Piala Eropa 2020: Hadiah bagi Perkembangan Sepakbola Finlandia

Cerita

by Ikhsan Abdul Hakim Pilihan

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Piala Eropa 2020: Hadiah bagi Perkembangan Sepakbola Finlandia

Setelah menunggu puluhan tahun, Timnas Finlandia akhirnya mencicipi turnamen mayor pertama. Pada 12 Juni lalu, mereka menjalani debut Piala Eropa dalam pertandingan lawan Denmark. Teemu Pukki dan kawan-kawan menang 1-0.

“Kami telah menunggu untuk waktu yang lama. Berdekade-dekade. Sekarang itu akhirnya terwujud,” kata Markku Kanerva, pelatih yang membawa timnas lolos kualifikasi, kepada Sky Sports.

Kesuksesan mencapai Piala Eropa adalah tonggak penting bagi Finlandia. Sepakbola sedang berkembang di negara itu. Dan mencapai turnamen paling akbar untuk asosiasi anggota UEFA adalah peristiwa yang bisa mendorong perkembangan ini lebih jauh.

Kiprah anak asuh Kanerva memicu antusiasme besar di negara Skandinavia tersebut. Kemeriahan tercermin dari momen lolosnya Finlandia ke Piala Eropa. Pada 16 November 2019, skuad Huuhkajat (julukan Timnas Finlandia) menghadapi Liechtenstein di pertandingan kesembilan kualifikasi.

Waktu itu, Lukas Hradecky dan kawan-kawan unggul dua poin atas Bosnia. Pada hari yang sama, Bosnia menghadapi Italia. Jika Finlandia menang dan Bosnia kalah, skuad besuran Kanerva memastikan partisipasi Piala Eropa sebagai runner-up Grup J kualifikasi.



Finlandia menang 3-0 berkat gol Jasse Tuominen dan brace Teemu Pukki. Di tempat lain, Bosnia dilibas Italia dengan skor identik. Timnas Finlandia berhasil lolos sebelum matchday terakhir.

Stadion Sonera, tempat Finlandia bertanding, waktu itu hampir terisi penuh. Sejumlah 9.804 suporter hadir dari kapasitas maksimum 10.770 orang. Para suporter yang bungah segera menyerbu lapangan kala peluit panjang dibunyikan.

Warga Finlandia larut dalam selebrasi. Bersorak, berjingkrak, mengerebuti para pemain dan staf. Bek kiri timnas, Paulus Arajuuri bahkan sampai mimisan karena tertabrak suporter yang kelewat senang.

Antusiasme ini tetap menyala jelang Piala Eropa 2020. Sayangnya, pandemi menghantam dan turnamen ditunda. Hanya sedikit suporter Finlandia yang bisa hadir langsung karena dampak pandemi.

“Sebelum pandemi, terdapat 30.000 fans Finlandia yang berencana untuk bepergian. Itu memberimu gambaran tentang dukungan [terhadap Timnas Finlandia],” kata Kanerva.

Kesuksesan Piala Eropa tentu membuat sepakbola semakin populer di Finlandia. Anak asuh Kanerva akhirnya mendapatkan eksposur seluas pebalap F1, Kimi Raikkonen atau timnas hoki es yang pernah juara dunia tiga kali. Ini adalah kabar baik bagi sepakbola yang belakangan ini tumbuh stabil di negara itu.

Sepakbola di Finlandia

Sepakbola punya sejarah panjang di Finlandia. Olahraga ini diperkenalkan oleh para pelaut Inggris sejak akhir abad 19. Pada 1906, kompetisi berskala nasional mulai digelar. Setahun kemudian, Suomen Palloliitto (SPL) atau PSSI-nya Finlandia dibentuk dan resmi gabung FIFA pada 1908.

Akan tetapi, perkembangan sepakbola di sana relatif lambat. Popularitas sepakbola kemudian kalah dari hoki es. Finlandia pun baru membentuk kompetisi profesional pada 1990.

Menjelang abad 21, SPL menaruh perhatian serius kepada pertumbuhan sepakbola yang cenderung sporadis. Asosiasi mendapatkan peningkatan drastis jumlah pemain antara 2002-2004, dengan peningkatan bersih jumlah pemain—setelah dikurangi angka pemain yang pensiun—hingga 42.000 orang. Namun, setelahnya, jumlah pemain yang beredar cenderung ajeg.

Padahal, pada akhir 1990-an hingga 2000-an awal, Finlandia menyaksikan peningkatan kualitas timnas dengan generasi emas mereka. Timnas diisi oleh pemain sekaliber Jari Litmanen, Sami Hyypia, hingga Jussi Jaaskelainen. Litmanen dan Hyypia bahkan sempat meraih trofi Liga Champions, masing-masing bersama Ajax Amsterdam dan Liverpool.

Akan tetapi, popularitas generasi ini tak dibarengi peningkatan signifikan dalam hal pertumbuhan sepakbola. Pertumbuhan jumlah pemain tetap berlangsung tak tentu. Pada 2009, jumlah pemain yang ada bahkan sempat menurun.

SPL pun mulai menerapkan strategi yang lebih efektif sejak 2014. Finlandia turut serta dalam program GROW milik UEFA. Program ini menggandeng asosiasi dengan pendekatan berbasis data untuk mengembangkan empat area: imej sepakbola, engagement digital, partisipasi di level akar rumput, serta pendapatan komersial.

Finlandia menggunakan analisis data untuk mengidentifikasi problem dan mencari solusi. Salah satu isu yang teridentifikasi adalah kecenderungan pesepakbola untuk berhenti bermain karena mesti mulai kuliah dan menata masa depan. SPL coba mengatasi masalah ini dengan kampanye via surel yang juga mulai digunakan dalam pemasaran.

“Di situlah pemasaran melalui surel sangat berguna—menjaga kelompok usia itu tetap terikat [dengan sepakbola] saat mereka dalam fase transisi dari lingkungan rumah semasa sekolah ke kehidupan mandiri,” kata Kepala Pemasaran dan Penjualan SPL, Kalle Seire kepada Sport Business.

Target pertumbuhan ini juga dibarengi dengan pembangunan fasilitas. Di Finlandia, untuk mengatasi iklim yang ekstrem, lapangan sepakbola mesti memakai rumput sintetis yang tahan segala cuaca. Melansir data Sport Businesss, terdapat 33 lapangan yang dibangun pada 2017, 26 pada 2016, dan 28 pada 2015. Sebelum 2008, lapangan yang dibangun kurang dari 20 per tahun; sebelum 2004 jumlah lapangan baru bahkan tak sampai lima petak per tahun.

SPL juga sukses meningkatkan minat dan loyalitas publik terhadap olahraga ini. Mereka memasang target peningkatan penjualan merchandise sebanyak 400%. Target ini tercapai pada tahun pertama kampanye pemasaran via surel.

Finlandia telah berhasil membenahi perkembangan sepakbola. Olahraga ini, selain lebih populer, juga mencatatkan pertumbuhan yang stabil. Setelahnya, tentu performa timnas di atas lapangan juga harus dibenahi. Timnas Finlandia mulai meraihnya setelah penunjukkan Markku Kanerva pada 2016.

Markku Kanerva: Menebus Segala yang Nyaris

Timnas Finlandia hanya pernah nyaris menembus turnamen akbar. Di kualifikasi Piala Dunia 1998, mereka sangat dekat dengan play-off kompetisi. Pada November 1997, mereka melakoni partai terakhir kualifikasi lawan Hungaria. Kemenangan akan memastikan partisipasi mereka di babak play-off.

Jari Litmanen dan kawan-kawan unggul 1-0 hingga injury time. Namun, petaka datang ketika mereka menghadapi situasi korner di menit akhir. Sepak pojok memicu kemelut. Melalui serangkaian sapuan gagal, bola membentur punggung kiper dan justru masuk gawang sendiri. Skor akhir 1-1 dan Finlandia gagal menembus play-off.

Di kualifikasi Piala Eropa 2008, Finlandia juga nyaris lolos. Mereka tinggal butuh kemenangan di partai terakhir untuk menyegel partisipasi. Masalahnya, lawan anak asuh Roy Hodgson di pekan terakhir adalah Portugal. Finlandia berhasil menahan gempuran Cristiano Ronaldo dan kolega. Namun, pertandingan berakhir seri yang berarti mereka kembali gagal lolos.

Setelah itu, performa timnas tak menunjukkan kemajuan. Mereka ada di posisi 36 ranking FIFA ketika kualifikasi Piala Eropa 2008. Peringkat Huuhkajat terus menurun, mencapai titik terendah pada 2016 saat mereka terlempar ke posisi 94.

Pada Desember 2016, SPL menunjuk Markku Kanerva sebagai pelatih kepala baru dan ini menjadi titik balik Timnas Finlandia. Pelatih kelahiran Helsinki tersebut mengangkat performa timnas, bawa Finlandia naik ke peringkat 66 FIFA pada akhir 2017.

Sebagai pelatih, Kanerva memiliki latar belakang yang bersahaja. Sebelum ini, ia hanya dua kali melatih tim senior. Sekali sebagai pelatih FC Vikingiit, klub divisi dua Finlandia, serta dua kali menjabat pelatih interim timnas. Kanerva memimpin Huuhkajat dalam enam pertandingan sebagai interim.

Kanerva lebih banyak menjalani karier sebagai asisten dan pelatih tim muda. Ia menjadi asisten pelatih HJK Helsinki selama dua tahun. Di timnas, ia mengabdi sebagai asisten pelatih selama lima tahun.

Meskipun demikian, Kanerva bukanlah sosok asing di sepakbola Finlandia. Sebagai pemain, ia mendapatkan 59 caps timnas. Ia juga membela klub terbesar Finlandia, HJK Helsinki selama 10 musim.

Jauh sebelum melatih tim senior, ia berjasa mengantarkan Finlandia U-21 lolos ke Piala Eropa 2009. Piala Eropa U-21 adalah kali pertama Finlandia mencicipi turnamen bergengsi. Kini, Kanerva pun mengandalkan sejumlah pemain yang sama untuk mencapai Piala Eropa yang sesungguhnya. Terdapat lima pemain alumni Piala Eropa U-21 yang dibawa ke Piala Eropa 2020, mereka adalah Teemu Pukki, Tim Sparv, Anssi Jakkola, Jukka Raitala, dan Joona Toivio.

Di Piala Eropa 2020, Finlandia berpotensi membuat kejutan. Tiga poin telah diraih dan mereka berpotensi lolos ke fase gugur. Namun, terlepas dari laju mereka di putaran final, sekadar partisipasi pun sudah menjadi hadiah berharga bagi sepakbola Finlandia.

“Saya berharap ini akan menginspirasi dan memotivasi setiap orang yang bekerja di bidang sepakbola di Finlandia—para pemain, para pelatih, semua orang yang terlibat di sepakbola Finlandia,” kata Kanerva.

Komentar