Pantang Menyerah ala Heiko Herrlich

Cerita

by Gilang Ramadhan

Gilang Ramadhan

Dapat disenggol lewat twitter @gilangdan

Pantang Menyerah ala Heiko Herrlich

FC Augsburg sedang menikmati start Bundesliga terbaik sepanjang sejarah mereka. Fuggerstaedter belum menelan satu pun kekalahan dari tiga pertandingan pertama dan bercokol di peringkat dua klasemen sementara. Memang terlalu dini untuk menilai mereka, tetapi sosok sang pelatih, Heiko Herrlich patut mendapat sorotan.

Sebelum mengawali karier sebagai pelatih, Herrlich lebih dulu masyhur sebagai seorang penyerang mematikan di Bundesliga awal 1990-an. Pelbagai gelar sudah ia dapat, termasuk dua Bundesliga (Dortmund 1995/96 & 2001/02), dua DFB Pokal (Leverkusen 1992/93 & Moenchengladbach 1994/95), serta satu Liga Champions (Dortmund 1996/97). Lain itu, Herrlich pernah menjadi top skor Bundesliga 1995.

Namun, sebuah penyakit bernama kanker merenggut kariernya sebagai pemain. Pada Oktober 2000, saat masih berseragam Dortmund, ditemukan tumor di otak Herrlich. “Itu adalah momen terburuk dalam hidup saya,” kata Herrlich menggambarkan kondisinya.

Setahun kemudina, dia berhasil menaklukkan penyakit tersebut dan kembali merumput saat Revierderby. Mungkin itu satu-satunya momen di mana suporter Schalke dan Dortmund tidak saling bersitegang. Kendati demikian, Herrlich sulit menemukan kembali performa terbaiknya dan memutuskan gantung sepatu pada April 2004.

“Bahkan ketika saya mencoba bermain di tim cadangan, semuanya semakin jelas bahwa saya tidak memiliki kesempatan lagi untuk membuktikan diri sebagai pesepakbola,” kata Herrlich.

Link streaming FC Augsburg vs RB Leipzig

Karier Melatih

Usai mendapat lisensi pelatih pada 2005, Herrlich diberi tanggung jawab menjadi nakhoda Timnas Jerman U-17. Dua tahun berselang, Herrlich membantu pemain-pemain macam Kevin Trapp, Sebastian Rudy, hingga Toni Kroos berkembang. Di ajang Piala Dunia U-17 Korea Selatan 2007, mereka finis sebagai peringkat tiga.

Dua tahun berselang, tepatnya pada 27 Oktober 2009, Herrlich dilepas DFB dan menjadi pelatih Vfl Bochum. Tetapi musim perdana Heiko di Bochum sangat buruk, dengan catatan empat kemenangan, delapan hasil imbang, serta menelan 10 kekalahan.

Usai menukangi Bochum, Herrlich sempat menjadi manajer SpVgg Unterhaching dan Bayern U-17 hingga takdir menempatkannya ke Jahn Regensburg, yang pada Desember 2015 masih bermain di divisi 4 Jerman. Di bawah arahan Herrlich, secara ajaib, Regensburg promosi dua kali dan di akhir musim 2016/17, mereka sudah berada di 2. Bundesliga.

Pencapaian tersebut terendus Direktur Olahraga Leverkusen, Rudi Voller. Herrlich diproyeksikan sebagai penerus Roger Schmidt. “Heiko memiliki ide hebat yang akan banyak kita diskusikan. Tujuannya jelas untuk bermain secara internasional lagi,” ungkap Voller saat jumpa pers di peresmian Herrlich.

Imaji Herrlich yang ingin membawa klub masa kecilnya ke jalur kejayaan dan perkataan Voller tidak menjadi kenyataan. Meski berhasil finis di peringkat lima klasemen akhir Bundesliga 2017/18, pada paruh pertama 2018/19, Leverkusen arahan Herrlich menelan tujuh kekalahan dan tiga hasil seri. Tepat setelah kemenangan 3-1 atas Hertha Berlin di pekan 17, Werkself memberhentikan Herrlich.

Awal Baru

Setelah satu setengah tahun tidak melatih, FC Augsburg resmi mengganti Martin Schmidt dengan Heiko Herrlich. Misi yang wajib ditanggung Herrlich adalah menyelamatkan Augsburg dari jurang degradasi.

Di tiga laga perdananya, Herrlich seperti memperburuk keadaan. Augsburg kalah tiga kali beruntun dan tersungkur ke peringkat 14. Tetapi, pada delapan Spieltag terakhir, Augsburg berhasil meraup sembilan poin dan mengamankan diri di posisi 15.

Musim 2020/21, harapan Augsburg membumbung dengan datangnya Felix Uduokhai, Daniel Caligiuri, hingga Tobias Strobl. Fuggerstaedter menang di laga pertama kontra Union Berlin. Pekan kedua, performa Augsburg semakin impresif. Mereka menekuk salah satu favorit kampiun Bundesliga, Borussia Dortmund, dengan skor 2-0.

Kesialan bernama penyakit kembali menghinggapi Herrlich jelang laga pekan ketiga kontra Wolfsburg. Herrlich dilarikan ke rumah sakit lantaran mengidap penyakit pneumothorax, terkumpulnya udara di antara paru-paru dan rongga dada. Tanpa dampingannya, laju kemenangan Augsburg terhenti, mereka ditahan imbang tanpa gol oleh Wolfsburg.

Seperti saat dia mengalahkan tumor di otaknya, Herrlich sudah keluar dari rumah sakit pada Senin (12/10). Dia mengaku dapat kembali mendampingi anak asuhnya di laga melawan RB Leipzig pada Sabtu (17/10) mendatang.

“Para dokter sudah meyakinkan saya, tidak ada seorang pun yang bakal mati karena penyakit tersebut di Jerman. Saya juga tidak melihat hal yang terlalu buruk,” kata Herrlich kepada Kikcer.

“Kondisi ini sudah saya diskusikan dengan para dokter bahwa saya dapat kembali lagi ke pinggir lapangan. Tetapi saya tidak akan berteriak terlalu sering. Saya aktif di pinggir lapangan ketika dibutuhkan. Dan apabila saya kehabisan nafas, saya memiliki asisten yang mendukung saya,” tandasnya.

Kini, pribadinya sudah berkembang seiring naik-turun hidup yang telah ia alami. Masa kecilnya, ia terkenal sebagai anak nakal. Semasa menjadi pemain, kebiasaannya membaca Injil di toilet dibilang aneh. Tetapi, ibunya tahu, Herrlich adalah sosok yang pantang menyerah.

"Keinginannya yang kuat adalah sifatnya yang paling menonjol. Dengan itu, dia akan menghancurkan tembok dengan kepalanya," kata sang Ibu, Erika.

Augsburg arahan Herrlich memiliki kans menjadi pemuncak klasemen, dengan syarat menekuk RB Leipzig. Apabila ditilik dari rekor pertemuan, misi Herrlich dan anak asuhnya akan sulit. Augsburg belum pernah menang atas Leipzig dalam enam duel terakhir (empat kalah, dua imbang).

Tayangan langsung semua pertandingan Bundesliga 2020/21, serta tayangan ulang dan highlights pertandingannya, dapat Anda saksikan di Mola TV (klik di sini).

Komentar