113 Tahun Kesunyian Perempuan di Real Madrid

Editorial

by Zakky BM

Zakky BM

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

113 Tahun Kesunyian Perempuan di Real Madrid

Sepakbola pada dasarnya adalah olahraga yang bebas untuk dimainkan siapapun. Apa pun agama, ras, bahasa, suku, etnis hingga jenis kelamin bisa memainkan sepakbola. Namun, stereotipe kebanyakan orang masih banyak menganggap sepakbola adalah milik laki-laki. Pemikiran kolot ini juga yang membuat bos Real Madrid, Florentino Perez Rodriguez, tak berniat membuat kesebelasan perempuan.

Jauh mundur ke belakang, sepakbola perempuan di Spanyol sudah menyelenggarakan kompetisinya sejak 1988. Selang 27 tahun kompetisi sepakbola perempuan diselenggarakan, tak ada secuilpun nama Real Madrid dalam daftar juara kompetisi.

Malah rival klasiknya, FC Barcelona, sudah mencatatkan sebagai juara sebanyak tiga kali secara berturut-turut. Lebih menyesakkannya lagi, Barca masih senang-senangnya merajai kompetisi sepakbola perempuan Spanyol dengan raihan double winner secara berturut-turut, musim 2012/13 dan 2013/14. Barca juga masih berpeluang menjuarai kompetisi musim ini dan menyamai raihan tertinggi Levante dan Athletic Bilbao yang sudah merengkuh empat gelar liga. Belum lagi jika menghitung rival sekota, Atletico Madrid dan Rayo Vallecano, yang sudah mengoleksi tiga gelar dan satu gelar.

Kebebalan Real Madrid bisa diwakili oleh Florentino Perez sendiri. Pada 2009, ia pernah diwawancarai harian El Confidencial terkait sepakbola perempuan dan alasan mengapa El-Real tidak mempunyainya. Jawabannya bisa ditebak dengan mudah. Florentino lebih mementingkan aspek ekonomi.  Perez mengungkapkan secara gamblang sepakbola perempuan sama sekali tidak menarik sehingga sudah pasti tidak akan menguntungkan.

Tema sepakbola perempuan cukup sering kami ulas, lebih banyak ketimbang mengulas futsal. Berikut beberapa artikel tentang sepakbola perempuan yang pernah kami turunkan:

Nadine Kessler Pesepakbola Perempuan Terbaik Dunia 2014
Fokus Italia untuk Sepakbola Perempuan
Menggugat FIFA Sejumlah Pesepakbola Perempuan Diancam
FIFA Gandakan Alokasi Anggaran untuk Sepakbola Perempuan
Patah Leher, Pemain Perempuan Ini Tak Ingin Diganti
Kisruh Penggunaan Rumput Buatan pada Piala Dunia Perempuan 2015
Dugaan Pengaturan Skor di Sepakbola Wanita
Lewat Sepakbola Perempuan Iran Ingin Merasa “Happy”
Apa Untungnya Jadi Tuan Rumah Piala Dunia Perempuan?


Memang tak mudah untuk menyangkal perkataan Florentino di atas. Kenyataannya, sepakbola perempuan di Spanyol belum professional secara sepenuhnya. Masuk akal jika Florentino bicara keuntungan, karena memang pertandingan sepakbola di Spanyol biasaya hanya bisa menarik sekitar 1000 orang penonton saja. Itu pun jika lapangan pertandingan memiliki tribun, karena kebanyakan kesebelasan-kesebelasan perempuan di Spanyol masih mengandalkan lapangan terbuka atau bahkan lapangan yang kerapkali digunakan oleh kesebelasan laki-laki latihan.

Belum lagi dari pendapatan merchandise atau bahkan hak siar televisi yang hanya ditayangkan tak lebih dari dua pertandingan saja per minggu. Tentu Florentino tak mau menaruh berjuta-juta euro untuk berinvestasi yang hasilnya akan lebih kecil daripada keuntungannya.

Ini semua, memang, soal keberpihakan dan kepedulian.

Mari kita berandai-andai. Real Madrid adalah salah satu kesebelasan paling kaya di kolong langit ini. Andaikan harga transfer Gareth Bale dari Spurs ke Madrid sebesar 94 juta Euro itu 10% saja disisihkan untuk membangun kesebelasan sepakbola perempuan (dengan segala tetek bengek kebutuhannya), niscaya dengan sangat gampang Real Madrid akan punya kesebelasan perempuan yang baik.

Bila seandainya Real Madrid mempunyai tim sepakbola perempuan, kompetisi di Spanyol pun bisa dipompa untuk bisa lebih menarik dan semarak. Real Madrid, tentu saja, dengan membayangkan kelakuan mereka di bursa transfer, juga akan memboyong pemain-pemain top perempuan dari dalam negeri ataupun luar negeri. Barcelona dan Athletic Bilbao niscaya akan mendapat saingan super berat.

barcelona ladies

Persaingan yang semakin menarik dan ketat dengan sendirinya akan menghidupkan kompetisi sepakbola perempuan di Spanyol. Imbasnya yang paling kentara adalah bertambahnya tempat pembinaan pemain muda sepakbola perempuan dan penambahan kualitas tim nasional Spanyol yang sampai saat ini masih didominasi skuat Blaugrana.

RFEF sebagai badan tertinggi sepakbola Spanyol tentu juga akan berpikir serius untuk menata ulang kompetisi sepakbola perempuan di Spanyol. Bayangkanlah jika federasi Spanyol kemudian mengeluarkan kebijakan supaya seluruh kesebelasan beralih status menjadi professional. Sejauh ini, baru Barcelona yang mencoba mem-profesional-kan kesebelasan perempuannya.

Tanpa pembenahan itu, maka kompetisi di Spanyol tak akan pernah menjadi menarik, dan akibatnya tidak akan pernah juga menjadi industri yang kaya (Florentino niscaya menoleh mendengar kata "industri sepakbola"). Sampai saat ini, liga sepakbola perempuan di Spanyol belum menjadi tempat yang menarik bagi para pemain top Eropa dan dunia. Kebanyakan dari mereka memilih bermain di Jerman atau Amerika Serikat. Ini berbanding terbalik dengan La Liga (sepakbola pria) yang dihuni pemain terbaik dunia enam kali berturut-turut, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.

Para pendukung Real Madrid ini sebenarnya bukan tanpa usaha untuk mengajukan pembentukan tim sepakbola perempuan. Usaha ke arah sana sudah pernah dirintis.

Ana Rossell adalah salah seorang perempuan yang berusaha merealisasikan impian itu. Ia merupakan socio (anggota) Real Madrid. Sebagai seorang socio ia punya hak untuk ikut memilih presiden Real Madrid. Ia juga mantan pesepakbola. Kombinasi statusnya sebagai seorang socio dan mantan pemain itulah yang mendorongnya untuk aktif memperjuangkan terbentuknya kesebelasan perempuan Real Madrid.

Ana Rossell mengungkapkan alasan kenapa ia gigih memperjuangkan terbentuknya sepakbola perempuan Real Madrid. Baginya, Sepakbola perempuan di Spanyol memerlukan Real Madrid karena Madrid adalah tim tersukses di dunia yang dijadikan model oleh banyak kalangan. Jika Real membentuk kesebelasan perempuan, sepakbola perempuan di Spanyol akan mengalami titik balik, Begitu ia berpikir.

Tapi usahanya selalu mentok. Rossel memberi kesaksian: “Pada kurun waktu tersebut (sejak 1998), saya telah menulis surat kepada semua presiden klub dan responnya selalu negatif.”

Usahanya sempat menemukan titik terang ketika Predrag Mijatovic menjadi Direktur Olahraga Real Madrid. Pencetak gol tunggal kemenangan Real Madrid atas Juventus di final Piala Champions 1998 itu ditunjuk sebagai Direktur Olahraga di Los Galacticos pada 2006. Agaknya, lelaki yang dulu selalu turun ke lapangan dengan rambut klimis ini menerbitkan harapan bagi  Rossel dan rekan-rekannya. Mijatovic terlihat punya keberpihakan dan kepedulian.

Namun pada 2009, semua impian itu melumer. Pada 2009 itu, Mijatovic berhenti menjadi salah satu direktur Real Madrid. Impian Anna Rossel pun terpental lagi.

Ikhtiar lain dilakukan dengan membuat petisi di situs change.org  yang diprakarsai Santiago Arruga. Ia melayangkan petisi agar Florentino Perez bersedia membentuk kesebelasan perempuan Real Madrid. Sayang, usahanya hanya didukung oleh 25 orang dan ini terjadi pada 2013 dan sampai saat ini tidak ada kelanjutan dari petisi tersebut.

petisi

Di umurnya yang hari ini tepat berusia 113 tahun, segala ikhtiar itu masih membentur tembok. Mungkin hanya wahyu Tuhan sajalah yang bisa membangkitkan minat Florentino Perez membuat kesebelasan perempuan Real Madrid.

Pada saat bayangan laba masih jauh dari pelupuk mata, pada akhirnya -- sekali lagi-- ini merupakan perkara kepedulian dan keberpihakan. Dan Perez memang tak peduli, juga tak berpihak. Apa boleh bikin!

Perempuan memang masih sering mengalami diskriminasi dan hambatan dalam berbagai bidang, apalagi dalam sepakbola. Kami menuliskan beberapa persoalan diskriminasi perempuan dan seksisme dengan perspektif gender. Anda bisa menelusuri beberapa di antaranya:

Eva Carneiro, Chelsea dan Pandangan Sepakbola tentang Perempuan
Diacre dan Costa, Bukti Sulitnya Perempuan Menjadi Pelatih
Kisah Petinggi FA dan Kasus Seksisme
Petinggi FA Akhirnya Minta Maaf karena Melecehkan Perempuan
Diskriminasi Gender FIFA Pada Kaum Perempuan
Diskriminasi Terhadap Perempuan di Dunia Sepakbola
Di Inggris, KDRT Meningkat Saat Pertandingan Sepakbola Digelar
Hilangkan Diskriminasi pada Perempuan di Stadion

Komentar