Inggris vs Jerman: Ketika Teknologi Garis Gawang Belum Ada

Cerita

by Ikhsan Abdul Hakim Pilihan

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Inggris vs Jerman: Ketika Teknologi Garis Gawang Belum Ada

Babak 16 Besar Piala Eropa 2020 menjadwalkan partai sarat sejarah: Inggris vs Jerman. Dua tim ini kembali bertemu setelah terakhir kali beradu taktik pada November 2017. Pertandingan di Stadion Wembley, Selasa (29/6/2021) akan menjadi pertemuan ke-24 Inggris vs Jerman di laga resmi.

Timnas Inggris dan Jerman pertama kali bertemu (setelah DFB dibentuk) pada 1930 silam. Pada awalnya, The Three Lions lebih superior atas Jerman, memenangi tujuh dari delapan pertandingan awal — termasuk final Piala Dunia 1966. Namun, sejak itu situasinya berbalik. Die Mannschaft menjadi kekuatan sepakbola serius sedangkan Inggris konsisten gagal di turnamen besar.

Jerman lebih sering menang atas Inggris sejak final di Wembley tersebut. Skuad der Panzer memenangi partai kompetitif perdana lawan Inggris di perempat final Piala Dunia 1970. Mereka kemudian mengeliminasi The Three Lions di semifinal Piala Dunia 1990 dan 16 Besar Piala Dunia 2010. Sejak kemenangan mengejutkan Inggris dengan skor 5-1 pada 2001, Jerman memenangi empat dari tujuh pertemuan terkini.

Piala Dunia 1966 pun menjadi trofi satu-satunya Inggris hingga sekarang. Sejak terakhir kali Inggris meraih trofi, die Mannschaft telah merengkuh tujuh titel, tiga Piala Dunia (total empat kali juara) serta tiga Piala Eropa.

Kenyataan bahwa Jerman jauh lebih sukses menebalkan rasa permusuhan dari pihak The Three Lions. Partai Inggris vs Jerman menjelma rivalitas di panggung sepakbola internasional, meskipun atmosfer persaingan ini tak dianggap terlalu berarti oleh pihak Jerman.

Di kesempatan apa pun timnas mereka bersua Jerman, Inggris selalu menyambutnya dengan bergelora. Peliputan dari tabloid yang sering menggunakan referensi Perang Dunia Kedua pun memanaskan situasi; demikian juga membuat bayangan rivalitas tetap ada. Boleh dikata kalau level Inggris berdekade-dekade belakangan amat jauh untuk menjadi rival Jerman. Namun, partai ini selalu dinanti-nanti dan dianggap sebagai salah satu derbi di sepakbola internasional.

Bicara mengenai derbi, tak lengkap jika tiada kontroversi di dalamnya. Partai Inggris vs Jerman juga diwarnai banyak kontroversi sepanjang riwayat pertemuan mereka. Mulai dari kontroversi akibat politik hingga kontroversi yang murni tentang pertandingan belaka. Salah satunya terjadi di Piala Dunia 2010 silam.

Inggris dan Jerman bertemu di babak 16 Besar. Waktu itu, anak asuh Joachim Loew lolos sebagai pemenang Grup D. Sedangkan skuad besutan Fabio Capello lolos sebagai runner-up Grup C akibat kalah agresivitas gol dari Amerika Serikat.

Jerman tampil efektif dan mencetak dua gol via Miroslav Klose dan Lukas Podolski ketika laga berjalan 32 menit. Inggris memperkecil kedudukan berkat sundulan Matthew Upson, lima menit setelah gol Podolski. Three Lions terus menekan dan sempat “mencetak gol” sebelum babak pertama berakhir.

Pada menit 39, James Milner mengirim umpan yang diterima Jermaine Defoe di depan kotak penalti. Defoe berupaya menembus lini belakang tetapi bola berhasil ditekel. Bola memantul ke Frank Lampard yang segera mengirim tembakan lob. Tembakan Lampard membentur bagian bawah mistar gawang, memantul di tanah hingga sekali lagi membentur mistar sampai kemudian Manuel Neuer mengamankannya.

Apakah bola telah melewati garis? Ya. Lampard sempat berselebrasi sebelum menampilkan gestur tak percaya karena wasit tetap melanjutkan permainan. Di bangku cadangan, Fabio Capello juga melihat gol dan melakukan selebrasi. Komentator tahu bahwa itu gol. Dari tayangan ulang pun jelas. Sayangnya, tiga orang yang paling dibutuhkan Inggris untuk melihatnya, wasit dan dua asisten tak punya observasi meyakinkan atas kejadian itu.

Pertandingan kemudian menjadi milik Jerman. Inggris terus mencari gol penyeimbang yang pada akhirnya tak pernah tiba. Urgensi serangan mereka membuat lini belakang rentan. Anak asuh Loew pun menambah dua gol via serangan balik yang diselesaikan Thomas Mueller. Inggris kalah 4-1, kekalahan terbesar mereka di ajang Piala Dunia.

Apabila gol Lampard disahkan, apakah mereka bisa menorehkan hasil berbeda? Entah, yang jelas, jika wasit menyaksikan bola telah melewati garis, Inggris akan menyamakan kedudukan. Hasil pertandingan akibat kejadian ini tentu bisa diperdebatkan. Namun, legasinya terhadap perkembangan sepakbola jelas.

Berkat kontroversi yang hadir di turnamen sebesar Piala Dunia, otoritas sepakbola mulai luluh terhadap ide penerapan teknologi, khususnya teknologi garis gawang. Tentu gol hantu Lampard bukanlah penyebab teknologi garis gawang diadopsi. Namun, ribut-ribut akibat gol hantu itu membuat tekanan untuk menerapkan teknologi pembantu wasit menjadi lebih kuat. Apalagi, di babak 16 Besar Piala Dunia 2010, terdapat satu pertandingan lain yang diwarnai kontroversi: Meksiko vs Argentina. Waktu itu, Carlos Tevez mencetak gol dalam posisi offside hampir satu meter.

“Jelas bahwa dengan pengalaman sejauh ini di Piala Dunia [Afrika Selatan 2010], akan menjadi omong kosong jika kami tidak membuka kembali diskusi tentang teknologi garis gawang,” kata presiden FIFA waktu itu, Sepp Blatter.

Sebelumnya, Blatter menentang ide penerapan teknologi pembantu wasit. Alasannya, teknologi semacam itu dianggap akan menggantikan peran manusia dan menghilangkan elemen manusiawi yang melekati wasit, yakni membuat kesalahan, yang mana membuat pertandingan kurang menarik.

Pembicaraan mengenai teknologi garis gawang sejatinya telah berjalan sebelum 2010. Sepakbola sendiri tergolong telat mengadopsi teknologi untuk memimpin pertandingan dibanding olahraga lain. IFAB, pembuat aturan sepakbola, lambat menerima perubahan karena FIFA memegang 50% kekuatan voting di lembaga tersebut.

Akan tetapi, kontroversi yang terus terjadi membuat FIFA-nya Blatter harus menanggalkan sikap romantis mereka. Teknologi garis gawang mulai diujicobakan setelah Piala Dunia 2010 dan diundangkan dalam Laws of the Game pada 2012. Piala Dunia 2014 menggunakan teknologi ini dan liga-liga top Eropa mengadopsinya sejak 2014.

Apabila teknologi garis gawang sudah diterapkan pada 2010, mungkin hasil partai Inggris vs Jerman berbeda. Lampard jelas kecewa golnya tak dianggap dan timnya tersingkir. Namun, empat tahun kemudian, eks Chelsea ini legawa dan justru bersyukur golnya dianulir.

“Itu mengubah permainan ini menjadi lebih baik, jadi saya merasa senang tentang hal tersebut. Pengenalan teknologi garis gawang adalah langkah positif bagi permainan ini,” kata Lampard pada 2014 silam.

Di lain sisi, pihak Jerman tak merasa telah “main curang” dengan gol hantu Lampard. Mereka menganggapnya balasan setimpal dari final Piala Dunia 1966. Jauh sebelumnya, die Mannschaft pernah dirugikan gol hantu Inggris.

Laga Jerman vs Inggris dalam final Piala Dunia 1966 yang digelar di Wembley memasuki babak tambahan waktu setelah imbang 2-2 di waktu normal. Pada babak pertama tambahan, striker Geoff Hurst mengirim tembakan yang membentur bagian bawah mistar dan memantul keluar—seperti gol Lampard—lalu disapu bek Jerman. Para pemain Inggris melakukan selebrasi seolah gol telah terjadi. Wasit kemudian berkonsultasi dengan hakim garis sebelum mengesahkan gol Inggris.

Para pemain Jerman yakin bahwa bola belum melewati garis. Sejatinya memang belum, analisis dari peneliti Universitas Oxford membuktikan hal ini. Namun, hakim garis pada waktu itu beranggapan lain. Jerman kemudian gagal meraih trofi Piala Dunia usai Inggris menambah satu gol di babak tambahan waktu.

44 tahun setelah kontroversi di Wembley, Jerman baru mendapat balasan setimpal berupa gol hantu. Dua tim ini telah impas. Kini, dengan teknologi garis gawang plus VAR, agaknya duel Inggris vs Jerman tidak akan diwarnai kontroversi serupa.

Baik Inggris maupun Jerman tidak perlu khawatir wasit membuat kesalahan fatal. Yang perlu mereka khawatirkan adalah 11 pemain lawan dan koordinasi 11 pemain masin-masing. Siapakah yang akan menang?

“Sepakbola itu permainan sederhana, 22 orang mengejar sebuah bola selama 90 menit dan pada akhirnya, orang-orang Jerman menang,” begitu bunyi kutipan terkenal striker legendaris Inggris, Gary Lineker. Para penerus Lineker boleh jadi tak setuju. Dan mereka mesti membuktikannya di atas lapangan.

Komentar