10 Ribu Sentuhan Bola Agar Jadi Pemain Kelas Dunia

Editorial

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

10 Ribu Sentuhan Bola Agar Jadi Pemain Kelas Dunia

Tiga psikolog Swedia, K. Anders Ericsson, Ralf Krampe, dan Clemens Tesch-Romer, melakukan sebuah penelitian pada tahun 1993. Hasilnya, mereka mengambil kesimpulan bahwa jalan menuju kesuksesan, rahasia untuk menjadi ahli dalam bidang apapun, adalah latihan. Latihan selama sepuluh ribu jam, tepatnya.

Hasil penelitian Ericsson, Krampe, dan Tesch-Romer kemudian dipopulerkan oleh seorang penulis bernama Malcolm Gladwell. Dalam bukunya, Outliers, Gladwell menyebutkan bahwa sepuluh ribu jam adalah angka ajaib untuk mencapai kejayaan.

Banyak orang percaya kepada angka ajaib tersebut. Salah satu di antaranya adalah Dan McLaughlin, yang memilih untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang fotografer dan menerapkan teori Gladwell untuk menjadi seorang atlet golf profesional.

Sebuah pertanyaan kemudian muncul: benarkah dengan berlatih selama sepuluh ribu jam, siapapun akan menjadi ahli di bidang apapun?

Tak perlu berusaha mencari jawaban untuk pertanyaan tersebut. Beri jalan untuk pertanyaan yang lebih penting: dapatkah teori latihan sepuluh ribu jam ini membuat siapapun menjadi pemain sepakbola kelas dunia? Semudah itukah?

Rasanya tidak. Latihan sepakbola kurang tepat jika dihitung berdasarkan durasinya. Karena jika sepanjang durasi yang ditentukan sang pelaku latihan tidak bersentuhan dengan bola, apa gunanya?

Contoh sederhananya, dalam pencatatan statistik pertandingan saja, aktivitas tanpa bola seringkali diabaikan. Dalam grafis heatmap, seorang pemain dinyatakan berada di satu titik di lapangan jika di titik tersebut ia bersentuhan dengan bola. Entah menerima, menggiring, mengumpan, atau menendang bola. Lalu mengapa perhitungan mengenai latihan sepakbola harus berdasarkan lamanya durasi latihan?

Jika teori Gladwell diterapkan dalam sepakbola, maka seorang pemain harus menjalani latihan yang lamanya setara dengan lebih dari 6.666 pertandingan. Dan kalaupun sekelompok pemain memulai dan mengakhiri latihan secara bersama-sama selama sepuluh ribu jam tersebut, kualitas mereka semua di akhir sepuluh ribu jam tidak akan sama.

“Berbakat” adalah istilah umum untuk orang-orang yang tergolong ke dalam kelompok high responder. Orang-orang berbakat ini akan lebih mudah terpengaruh oleh hasil latihan. Jika para high responder ditempatkan di dalam kelompok yang sama dengan para low responder dan diminta untuk berlatih dalam jangka waktu yang sama dengan beban latihan yang sama beratnya, para high responder akan menunjukkan keunggulan dalam peningkatan kemampuan.

Beberapa orang memang harus rela bekerja lebih keras dari orang lain. Di sinilah peran latihan sepuluh ribu sentuhan ambil bagian. Lupakan teori latihan sepuluh ribu jam. Para pemain muda di Belanda, terutama mereka yang berlatih di akademi FC Twente, Enschede, memiliki kewajiban untuk menjalani latihan teknik dasar yang membuat mereka bersentuhan dengan bola sebanyak sepuluh ribu kali; setiap hari, sebanyak enam hari dalam sepekan.

Jon Townsend, seorang Inggris yang berkesempatan merasakan latihan akademi Twente, menyelesaikan sepuluh ribu sentuhannya yang pertama dalam waktu tujuh puluh menit saja. Tidak lama. Tidak lebih lama dari sebuah pertandingan sepakbola. Latihan ini bermanfaat dan tidak memakan banyak waktu. Dan praktis, karena bisa dilakukan secara mandiri; di mana saja dan kapan saja.

Tidak ada alasan untuk tidak memulai. Pertanyaan, bagaimanapun, tetap muncul. Jika dalam teori Gladwell seseorang dikatakan menguasai keahliannya setelah berlatih selama sepuluh ribu jam, di mana titik batas latihan sepuluh ribu sentuhan? Kapan sang pelaku latihan harus berhenti?

Townsend tidak membawa pulang jawaban tersebut dari Belanda, namun rasanya jawaban dari pertanyaan tersebut adalah tidak perlu berhenti sepenuhnya. Istirahat memang penting, karena dalam ilmu olahraga, istirahat (recovery) adalah bagian dari latihan itu sendiri. Yang tidak boleh dilakukan adalah berhenti sepenuhnya.

Bukankah Cristiano Ronaldo tidak pernah meninggalkan kebiasaan datang latihan paling awal dan pulang paling akhir walaupun ia sudah menjadi pemain terbaik dunia?

Baca juga bagaimana Jepang mengasah talenta mudanya dengan mengajarkan teknik dasar yang dilakukan secara berulang-ulang. Anak-anak dibuat melakukan sentuhan dengan bola hingga beribu-ribu kali sehingga terekam dengan baik di dalam otaknya: Melihat Bagaimana Samurai Muda di Asah

Komentar