Problem Manajemen yang Membuat Persitara Tenggelam

Cerita

by Ikhsan Abdul Hakim Pilihan

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Problem Manajemen yang Membuat Persitara Tenggelam

Untuk ukuran Asia, Indonesia sebenarnya memiliki sejarah sepakbola yang amat kaya. Tetapi, Merah Putih tak kunjung menjadi kekuatan berarti di era modern. Jangankan di tingkat tim nasional, untuk persaingan di level klub pun kalah jauh dari liga-liga lain di Asia, bahkan negara tetangga.

Persepakbolaan Indonesia menghadapi segudang permasalahan yang menghambat kemajuan. Dari setumpuk permasalahan itu, salah satu yang paling terlihat adalah absennya manajemen yang kompeten. Mismanajemen sepakbola menjangkiti federasi hingga klub-klub anggota, yang puncaknya adalah dualisme kompetisi dan sanksi FIFA.

Di tataran klub, inkompetensi manajemen memperlemah daya saing tim. Salah kelola kerap menyebabkan krisis finansial akut yang menggerogoti klub. Di Indonesia, berita klub menunggak gaji pemain bahkan terasa familiar. Atau, lebih parahnya, klub gagal melanjutkan kompetisi karena masalah keuangan.

Sejumlah klub Indonesia tumbang dari divisi teratas gara-gara salah urus yang berujung krisis finansial. Ambil contoh Deltras Sidoarjo atau Persema Malang yang kini bersaing di Liga 3 Jawa Timur. Dua klub tersebut pernah malang-melintang di strata teratas, tetapi kini bertungkus lumus di kompetisi amatir.

Dilarangnya penggunaan APBD untuk mendanai klub Indonesia pada 2011 pun bak seleksi alam. Jika manajemen gagal beradaptasi, klub didera problem keuangan dan akan hancur pada waktunya. Hal ini terjadi pada Persikota Tangerang. Pada 2013, semua pemain klub berjuluk Bayi Ajaib ini hengkang akibat krisis finansial. Sebagaimana Deltras dan Persema, Persikota pun saat ini terdampar di Liga 3.

Sementara itu, bagi Persitara, ceritanya agak berbeda. Tak seperti Persikota, klub ini sedianya bisa bersaing tanpa APBD. Tetapi, inkompetensi manajemen menyebabkan Laskar Si Pitung “tertidur” di Liga 3.

Tahun 2014 adalah titik awal kejatuhan Persitara. Waktu itu, klub yang bermarkas di Stadion Tugu ini didegradasi dari Divisi Utama. Persitara gagal menyelesaikan kompetisi. Mereka menunggak gaji pemain dan sempat tidak bisa menggelar laga kandang. Pasalnya, Persitara tidak mampu membayar sewa stadion dan terbelit utang. Dari tahun ke tahun, masalah pendanaan Laskar Si Pitung tak kunjung membaik.

Persitara sebenarnya memiliki sumber dana potensial untuk mengelola klub. Perusahaan-perusahaan besar di Jakarta Utara dikabarkan bersedia mensponsori klub yang pernah diperkuat pemain sekelas John Tarkpor itu. Tetapi, gelontoran dana yang diberikan tak berbalas umpan balik sepantasnya.

Eks pelatih kepala Persitara, Eko Prasetyo menyayangkan inkompetensi manajemen yang membuat sponsor menghindar. “Karena setiap tahun nggak ada laporan pertanggungjawabannya, kabur dia [sponsor],” katanya.

“Perbaikan ya harus di manajemen juga. Saat manajemen kita bagus, pengelolaan bagus, perusahaan juga nggak sayang ngeluarin duit pasti,” tambah Eko.

Eko menjabat sebagai pelatih kepala Laskar Si Pitung pada 2017-2019. Ia juga menjadi pelatih di salah satu Sekolah Sepak Bola (SSB) internal Persitara. Eks pemain Persijap Jepara ini adalah saksi periode suram Persitara lima tahun terakhir.

Pada 2016, Persitara bahkan terancam gagal mengikuti Liga 3. Pasalnya, manajemen belum terbentuk jelang kompetisi bergulir. Kelompok suporter klub, NJ Mania pun berinisiatif untuk mengambil alih kepengurusan. Suporter yang identik dengan warna biru ini mengelola klub hingga 2017.

Persitara beberapa kali berganti kepengelolaan. Mereka sempat dipimpin seorang pengusaha lokal pada 2018-2019. Pada 2020, Persitara kembali membentuk manajemen baru di bawah panji PT Persitara Jaya Abadi.

Karena musim belum bergulir, kiprah Persitara di bawah manajemen baru belum terlihat. Berganti-ganti manajemen bukanlah sesuatu yang sehat bagi klub sepakbola. NJ Mania tentu berharap kepengelolaan yang baru bisa memberi stabilitas bagi Laskar Si Pitung.

“Saya sedih karena belum ada seseorang yang bisa membangun Persitara lagi,” keluh Eko. Kini, dengan manajemen baru, akankah harapan Eko — dan segenap pendukung Persitara — bakal terwujud?

Sumber foto: https://utara.jakarta.go.id/



Komentar