Surat Perpisahan Roman: "Chelsea dan Suporter Selalu di Hati"

Cerita

by Febrian Hafizh Muchtamar

Febrian Hafizh Muchtamar

All time poser.

Surat Perpisahan Roman: "Chelsea dan Suporter Selalu di Hati"

“Perlu diketahui bahwa ini adalah keputusan yang sangat sulit untuk dibuat, dan menyakitkan bagi saya untuk berpisah dengan klub dengan cara ini,” ungkap pengusaha asal Rusia, Roman Abramovich dalam rilis resmi Chelsea.

Roman telah menyatakan akan menjual Chelsea dalam waktu dekat. Hal itu adalah respons terhadap Parlemen Inggris yang menekan dirinya. Pria berusia 55 tahun itu diminta untuk menjual semua aset, termasuk Chelsea, yang berada di tanah Inggris.

Dalam satu pekan terakhir, Rusia tengah menginvasi Ukraina yang berstatus sebagai negara pecahan Uni Soviet. Presiden Rusia, Vladimir Putin adalah aktor utama dalam aksi invasi tersebut. Putin punya hubungan secara politik dan bisnis dengan Roman.

Politisi Partai Buruh, Chris Bryant menyebut Roman terlibat dalam pusaran politik Rusia. Bryant mengacu pada dokumen tahun 2019 dari Pemerintah Inggris (HMG) terkait aliran dana gelap dan praktik jahat oleh Rusia.

“HMG memastikan bahwa hubungannya [Roman] dengan keuangan gelap dan aktivitas jahat tidak dapat ditempatkan di Inggris dan akan menggunakan cara-cara relevan sesuai kewenangannya, termasuk wewenang keimigrasian untuk mencegahnya,” sebut Bryant kepada BBC.

Pada akhirnya, Roman mengalah dengan hukum Inggris. Dengan berat hati, ia melepas Chelsea yang telah diasuhnya sejak 2003. “Saya yakin ini yang terbaik demi kepentingan klub, para penggemar, karyawan, serta sponsor dan mitra klub.”

Sebelumnya, sesaat Militer Rusia baru masuk ke teritori Ukraina, Roman tidak langsung bertindak reaktif menjual Chelsea. Ia hanya memberikan wewenang penuh kepada Yayasan Amal Chelsea, tanpa harus menjual The Blues sepenuhnya.

Selama tahap penjualan klub, Roman tidak akan tergesa-gesa, tetapi akan menuruti prosesnya. Menurut Sky Sports, Roman berpotensi menjual Chelsea seharga 1,5 Miliar Euro. Sejauh ini, telah ada tawaran dari milyuner asal Swiss, Hansjorg Wyss.

Jika Chelsea terjual, sebagian dana akan disalurkan untuk korban perang di Ukraina. Posisi Roman terbilang strategis dalam konflik yang terjadi. Di luar posisinya sebagai pemilik Chelsea, ia menjadi pihak yang terlibat dalam perundingan damai antara Ukraina dan Rusia.

Selain itu, Roman menegaskan, membeli Chelsea bukan semata karena uang, melainkan ada hasrat terhadap sepakbola dan klub itu sendiri. Ia ingin memajukan Chelsea, dan hasilnya pun demikian; kedatangan Roman menjadi angin segar.

Sebagai pemilik baru Chelsea, Roman langsung memberikan modal yang tidak sedikit. Dalam musim pertama, Roman memberi suntikan dana 150 Juta Euro. Modal itu dimanfaatkan Claudio Ranieri, pelatih Chelsea saat itu, membeli 13 pemain, seperti Hernan Crespo, Adrian Mutu, Juan Veron, dan Joe Cole.

Musim perdana di tangan Roman, Chelsea finis kedua di bawah Arsenal 2003/04 dan menembus semifinal Liga Champions. Namun, Roman merasa Ranieri gagal meraih gelar dan dipecat. Ia pun digantikan oleh Jose Mourinho.

Mourinho berhasil memenuhi keinginan Roman: memenangkan gelar Liga Inggris musim 2004/05. Bahkan, musim selanjutnya Chelsea kembali memastikan gelar Liga Inggris ketiga. Mourinho membawa Chelsea menjelma menjadi salah satu klub terkuat di Inggris.

Seiring berjalan waktu, Chelsea kian mendapat keberuntungan. Pada 2012, Frank Lampard dan kolega berhasil membawa pulang gelar Liga Champions perdana di bawah pelatih Roberto Di Matteo. Chelsea sukses menumbangkan dominasi Barcelona di semifinal, dan Bayern Munchen di laga puncak.

Hingga di titik sekarang, Roman memang terkenal sebagai pemilik yang kerap kali mengganti kepala pelatih. Selama 19 tahun era Roman, sudah ada 14 pelatih yang menukangi Chelsea dan mencatatkan 21 titel juara. Ia hanya ingin memetik hasil yang terbaik untuk Chelsea setiap musimnya.

“Roman Abramovich, we want you to stay!” seru fans Chelsea saat melawan Luton di Piala FA, Rabu (2/3). Roman adalah sosok yang dicintai para suporter The Blues. Pada dasarnya, ia lah yang membangkitkan Chelsea dari tidur panjangnya, dalam arti puasa gelar.

Jika sudah waktunya berpisah, Roman berharap bisa datang ke Stadion Stamford Bridge untuk terakhir kalinya. “Untuk mengucapkan selamat tinggal kepada setiap orang secara langsung,” kata Roman. “Aku bersyukur mendapat keistimewaan menjadi bagian dari Chelsea dan bangga bisa meraih semua pencapaian.”

Chelsea dan elemen suporter, sebut Roman, selalu mendapat tempat khusus di hatinya.

Komentar