Thierry Henry dan Saya

Editorial

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Thierry Henry dan Saya

Saya agak terlambat mengenal sepakbola. Dan itulah kenapa saya berhutang banyak pada Thierry Henry. Tanpa perannya, saya mungkin bukan hanya akan semakin terlambat, tapi bahkan mungkin tak akan pernah menyukai sepakbola.

Tak seperti kebanyakan bocah laki-laki, masa kecil saya nyaris tak bersentuhan dengan sepakbola. Semasa duduk di bangku Sekolah Dasar dahulu, kebanyakan waktu luang saya habiskan untuk membaca komik atau menggambar. Saya lebih suka menghabiskan waktu dengan menggoreskan ujung pensil di atas kertas ketimbang berlarian menendang bola dengan teman-teman sebaya.

Saya bisa dengan fasih bercerita tentang lucunya kesialan yang dialami Donal Bebek (atau hebatnya pertarungan yang dijalani oleh Son Goku). Tapi saya tidak bisa, juga tak tertarik, untuk menyimak teman-teman sekelas saya, setiap hari Senin, saling menimpali satu sama lain saat membicarakan pertandingan sepakbola yang mereka saksikan di layar kaca saat akhir pekan.

Sepakbola tak pernah menjadi kosa kata dalam masa kecil saya. Saya tentu tahu sepakbola, tahu bahwa tujuan permainan ini adalah memasukkan bola ke gawang tim lawan. Tapi itu pengetahuan umum saja, jauh dari spesifik, dan mungkin kalau sekadar pengetahuan macam itu teman-teman perempuan sebaya pun tahu.

Padahal, lingkungan keluarga saya sangat memungkinkan untuk membangun kecintaan saya pada sepakbola. Nyatanya tidak.

Memang benar, baik ayah maupun paman saya sama-sama bukan penggemar Liga Inggris. Tapi mereka menyukai Persib Bandung, sebagaimana kebanyakan orang Jawa Barat pada umumnya. Ayah dan paman hanya mendukung satu tim: Persib. Begitu pula dengan ibu saya.

Begitu juga Abah (kakek), ia pun menyukai Persib. Begitu pula dengan anak-anak Abah yang lain. Namun tidak pernah satupun di antara mereka mengajak saya duduk bersama ketika Persib bermain. Tak seorangpun dari mereka berusaha menurunkan rasa cinta mereka terhadap Persib, terhadap sepakbola, kepada saya.

Satu-satunya orang yang tidak mendukung Persib dan memiliki ketertarikan kepada sepakbola Inggris yang bisa saya temui saat itu adalah istri dari paman saya, seorang penggemar tim nasional Inggris (karena David Beckham, tentu saja) asal Magelang, Jawa Tengah.

Di pihak keluarga besar Mama, kondisinya sama saja. Mama memiliki seorang paman yang terjun langsung di dunia sepakbola. Saya memanggilnya Kakek Pupung (kabar terakhir yang saya ketahui mengenai Kakek Pupung saya lihat di sebuah surat kabar lokal Jawa Barat, saat saya menjalani masa Kuliah Kerja Nyata di Kabupaten Ciamis awal tahun ini: masih menjabat posisi pelatih kepala di Perses Sumedang – atau tepatnya sudah, karena saya tidak tahu kapan tepatnya Kakek Pupung mulai menjabat posisi tersebut). Tapi Kakek Pupung juga tidak memperkenalkan sepakbola kepada saya.

Para lelaki di keluarga besar saya banyak memberi pelajaran hidup kepada saya. Bagaimana saya bersikap, nilai-nilai kehidupan apa yang saya pegang saat ini, banyak dipengaruhi oleh mereka. Namun mereka seperti lupa menularkan rasa cinta terhadap sepakbola kepada saya. Jangankan menularkan rasa cinta, memperkenalkan saya kepada sepakbola saja mereka lupa. Mereka begitu asyik dengan dunia sepakbola mereka sendiri.

Hingga saat ini, saya selalu berpikir bahwa mereka seperti itu karena tidak ingin memaksa saya menyukai hal-hal yang (pada awalnya) tidak saya sukai. Namun melihat ke belakang, membaca atau mendengar cerita mengenai tentang ayah dan anak yang rutin pergi menonton pertandingan bersama, selalu saja membuat saya iri.

Sampai akhirnya ketertarikan saya terhadap sepakbola ditumbuhkan oleh seorang pria Perancis yang tidak memiliki pertalian darah dengan siapapun di keluarga kami.

Setelah menyadari bahwa saya memiliki ketertarikan terhadap sepakbola, barulah para lelaki tersebut mulai menyinggung sepakbola ketika berinteraksi dengan saya. Namun semua perbincangan tersebut terasa hambar. Karena bukan mereka yang memperkenalkan saya kepada sepakbola.

Para lelaki yang saya jadikan panutan melewatkan sebuah detil kecil yang terbukti penting bagi kehidupan saya. Tanpa mengenal sepakbola, saya mungkin hanya akan menjadi pemuda ringkih dengan kaki-kaki kurus yang lemah. Tanpa mengenal sepakbola, saya mungkin tidak akan memiliki banyak teman. Tanpa mengenal sepakbola, saya mungkin tidak akan menjalani kehidupan saya sekarang ini.

Thierry Henry yang melengkapinya untuk saya. Sehingga ia, pada akhirnya, menjadi sosok penting dalam hidup saya. Henry, pada akhirnya, memiliki arti penting yang sama besar dengan para lelaki di keluarga besar saya. Saya menghormati Henry sebagaimana saya menghormati Papa, Abah, Kakek Pupung, dan para lelaki di keluarga besar saya.

Saya tidak ingat kapan persisnya pertama kali melihat Henry. Yang pasti, itu terjadi pada sebuah Sabtu malam di musim 2002/2003 dalam sebuah kunjungan ke rumah paman. Sebuah kunjungan rutin ke kediaman kerabat terdekat yang kami miliki di Cikarang, sebuah kota industri di Kabupaten Bekasi, tempat kami (lebih tepatnya ayah saya; karena saya, ibu, dan kedua adik saya hanya mengikuti Papa) merantau. Ketika kami datang, paman saya sedang menyaksikan pertandingan sepakbola.

Mendapati kedatangan kami, paman saya meninggalkan aktivitasnya. Anehnya, entah kenapa, saya malah berdiri di depan televisi. Saya jelas tidak tertarik. Saya tahu itu. Karena jika saya tertarik untuk menyaksikan apa yang ada di layar televisi, saya pasti sudah duduk manis. Tapi saya hanya berdiri.

Tak lama setelah saya memandang layar, seorang pemain dengan nomor punggung 14 mencetak gol. Sederhana, namun indah dengan caranya sendiri. Sang pemain, yang berdasarkan nama di atas nomor punggungnya saya ketahui bernama Henry, berhasil membuat saya memperhatikan pertandingan. Semenit berselang, Henry kembali mencetak gol. Ia berhasil membuat saya merasa penasaran. Saya bertahan menonton pertandingan hingga selesai.

Saya lupa kepada siapa saya bertanya. Yang saya ingat, perlahan tapi pasti saya mulai tahu lebih banyak mengenai Henry. Siapa dia. Dari mana ia berasal. Untuk klub mana ia bermain (saya tidak langsung mengingat nama klub yang ia bela, karena saya benar-benar dibuat penasaran terhadap Henry sebagai individu, bukan bagian dari tim). Sehebat apa ia sebenarnya.

Beberapa pertanyaan terjawab dalam waktu yang tidak relatif lama, sementara pertanyaan terakhir – mengenai kehebatan Henry – baru terjawab beberapa hari lalu. Tepatnya ketika Henry mengumumkan keputusannya untuk pensiun.

Saya berutang banyak kepada Henry karena ia memperkenalkan saya kepada sepakbola, kepada dunia yang kini saya cintai dan geluti. Saya berhutang padanya karena sesuatu yang, lucunya, tidak pernah diperkenalkan oleh ayah saya sendiri. Atau kakek saya. Atau paman saya. Atau lelaki manapun di keluarga besar saya.

Henry menumbuhkan ketertarikan saya terhadap sepakbola sehingga saya pada akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan sebuah sekolah sepakbola di Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, karena saya ingin seperti dirinya. Sebagai catatan, saya didaftarkan oleh Mama; bukan Papa, Abah, atau Kakek Pupung.

Sebesar itu rasa hormat saya kepada Henry sehingga andaikata saya adalah orang Irlandia Utara, saya pasti tetap dapat memaafkan dosa besar yang ia perbuat di pertandingan play-off Piala Dunia 2010.

Ini tentu sesuatu yang subjektif, tapi tidak berarti kemudian saya rabun pada objektivitas.

Secara objektif saya tetap menandang Zinedine Zidane sebagai pemain yang lebih baik dari Henry. Saya bahkan merasa bahwa Zidane adalah pemain terbaik sepanjang masa. Saya tidak peduli terhadap Pele ataupun Maradona. Di mata saya, Zidane adalah yang terbaik. Titik.

Tapi saya lebih merasa kehilangan ketika Henry mengumumkan keputusannya untuk gantung sepatu. Saya dapat dengan mudah menerima kenyataan bahwa Zidane, sama seperti para pendahulunya, sudah pensiun. Saya langsung dapat menerima kenyataan tersebut begitu Zidane secara resmi mengumumkan keputusannya untuk tidak lagi menjadi pemain sepakbola profesional. Saya tidak meratapi apapun. Hanya mensyukuri semua yang telah ia lakukan sepanjang karirnya.

Namun semuanya berbeda bersama Henry. Hingga pagi ini saya masih terbangun dengan harapan bahwa semua yang telah terjadi hanyalah mimpi. Bahwa Henry masih dapat bermain setidaknya tiga tahun lagi.

Komentar