Kontroversi Copa America 2021

Cerita

by Ikhsan Abdul Hakim Pilihan

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Kontroversi Copa America 2021

Tempat penyelenggaraan Copa America 2021 dipindahkan hanya 13 hari sebelum turnamen berlangsung. Tadinya, kompetisi regional tertua di dunia ini akan dihelat di Kolombia dan Argentina. Namun, Kolombia dicoret dan Argentina mengundurkan diri akibat situasi COVID-19 yang memburuk. Kurang sehari setelah Argentina mengundurkan diri, CONMEBOL menunjuk Brasil sebagai tuan rumah baru.

Penentuan ini serba cepat dan teburu-buru. Pada 31 Mei 2021, Presiden CONMEBOL, Alejandro Dominguez mengontak Presiden CBF (PSSI-nya Brasil), Rogerio Caboclo tentang kemungkinan menggelar turnamen di Brasil. Caboclo kemudian mengajukannya ke pemerintahan Jair Bolsonaro dan segera disetujui. Keesokan harinya, Brasil telah meresmikan lima stadion yang akan menggelar partai Copa America.

Keputusan tersebut tak luput dari kontroversi. Berbagai kalangan mengkritik kebijakan CONMEBOL. Pihak penyelenggara enggan menanggung akibat bila harus menunda kembali turnamen yang telah ditangguhkan setahun. Namun, di lain sisi, Amerika Selatan sedang menanggung beban berat pandemi dan penyelengaraan Copa America dipandang tak bijak.

Seharusnya Menjadi Edisi Istimewa

Copa America sedianya digelar pada pertengahan tahun lalu. Mulai 2020, CONMEBOL berencana menggelar turnamen pada tahun genap, dengan edisi selanjutnya bertempat di Ekuador pada 2024. Sejak edisi terkini, Copa America akan digelar bersamaan dengan Piala Eropa.

CONMEBOL pun menunjuk dua negara tuan rumah untuk menyelenggarakan Copa America 2020: Kolombia dan Argentina. Keputusan ini adalah pertama kalinya terdapat dua tuan rumah untuk menyelenggarakan turnamen yang pertama digelar pada 1916 silam.

Baca juga: Sejarah Panjang Jadwal Penyelenggaraan Copa America yang Berubah-berubah

Pada Maret 2020, pandemi memaksa kompetisi ditangguhkan selama setahun. CONMEBOL menargetkan kompetisi digelar dengan tanggal yang sama.

Akan tetapi, penyelenggaraan kompetisi yang tertunda menemui hambatan sejak Mei lalu. Kolombia diterpa krisis politik dan protes berskala nasional. Kondisi tersebut secara langsung memengaruhi gelaran sepakbola. Pada 12 Mei silam, pertandingan Copa Libertadores antara Junior vs River Plate sempat terganggu hawa gas air mata yang masuk ke stadion. Pertandingan antara Atletico Nacional vs Nacional pun sempat ditunda satu jam karena aksi protes di sekitar stadion.

CONMEBOL kemudian memutuskan bahwa kondisi Kolombia tak stabil untuk menggelar turnamen akbar. Mereka dicoret sebagai tuan rumah. Masalah semakin pelik ketika Argentina mengundurkan diri akibat peningkatan kasus COVID-19 sejak Maret lalu di negara itu.

Mengapa Brasil?

Sebelum Brasil ditunjuk, terdapat sejumlah negara lain yang berpotensi menjadi tuan rumah baru. Uruguay, Paraguay, dan Chili dilaporkan sebagai alternatif. Amerika Serikat dan Qatar pun demikian.

Sejumlah kalangan menyebut Brasil tak cocok menggelar Copa America. Jika Kolombia dicoret akibat protes yang meluas dan Argentina mundur akibat COVID-19; Brasil memiliki dua faktor itu. Pemerintahan Bolsonaro menghadapi protes yang meluas, salah satunya akibat ketidakpuasan atas penanganan pandemi. Brasil juga menjadi salah satu negara dengan dampak pandemi terparah.

Brasil adalah negara dengan jumlah kematian akibat COVID-19 tertinggi kedua di dunia. Pada awal Juni, negara ini masih mencatatkan kasus baru hingga 60.000 per harinya.

Baca juga: Stadion di Copa America: Stadion Ramah Lingkungan yang Berkapasitas "Kecil"

Asosiasi pesepakbola profesional dunia, FIFPro mempertanyakan keputusan CONMEBOL menunjuk Brasil sebagai tuan rumah. FIFPro mengaku punya “kekhawatiran serius” atas gelaran Copa America: menyoroti situasi pandemi dan penyelenggaraan yang terkesan tergesa-gesa.

“Dengan kondisi saat ini, FIFPro mendukung sepenuhnya tiap pemain yang memutuskan mundur dari turnamen atas alasan kesehatan dan keamanan,” tulis pernyataan di laman resmi FIFPro.

Kalangan pemain dan pelatih pun meragukan gelaran Copa America 2021. Bintang Uruguay, Luis Suarez ragu apakah turnamen ini sebaiknya digelar tahun ini atau lebih baik diundur. “Kita harus memprioritaskan kesehatan masyarakat,” kata penggawa Atletico Madrid tersebut.

CONMEBOL sendiri berupaya menjawab keraguan publik melalui pernyataan di laman resminya. Konfederasi Amerika Selatan tersebut menyebut Brasil sebagai tuan rumah yang cocok, menyitir tingkat vaksinasi dan kompetisi antarklub yang berjalan di negara itu. Brasil tercatat sebagai negara dengan persentase vaksinasi tertinggi ketiga di Amerika Latin, dengan 10% populasi telah mendapatkan dosis kedua per 1 Juni.

Baca juga: Ernesto Carpio-Tirado, Pesulap Keberuntungan Timnas Peru

Meskipun demikian, jaminan CONMEBOL tak cukup memuaskan para pengkritik. Bruno Gualano, profesor di Fakultas Kedokteran Universitas Sao Paulo, menyebut gelaran Copa America dapat memicu gelombang ketiga COVID-19 di negara itu.

“Menggelar turnamen ini di Brasil sangatlah irasional, tidak bisa diterima dari kacamata kesehatan masyarakat, dan itu hanya bisa terjadi di sebuah negara yang tidak menghargai kehidupan,” kata Gualano kepada El Pais.

Ia juga menyoroti kerentanan atlet tertular virus saat berkompetisi. Gualano mengoordinasi studi yang dilakukan kepada 4.000 atlet di turnamen sepakbola regional Sao Paulo pada 2020. Hasilnya, tingkat infeksi antara atlet mencapai 11,7%, yang mana sebanding dengan tingkat infeksi di kalangan petugas medis semasa pandemi.

Kendati kontroversial, Copa America 2021 tetap dijadwalkan berjalan sesuai rencana. Sepak mula pertama akan digelar pada Senin (14/6/2021) pukul 04.00 WIB, mempertemukan Brasil vs Venezuela. Kompetisi ini dihelat hingga 10 Juli dengan partai final bertempat di Stadion Maracana, Rio de Janeiro.

Foto: Twitter @CopaAmerica

Komentar