Ma-FI(F)A!

Editorial

by Randy Prasatya

Randy Prasatya

Everything you can imagine is real.

Ma-FI(F)A!

Federal Bureau Investigation (FBI) dan otoritas pajak Amerika, yang bekerjasama dengan kepolisian Swiss, melakukan operasi yang begitu mengejutkan. FBI dan otoritas pajak Amerika menangkap beberapa pejabat FIFA. Penangkapan itu dilatar belakangi dugaan korupsi, penyuapan, dan pengelapan pajak yang dilakukan beberapa pejabat FIFA.

Pagi itu seluruh pejabat FIFA sedang berkumpul dalam rangka mempersiapkan kegiatan tahunan mereka. 29 Mei 2015 mendatang FIFA memang akan mengadakan kongres yang agenda utamanya pemilihan presiden. Bayangkan pagi musim panas yang cerah di Zurich tadi, para pemimpin FIFA sedang menikmati segelas kopi panas sembari tertawa-tawa kecil sebelum mereka melakukan obrolan serius satu sama lain.

Agak terdengar miris memang. Di sebuah hotel berbintang lima yang elegan, di saat pembicaraan satu sama lain akan menjadi serius, justru mereka harus dikepung penegak hukum yang mengenakan pakaian bebas. Penangkapan beberapa pejabat FIFA pun dilakukan dengan tenang dan dalam suasana damai -- sebagaimana dilaporkan The New York Times. Dalam laporannya, nama Eduardo Li Sanchez yang  digiring ke luar hotel terlebih dahulu.

Masih menurut The New York Times, penangkapan para petinggi FIFA terkait penyuapan di beberapa ajang sepak bola CONCACAF: kualifikasi Piala Dunia di zona CONCACAF, Piala Emas, Liga Champions CONCACAF, Copa America, dan juga Copa Libertadores.

Nama-nama tersangka tersebut seperti Jeffrey Webb (Presiden CONCACAF), Eugenio Figueredo (Anggota Exco FIFA dan mantan Presiden CONMEBOL), Jack Warner, Julio Rocha (FIFA Development), Costas Takkas, Rafael Esquivel (Presiden Federasi sepakbola Venezuela), José Maria Marin (Mantan Presiden federasi sepakbola Brasil) dan Nicolás Leoz (Mantan Exco FIFA).

Baca juga: Hil yang Mustahal Mereformasi FIFA dan Mengalahkan Blatter?

Bau Amis Korupsi Makin Tercium di Tubuh FIFA 


Untuk nama Jack Warner, ia sudah lama menjadi pimpinan organisasi sepakbola Amerika Utara dan Tengah. Namanya sempat tercoreng dalam skandal jual beli suara di pemilihan presiden FIFA tahun 2011. Warner juga memiliki kompleks olahraga dan conference center di Trinidad. Menurut berbagai laporan sebagian besar bangunan menghabiskan dana $26 juta dari uang FIFA yang ditransfer ke perusahaan-perusahaannya sendiri.

Tuduhan juga diarahkan ke sports-marketing executives, Alejandro Burzaco, Aaron Davidson, Hugo Jinkis dan Mariano Jinkis. Pihak berwenang seperti José Margulies juga ditangkap dengan tuduhan sebagai perantara yang memfasilitasi pembayaran ilegal, seperti penawaran media terkait penyelenggaraan turnamen sepakbola. Federasi Kehakiman Swiss mengatakan tersangka juga menerima suap lebih dari $100 juta, dari awal 1990-an sampai sekarang.

"Para tersangka diduga telah terlibat dalam skema suap. Kejahatan itu disepakati dan dipersiapkan di Amerika Serikat dan pembayarannya melalui bank Amerika Serikat," kata Departemen Kehakiman Amerika Serikat dalam pernyataanya.

Tuduhan korupsi yang ada di tubuh FIFA memang sudah berhembus sejak dua dekade belakangan ini. Salah satu yang amat sering terdengar adalah kasus tawar menawar sebagai tuan rumah Piala Dunia, serta kasus pemasaran dan siaran.

Untuk kasus tawar menawar sebagai penyelenggara Tuan Rumah Piala Dunia, paling kencang berhembus ketika Inggis dikalahkan oleh Qatar untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Media Inggris dan Amerika menjadi yang paling bising dalam urusan menentang penyelenggaraan tersebut.

FIFA di era kuasa Blatter memang menjijikan. Masa kepemimpinannya ditandai maraknya investigasi internal maupun eksternal terhadap penggelapan dan penyuapan, belum lagi berbagai dugaan pembelian hak suara dalam pemilihan Rusia dan Qatar sebagai tuan rumah di dua Piala Dunia mendatang. Dari 22 anggota komite eksekutif FIFA yang voting dalam pemilihan Rusia dan Qatar, paling tidak setengahnya dituduh menerima suap terkait proses tersebut.

Daily Mail pernah mengambarkan Sepp Blatter, pimpinan FIFA sebagai “si cebol arogan dan sok suci”. Sementara The Guardian menyebutnya “diktator paling sukses seabad ini—yang bukan pembunuh”. Ya, memang seperti itulah adanya FIFA. Sejak 1974, hanya ada dua pria yang meminpin FIFA: Havelange dan Blatter.

62

Bayangkan, hanya ada dua pemimpin sejak tahun tersebut hingga kini. Sebuah federasi yang tumbuh dalam hipokrisi. Menjalankan slogan kick politics out of football pun akan terkesan sebagai omong kosong sepanjang hari, dari pagi hingga pagi lagi.

Menurut sejumlah laporan yang dikeluarkan FBI secara terpisah, mereka telah memeriksa dugaan korupsi di sepakbola internasional. Investigasi Dewan Eropa yang dituntaskan Januari tahun ini menyebut “FIFA tampak belum bisa mengakhiri skandal korupsi”.

Lantas bagaimana bisa federasi sepakbola di Indonesia, yaitu PSSI, berlindung di balik ketiak FIFA? Apa yang harus dibanggakan? Memainkan gaya bermain FIFA dalam sebuah kongres pemilihan ketua PSSI pun juga tidak menarik. FIFA sudah melakukan itu dengan menyuap para pemilih dan meniru permainan maju mundur dalam penentuan kepemilihan ketua atau Presiden yang sering diperagakan FIFA juga sudah tidak menarik.

Di akhir kisah ini pun saya kembali mengingat tentang kicauan Ouriel Daskal, salah satu koresponden The Blizzard. Ia berkicau dengan cuitan “FIFA don't care about footballers. Clubs also don't care about footballers. The situation is dangerous for footballers.”

Kicauan Daskal itu pun terjadi sekitar tujuh jam sebelum pengepungan. Ya, FIFA tidak akan peduli dengan apa-apa kecuali kekuasaan. Barangkali begitu pula dengan PSSI, yang sudah terbukti bertahun-tahun lamanya tidak peduli dengan nasib pemain.

Buah memang tak akan jatuh terlalu jauh dari pohonnya.

Baca juga: Dihukum FIFA Tak Semengerikan yang Kita Kira 

Komentar