari Senin sampai Jumat pukul enam sampai delapan. Ini surat pendaftarannya, siapa tahu kamu mau ikut.”

Ucapan Martin diresapi Clay dengan begitu dalam. Ia mulai berlatih setiap malam. Selang beberapa tahun kemudian, tak ada yang bisa mengalahkannya di atas ring tinju.

Cassius Marcellus Clay Junior, lahir di Louisville, pada 17 Januari 1942. Ibunya, Odessa, adalah seorang asisten rumah tangga, sementara ayahnya, Clay Sr., bekerja sebagai pelukis dinding gereja. Masa kecilnya dipenuhi oleh bayangan kekerasan ayahnya. Di sekolah, nilainya pun hanya bagus dalam urusan seni dan olahraga. Saat lulus dari SMA, ia menempati peringkat ke-376 dari 391 siswa.

Kekurangannya itu dibalas Clay dengan meraih medali emas pada Olimpiade 1960 di kelas light heavyweight. Clay mesti melawan ketakutannya untuk terbang atas bujukan Martin yang memintanya untuk “mempertaruhkan hidup”.

Keberanian Clay mempertaruhkan hidup, menjadi awal dari mulai beranjaknya nama Clay. Terlebih, ia dianggap menjadi “wakil” dari Amerika Serikat karena ketampanan, kharisma, dan berkulit hitam. Cerita selanjutnya dalam karier Clay dibalut dengan tinta emas.

Menjadi Seorang Muslim

Clay harus kembali “mempertaruhkan hidup” untuk kedua kalinya. Kali ini, tantangan itu berasal dari sebuah mesjid. Komunitas Nation of Islam atau yang sering disebut media sebagai “Black Muslims”, mengajaknya menjadi anggota. Clay pun mencari jawaban atas hidupnya di sana. Ia dimentori oleh Al Hajj Malik Al Shabazz atau populer disebut Malcolm X, seorang aktivis hak asasi manusia yang berkulit hitam dan juga muslim.

Ada nada sumbang di balik hijrahnya Clay menjadi seorang Islam. Clay dianggap tidak mencerminkan Islam melainkan organisasi Nation of Islam, yang justru menyebarkan kebencian terhadap kulit putih. “Saat Cassius Clay bergabung dengan Black Muslim, dia menjadi juara dari segregasi rasial dan itulah apa yang tengah kita lawan,” ungkap Martin Luther King.

Clay hijrah menjadi seorang Muslim Sunni pada 1975, bertahun lamanya setelah ia mengubah namanya menjadi Muhammad Ali. Menariknya, ucapannya berbanding terbalik dengan tujuan dari Nation of Islam, “Warna kulit tidak akan membuat seseorang menjadi iblis. Adalah hati, jiwa, dan raga yang dihitung. Apa yang ada di luar adalah dekorasi belaka.”

Soal nama, Ali tak ingin lagi disebut sebagai Cassius Clay. Dalam wawancaranya dengan ITN sebelum Olimpiade 1960, Ali sempat menjelaskan bahwa namanya berasal dari kakek buyutnya yang seorang budak di Kentucky.

“Cassius Clay adalah nama seorang budak. Aku tak memilihnya dan aku tak menginginkannya. Aku adalah Muhammad Ali,” ucap Ali, dikutip dari BBC.

Menolak Perang

foto: newstalk.com

Setelah menjadi Muslim, Ali mulai banyak berpikir. Ia bercerita bahwa ia pernah terdaftar sebagai calon tentara Angkatan Darat Amerika Serikat. Namun, ia tidak lolos karena dari tes diketahui bahwa IQ-nya hanya 78. “Saya bukan yang terpintar, tapi yang terhebat”.

Halaman berikutnya, Muhammad Ali dan Sepakbola

Komentar