Piala Eropa 2020: Belanda di Antara Talenta dan Keraguan

Cerita

by Ikhsan Abdul Hakim Pilihan

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Piala Eropa 2020: Belanda di Antara Talenta dan Keraguan

Ketika Piala Eropa ditunda pada Maret 2020, seolah itu menjadi keuntungan tersendiri bagi Belanda. De Oranje saat itu kehilangan salah satu pemain terbaik mereka, Memphis Depay karena cedera ACL. Menunda kompetisi setahun berarti Belanda tak perlu mengkhawatirkan striker Olympique Lyonnais tersebut.

Akan tetapi, setahun berselang, situasinya justru lebih buruk. Giliran Virgil van Dijk yang menderita ACL dan terpaksa absen. Perubahan yang lebih mendasar pun terjadi: Ronald Koeman, pelatih yang membawa Belanda ke turnamen mayor setelah dua kali absen, hengkang ke Barcelona. Frank de Boer ditunjuk sebagai suksesor pada September 2020.

De Boer menghadapi segudang PR ketika menjabat. Tak hanya karena tuntutan meneruskan proyek pembangkitan Belanda; ia juga mesti meyakinkan publik bahwa dialah orang yang tepat untuk melakukannya. Sebelum menakhodai De Oranje, portfolio sang pelatih ternoda oleh kegagalan di level klub.

Sejak membawa Ajax Amsterdam meraih empat titel Eredivisie secara beruntun, De Boer mengalami masa sulit sebagai pelatih. Ia didepak Inter Milan dan Crystal Palace setelah kiprah yang singkat saja. Sempat membawa Atlanta United juara US Open Cup dan Campeones Cup di musim debut, ia meninggalkan klub setelah gagal di turnamen MLS is Back.

Masa awal De Boer di Timnas Belanda pun tak meyakinkan. Ia meraih tiga hasil imbang dan sekali kalah dari empat partai pertama. Eks asisten Bert van Marwijk ini menjadi pelatih Belanda pertama yang gagal menang di empat laga awal.

Terlepas dari keraguan yang membayangi, kini De Boer harus membawa Belanda lolos dari grup yang berisikan Ukraina, Austria, serta Makedonia Utara. Kontraknya berlaku hingga 2022 dan kiprah di Piala Eropa kemungkinan akan menentukan masa depan sang pelatih.

Belanda di Piala Eropa: 25 Pemain, Gabungan Senior dan Talenta Generasi Baru

Belanda hanya membawa 25 pemain untuk mengarungi Piala Eropa 2020. Hal ini menyusul cedera Donny van de Beek pada 8 Juni lalu. De Boer tak memanggil pemain baru untuk menggantikan gelandang Manchester United tersebut.

“Bergabung ke skuad dalam tahap ini tidaklah ideal. Kami sudah dua pekan di jalan. Saya juga masih memiliki gelandang yang cukup di skuad untuk mengatasinya,” kata De Boer.

Di atas kertas, Belanda memiliki skuad mumpuni di turnamen. De Oranje memadukan para pemain senior dengan talenta-talenta baru.

Pemain paling senior di skuad Belanda adalah Daley Blind (78 caps) dan Georginio Wijnaldum (75). Gelandang Liverpool tersebut juga mengemban ban kapten selama Virgil van Dijk cedera.



Di lain sisi, terdapat delapan pemain yang belum genap mendapatkan 10 caps. Winger PSV Eindhoven, Cody Gakpo adalah satu-satunya pemain yang belum menjalani debut timnas ketika pemanggilan. De Boer pun memanggil duo Ajax yang masih berusia 19 tahun, Jurrien Timber dan Ryan Gravenberch.

Di antara pemain yang belum genap 10 caps, Wout Weghorst adalah satu-satunya sosok senior. Penyerang Wolfsburg ini memang jarang dipanggil De Oranje kendati menjadi top skor klub tiga musim beruntun. Ia bersaing dengan Luuk de Jong untuk mengisi tempat di pos no. 9.

Talenta generasi baru Belanda diwakili oleh De Ligt dan Frenkie de Jong yang terus tampil impresif sejak membawa Ajax ke semifinal Liga Champions 2018/19. Kendati masih 21 tahun, De Ligt telah menjadi sosok tak tergantikan di lini belakang Juventus.

Hal yang sama berlaku untuk De Jong. Ronald Koeman mengandalkannya di lini tengah Barcelona. Di La Liga 2020/21, ia menjadi pemain dengan sentuhan dan statistik menerima umpan terbanyak kedua. Pergerakan dan umpan-umpan De Jong dari lini tengah menghubungkan alur serangan Blaugrana dengan baik.

Selain dua eks Ajax tersebut, De Boer juga mengandalkan pemain-pemain muda setahun belakangan. Ia rutin memainkan Owen Wijndal di pos bek kiri. Donyell Malen, mencetak 19 gol dan delapan asis untuk PSV di Eredivisie 2020/21, juga sering diturunkan.

Profil skuad Belanda memang amat mumpuni. Namun, sebagai tim, De Oranje bukannya tanpa cela. Di bawah asuhan De Boer, Belanda hanya menang lima kali dari 11 pertandingan. Meskipun tiga dari lima kemenangan itu diraih pada 2021, hasil minor lawan Turki di kualifikasi Piala Dunia dan lawan Skotlandia dalam partai persahabatan menjadi catatan negatif sebelum berlaga di Piala Eropa.

Eksperimen Lima Bek Frank De Boer

Frank de Boer melakukan eksperimen dalam dua partai uji coba terkini. Ia coba menerapkan skema 5-3-2 setelah sebelumnya cenderung menurunkan Wijnaldum dan kawan-kawan dalam sistem 4-3-3. Alasannya, formasi lima bek lebih menjamin stabilitas pertahanan dan Belanda kemungkinan akan menjalani Piala Eropa dengan pakem tersebut.

Eksperimen De Boer berbuah kemenangan 3-0 atas Georgia dan hasil imbang 2-2 lawan Skotlandia. Hasilnya tidak terlalu buruk. Namun, penerapan skema lima bek tak luput dari kritik.

Sistem itu dikritik karena dianggap terlalu bertahan. Publik Belanda menuntut sepakbola menyerang yang lebih identik dengan formasi berbasis empat bek.

Para pemain memiliki pendapat berbeda tentang eksperimen De Boer. De Ligt mempertanyakan keputusan pelatih. Alasan utamanya adalah mengganti sistem bermain jelang turnamen terlalu berisiko.

“Saya pikir kami lebih berbahaya dengan 4-3-3. Sebagian kami telah memainkan 5-3-2, tetapi yang lain tidak. Saya terbiasa dengan 4-3-3 dan berganti sistem adalah perubahan besar. Secara pribadi, itu adalah kesempatan untuk belajar dan menjadi lebih baik. Namun, Anda menginginkan hasil di Piala Eropa dan Anda harus memilih sistem yang benar,” kata De Ligt.

Sementara itu, gelandang Atalanta, Marten de Roon punya pendapat lain. Ia sepakat dengan De Boer bahwa Belanda dapat bermain lebih efektif dengan landasan lima bek.

“Sebagai gelandang, itu [formasi] selalu memberi Anda kover yang cukup. Jadi, Anda lebih leluasa maju, mem-press di area tinggi dan lebih agresif. Saya memainkannya selama empat tahun dengan Atalanta. Kami [Atalanta] juga menunjukkan bahwa 5-3-2 dapat memberikan permainan menyerang dan atraktif juga,” kata eks Middlesbrough tersebut.

Apabila De Boer bersikeras dengan gagasannya, ia wajib memastikan bahwa para pemain telah nyetel dengan sistem lima bek. Hal ini tidak ditunjukkan saat mereka ditahan imbang Skotlandia. Namun, kala menghadapi Georgia, para pemain tampil lebih rancak dan Belanda menang 3-0.

Belanda akan memulai Piala Eropa 2020 dengan menghadapi Ukraina, di atas kertas lawan terberat mereka di Grup C. Kemenangan dari laga itu akan membawa Belanda ke posisi menguntungkan untuk lolos dari grup.

Di Piala Eropa 2020, De Boer menargetkan lolos ke semifinal. Bicara mengenai kebangkitan, Belanda belum mencapai level Italia yang tampil brilian di bawah Roberto Mancini. Meskipun demikian, jika berhasil mencapai target, De Boer membuat pernyataan serius jelang Piala Dunia 2022. Mengakhiri turnamen sebagai empat tim terbaik adalah pencapaian setelah absen di Piala Eropa 2016 dan Piala Dunia 2018.

“Jika kami bermain bagus, kami dapat mengalahkan siapa pun. Sejujurnya, saya tidak menghitung kami sebagai salah satu favorit juara. Saya pikir Perancis, Belgia, dan Spanyol adalah favoritnya. Lalu Anda masih memiliki negara seperti Jerman, Inggris, Italia, dan Portugal yang juga dapat mengalahkan siapa pun,” kata De Boer.

Komentar