Akhir yang Seharusnya: Kembar Bender Telah Kalah

Cerita

by Gilang Ramadhan

Gilang Ramadhan

Dapat disenggol lewat twitter @gilangdan

Akhir yang Seharusnya: Kembar Bender Telah Kalah

Sven Bender tertunduk tidak percaya ketika diusir dari lapangan saat membela klubnya, TSV 1860 Muenchen, di pertandingan level junior pada musim semi 2005. Wasit membuat kesalahan. Di laga tersebut ada saudara kembar Sven, Lars Bender, orang yang harusnya mendapat kartu merah karena telah melakukan pelanggaran dan mengantongi satu kartu kuning.

“Saya berkata kepada wasit, yang melakukan pelanggaran bukan saya, tetapi dia [Lars]! Lars sendiri mengakui hal tersebut kepada wasit. Tetapi, dia tidak percaya kami,” kenang Sven Bender.

Cerita tersebut datang dari dua pemain sepakbola yang memiliki jumlah cedera lebih banyak dibanding torehan gol sepanjang karier mereka. Cerita dua pemain yang sering membingungkan banyak orang. Lars dan Sven Bender, sepasang saudara kembar yang akan mengakhiri karier sepakbola profesionalnya pada akhir musim 2020/21 nanti. Mengakhiri 12 tahun perjalanan mengesankan di Bundesliga.

Bersama-sama mengawali karier di akademi Brannenburg, SpVgg Unterhaching, serta 1860 Muenchen, si kembar akhirnya berpisah pada 2009. Sven yang lebih muda 12 menit hijrah ke Borussia Dortmund, sedang Lars ke Bayer Leverkusen. Tetapi, mereka kembali bersatu di Leverkusen pada 2017 dan memutuskan pensiun secara bersamaan.

“Semua orang yang mengenal kami, tahu bahwa kami selalu memberikan 100% yang kami punya setiap harinya. Itu sudah menjadi persyaratan dasar bagi kami. Sayangnya, semakin sulit bagi kami untuk melakukan hal tersebut dengan semua rasa sakit dan masalah fisik kami yang semakin memburuk,” ujar mereka.

Mereka menambahkan, ”Paling tidak, secara jujur, keputusan ini sama sekali tidak mudah. Bayer Leverkusen sekarang memiliki waktu untuk merencanakan sesuatu setelah kepergian kami dan itu penting bagi kami.”

Dua Petarung yang Dikalahkan Cedera

Baik Lars maupun Sven memiliki gaya bermain yang mirip. Selain dapat diposisikan sebagai gelandang bertahan, bek tengah, hingga bek sayap, keduanya senang berduel dengan lawan-lawannya. Tetapi, tubuh keduanya seakan tidak mau diajak kompromi. Mampir di meja perawatan adalah hal rutin yang mereka lakukan tiap musim.

Catatan medis mereka membuktikan, sejak 2007, Sven sudah menderita 55 cedera. Masalah punggung, paha, lutut, hingga pergelangan kaki sudah pernah dirasakannya. Belum menghitung penyakit macam flu. Sementara sang kakak, Lars, juga pernah merasakan 55 macam cedera.

Hampir satu dekade silam, Sven pernah mengalami cedera mengerikan kala memperkuat Borussia Dortmund. Di laga fase grup Liga Champions melawan Arsenal, Sven bertabrakan dengan Thomas Vermaelen dan kedua rahangnya patah. Untuk menstabilkan wajahnya, dokter membutuhkan dua plat titanium. Bahkan petinju kelas berat pun jarang ada yang mengakhiri karienya dengan alasan cedera seperti itu.

Meski dibenci tubuhnya sendiri, Lars dan Sven tetap profesional, memberikan segalanya untuk klub masing-masing. Direktur olahraga Leverkusen dan legenda hidup sepakbola Jerman, Rudi Voeller menggambarkan keduanya sebagai pemain "profesionalis ekstrem dan berkomitmen tinggi".

Eks rekan satu tim Sven di Dortmund, Nuri Sahin, sempat menyebutkan bahwa pemain 32 tahun tersebut tidak kenal takut. Sven tetap akan berduel dengan kepalanya yang bahkan Sahin sendiri tidak akan melakukannya meski menggunakan kaki. Juergen Klopp sampai-sampai berkata: “Saya merasa senang dengan fakta bahwa saya bukan ayah atau ibu Bender.”

Sementara, Lars sendiri memiliki banyak luka di betisnya, setidaknya itu yang terkenang di ingatan pelatih 1860 Muenchen, Walter Schachner. Singkatnya, profesionalisme dan dedikasi keduanya tidak dapat diragukan.

Namun, dengan banyaknya luka, cedera, dan kerja mereka di atas atau di luar lapangan, keputusan keduanya untuk pensiun bersama mungkin adalah langkah tepat. 470 penampilan telah dibukukan oleh Lars dan Sven bersama Leverkusen dan hanya satu kartu merah yang didapat keduanya.

“Segalanya sangat terstruktur dan ketat di karier Anda — sama konsistennya dengan mengatakan: ‘Kami harus berjuang dengan fisik kami, kami mungkin juga akan kelelahan secara mental setelah 15 musim bermain di level profesional’,” sebut agen Lars dan Sven, Manfred Schulte.

“Lebih baik gantung sepatu lebih dini dan dikenang sebagai pesepakbola yang baik daripada menjadi penghangat bangku cadangan dalam satu atau dua tahun ke depan hanya untuk mengumpulkan uang. Itu mereka,” tandas sang agen.

Lars dan Sven telah menjadi lambang profesionalisme modern di Bundesliga, atau bahkan dunia. Musim depan, mereka tidak akan hadir di atas lapangan lagi. Mereka telah kalah dari cedera, tetapi ini adalah akhir yang seharusnya, akhir dari dedikasi dan penderitaan. Dan tentu saja, mereka akan dikenang sebagai salah satu kembar paling sukses di dunia sepakbola.

Tinggal separuh musim tersisa untuk menyaksikan aksi Lars dan Sven Bender bersama klubnya, Bayer Leverkusen, di Bundesliga 2020/21. Sedang bagus-bagusnya, bukan tidak mungkin Leverkusen mempersembahkan akhir yang manis bagi Kembar Bender: menjuarai Bundesliga. Perjalanan Bender bersaudara dan die Wekrself dapat Anda saksikan di Mola TV (klik di sini).

Komentar