Sayonara untuk Bapak yang Kalem

Editorial

by Marini Saragih

Marini Saragih

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Sayonara untuk Bapak yang Kalem

Cara terbaik menyikapi pemecatan Ancelotti adalah dengan bersikap datar.

Beberapa jam sebelum pemecatannya, saya sibuk memperhatikan foto-foto Ancelotti. Memperbesar sejenak lalu mengembalikannya kepada ukuran normal. Memperbesar lagi, memperhatikan sejenak, lalu beralih kepada foto yang lain.

Jika diperhatikan, wajahnya khas bapak-bapak. Sepengalaman saya, seorang bapak punya kecenderungan yang berbeda dengan ibu. Semakin besar si anak, semakin besar pula kecemasan seorang ibu. Sehari-hari ia akan dipenuhi dengan ketakutan kalau-kalau si anak akan melakukan hal yang tidak-tidak. Jangan heran bila entah berapa jam sekali ibu akan menelepon, memastikan kalian sedang di mana dan sedang bersama siapa.

Walau tidak punya kesempatan berlama-lama hidup dengan bapak, saya ingat bapak saya tidak seperti itu. Saat merasa kelakuan saya mulai mencemaskan, ia akan diam-diam mendatangi kamar saya lalu mengajak makan berdua di kedai bakmi favorit. Setelah saya kenyang, ia mulai berbicara. Tidak lama, hanya sekitar 10 menit. Dan omongannya selalu dimulai dengan kalimat: “Saya tidak suka kamu begini” – ya, tidak peduli sebandel apapun, dia tidak pernah menyebut saya sebagai anak bandel.

Saya teringat bapak saya ketika melihat foto-foto Ancelotti. Bukan kemiripan paras yang memantik ingatan, tapi meditasi tentang ketenangan dan datarnya bangunan emosi Don Carlo yang membikin saya ingat mendiang Bapak.

Tentu saja saya bukan Pepe. Tapi Pepe di era Ancelotti berubah ke arah yang lebih menarik. Bagi saya, Pepe sebelumnya merupakan bek paling brengsek yang pernah saya lihat. Rasanya muak menyaksikan tingkahnya di lapangan yang getol membuat provokasi. Namun, Ancelotti menjadikannya sebagai salah satu bek paling bersih di Spanyol. Selama musim 2014-2015 ia hanya mengantongi empat  kartu kuning. Padahal musim sebelumnya, 2013-2014, ia mengantongi sembilan kartu kuning.

Bisakah dibayangkan, Pepe yang kerap kali di-meme-kan sebagai si brutal yang tak kepalang, Pepe yang kadang membuat penonton bertaruh akankah dia diusir dari lapangan pada sebuah laga, bisa hanya menerima empat kartu kuning saja sepanjang musim?

Di era Ancelotti, bek sebengal Pepe bermetamorfosis menjadi bek yang lebih rapi dan lebih kaleum. Dan untuk segala perubahan yang ditunjukkan pesepakbola sebengal Pepe, saya menerka-nerka pembicaraan pribadi macam apa yang pernah tergelar di antara Pepe dan Ancelotti? Saya juga penasaran ingin tahu ke mana Ancelotti mengajak Pepe untuk bicara berdua, tanpa intervensi atau dilihat rekan-rekan pemain ataupun staf lainnya.

Saya tidak tahu apakah Pepe juga merokok atau tidak, namun  jika ia seorang perokok, barangkali mereka berdua akan berbicara sambil menyulut rokok masing-masing – sambil sesekali menertawakan hal bodoh atau berdiam sejenak sembari menimbang-nimbang sesuatu. Tapi yang jelas, tidak ada amarah di dalamnya – sebagaimana nyaris semua foto Ancelotti yang saya saksikan tadi malam satu demi satu.

Pada salah satu foto saya berusaha menghitung kerutan dahi Ancelotti. Tidak banyak, hanya ada 4 kerutan. Saya memikirkan hal-hal apa saja yang bisa membuat kerutan itu bertambah banyak – selain masalah usia tentunya.

Saya ingat, sebagai seorang bapak dari sepasang anak kembar, bapak sering dibikin pusing oleh anak-anaknya yang sering bertengkar. Dibandingkan sambutan ceria khas anak kecil, saya dan abang lebih sering menyambutnya dengan laporan siapa yang lebih dulu mencari perkara. Namun saya pikir, seberisik apapun kami, ia sadar kalau anak-anaknya hanya sedang merayakan ego masing-masing. Kalau saya ingat-ingat, selama mendengarkan laporan kami, ia sesekali mengerutkan dahinya – barangkali mencoba memahami – lalu masuk ke kamar sebentar untuk mengganti baju dan mulai menyuruh kami ini dan itu.

Seketika kami menjadi sebal padanya, namun beberapa tahun kemudian saya menyadari kalau dalam pertengkaran apapun ia  tidak pernah menyuruh kami untuk saling meminta maaf. Ia selalu membuat kami lupa kalau kami sedang bertengkar.

Saya membayangkan Ancelotti ialah seorang bapak di kesebelasan yang diasuhnya. Dan menjadi manajer di kesebelasan “serumit” Real Madrid, dengan pemain-pemain berharga mahal yang merasa dirinya masing-masing sebagai pemain yang penting dan hebat, pastilah ada banyak anak yang harus didamaikan oleh Ancelotti.

Klub akan kehilangan kenyamanannya jika salah seorang saja masih menyimpan ketidakberesan tentang saudara-saudaranya. Sebagai manajer, asalkan hal tersebut tidak mengganggu permainan di lapangan, Ancelotti sah-sah saja bersikap masa bodoh – namun sebagai seorang bapak, pembiaran semacam itu akan menjadikannya bapak yang gagal.

Ancelotti tidak datang ke Madrid dengan kondisi menyenangkan. Jose Mourinho meninggalkan warisan berupa permusuhan antara Casillas dan teman-temannya. Konon, hubungannya yang tidak harmonis dengan Mourinho juga memperburuk hubungannya dengan rekan-rekan setim.

Saya tidak tahu hal seperti apa yang dibuat Ancelotti untuk menyelesaikan permusuhan di antara anak-anaknya itu. Mungkin dengan menyuruh mereka memangkas rumput dan mengepel Santiago Bernabeu atau bahkan membiarkan mereka menyeselesaikannya dalam adu jotos. Yang jelas, permusuhan itu dikabarkan berakhir. Casillas turun gunung, ia bertanding lagi bersama saudara-saudaranya. Mengusahakan kemenangan, menanggung kekalahan, dan akhirnya merayakan La Decima.

Ancelotti bukan hanya berhasil mendamaikan Casillas dan teman-temannya. Ia juga berhasil mendamaikan ego para pesohor lapangan hijau berseragam Real Madrid.

Bagi para penonton dan penggemar, menyaksikan pemain-pemain bintang seperti Ronaldo, Bale maupun Karim Benzema bermain di satu lapangan tentunya akan menjadi kenikmatan tersendiri. Namun bagi manajer, hal ini bisa berarti malapetaka. Jika salah satu pemain tidak bisa mengendalikan egonya dan memaksakan diri untuk menjadi pahlawan tanpa mengindahkan keharusan untuk bekerja sama – talenta dan nama besar akan menjadi bumerang yang gemar menyerang balik.

Sebagai seorang anak, saya tidak suka kalau bapak saya berekspresi secara berlebihan. Itu bukan bagian seorang bapak. Ancelotti barangkali juga menyadari hal itu.

Ia sadar kalau anak-anak (asuhnya) tak membutuhkan luapan emosi berlebihan. Dan barangkali ia juga sadar kalau pemecatan kali ini memang perihal yang biasa terjadi dan karenanya tak perlulah bersikap berlebihan. Sikapi dengan seperlunya.

Ia hanya perlu menerima, memastikan urusan administrasi sudah selesai, mengemasi barang-barangnya, berpamitan sebentar dan pulang ke rumah. Tidak ada yang perlu dibesar-besarkan, karena bagaimanapun juga, Ancelotti bukanlah bapak bagi para pesepakbola itu – ia hanya seorang pelatih yang entah bagaimana caranya menjadi bapak bagi mereka.

Foto: donbalon.ru

Komentar