Lanjutan Kisah ?Orang-Orang Biasa?

Cerita

by Redaksi 11

Redaksi 11

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Lanjutan Kisah ‘Orang-Orang Biasa’

Sampai Juli 2020, Tyler Adams dan Eric Maxim Choupo-Moting sama-sama bukan pemain yang penting. Sampai akhirnya, gol krusial keduanya membawa klub mereka menembus semifinal Liga Champions. Merenda asa juara pertama kalinya

Lewat sepakan Adams, RB Leipzig mengucapkan selamat tinggal kepada ‘tim unggulan’ Atletico Madrid. Sedangkan, sontekan Choupo-Moting menuntaskan perlawan Atalanta yang selama 89 menit permainan terbayang semifinal.

Orang lebih mudah mengeja nama Neymar Jr. dan Kylian Mbappe kalau berbicara lini serang Paris Saint-Germain. Edison Cavani dan Mauro Icardi saja bisa kurang mentereng dibanding dua pemain berharga selangit. Entah bagaimana Choupo-Moting yang malah memastikan kemenangan genting.

Choupo-Moting terdegradasi bersama Stoke City pada dua musim lalu. Berkat campur tangan Thomas Tuchel yang bekerja sama dengannya di Mainz, derajat penyerang Kamerun meningkat. Dari penyerang (semestinya) level Divisi Championship menjadi juru gedor tim semifinalis Champions League.

Pada awal musim ini, Choupo-Moting bersinar dalam dua kemenangan Ligue 1 dari Toulouse (4-0) dan Metz (2-0). Dia menggantikan Edison Cavani yang cedera di tengah laga. Sementara Neymar belum tersedia dan Icardi masih merampungkan proses transfernya.

Alhasil, Choupo-Moting punya peluang menyelamatkan kariernya bersama tim mewah Prancis. Pada musim sebelumnya, terjadi insiden Choupo-Moting menggagalkan gol rekan setim, Christopher Nkunku ke gawang Starsbourg.

Bola yang sudah bergulir di garis gawang malah berhenti, karena Choupo-Moting nafsu ingin cocor. Jika kekonyolan itu tidak terjadi, PSG semestinya juara Ligue 1 2018-19 lebih cepat dari semestinya.

Adams? Cedera pangkal paha memaksanya menepi hampir sepanjang putaran pertama Bundesliga musim ini. Pemuda 21 tahun baru tampil di Liga Champions saat masuk di menit ke-52 saat Leipzig membabat Tottenham 3-0 pada laga kedua babak perdelapan final.

Pada perempat final, Die Roten Bullen mendadak dipandang remeh setelah Timo Werner memutuskan berpisah. Pemain lain semisal Marcel Sabitzer, Patrick Schick, dan Youssuf Poulsen tidak terasa sepadan untuk menggantikan Werner. Apalagi pemain kurang pengalaman seperti Tyler Adams.

Membincangkan pemuda Amerika Serikat di Bundesliga, Adams bukan yang disebut paling pertama. Christian Pulisic mengenalkan dunia kalau Harshey, Pennsylvania bukan hanya terkenal dengan produk olahan cokelat saja. Selepas Pulisic pindah ke Premier League, Dortmund lantas mempromosikan Giovanni Reyna ke tim utama.

Schalke punya Weston McKennie yang ‘woke’ dengan isu sosial, sementara Bremen juga sempat melambungkan nama Josh Sargent. Untuk pemain senior, John Brooks kadung veteran di lini belakang Hertha Berlin dan Wolfsburg. Adams belum sekalipun mendapatkan momentum setelah diangkut dari New York Red Bulls.

Choupo-Moting dan Adams sama-sama memulai laga perempat final sebagai pemain pengganti. Bukti kejelian dua pelatih Jerman, Thomas Tuchel dan Julian Nagelsmann menyesuaikan taktik dengan situasi permainan.

Selain sukses menyambar umpan silang Mbappe, Choupo-Moting juga mengkreasi umpan kepada Neymar yang menyajikan asis pada gol Marquinhos. Kehadirannya sanggup memastikan penguasaan bola Les Parisien tidak selalu tuntas di kaki Neymar atau Mbappe. Alternatif tidak masuk radar lini belakang Atalanta yang terus dicecar akselerasi Neymar.

Sedangkan Adams melepaskan satu-satunya tembakan. Tanpa tedeng aling-aling, berbuah gol. Anggaplah keberuntungan, tapi dia juga cukup cerdas mengarahkan bola ke Stefan Savic yang sulit 100% fokus setelah kepalanya diperban.

“Kami sedikit beruntung dengan gol kemenangan tersebut. Tetap saja, kami tim yang lebih baik secara keseluruhan dan menunjukkan kedewasaan,” ungkap Nagelsmann.

Beda Gaya Dua Kekuatan Finansial

Nagelsmann dan Tuchel sebetulnya juga nama baru di jagat kepelatihan sepak bola. Keduanya belum banyak dibicarakan sampai pertengahan 2010-an. Tuchel untuk pertama kalinya menukangi tim di luar Jerman saat bersama PSG dua tahu lalu. Sedangkan, Nagelsmann baru berkesempatan membesut tim kompetitor juara liga setelah tiga tahun menimba pengalaman dengan Hoffenheim.

Karier keduanya sebagai pesepak bola kelewat jongkok. Tuchel hanya membela tim gurem seperti Stuttgarter Kickers dan SSV Ulm dalam enam tahun karier profesional. Nagelsmann lebih suram, karena pensiun dini akibat cedera lutut tanpa sekalipun mengecap sepak bola kancah senior. Nagelsmann sempat membantu Tuchel sebagai analisis saat memimpin FC Augsburg II.

Keduanya jebolan Akademi Kepelatihan Heiness-Weisweller. Akademi pencetak pelatih jempolan yang ketat sejak audisi dengan hanya merekrut 24 peserta. Studi selama 815 jam menyoal statistik, nutrisi, kebugaran, sampai perkembangan pemain dilahap untuk mendapat Lisensi UEFA Pro.

Durasinya jauh lebih lama ketimbang standar UEFA sendiri dengan masa studi 240 jam. Mereka mesti magang selama delapan bulan di klub profesional. Sebagai pertanggungjawaban, peserta diminta membuat makalah mengenai filosofi sepak bola mereka.

Tuchel dan Nagelsmann baru bersua empat kali di ajang Bundesliga. Tuchel menang dua kali bersama Dortmund dan alami sekali kalah dari Hoffenheim pimpinan Nagelasman. Agregatnya imbang, 7-7.

Berhubung RB Leipzig baru lahir pada 2009 dan PSG pun baru mentereng sejak 2011, kedua tim sama sekali belum punya rekor pertemuan. Keduanya menyasar final pertama mereka di kompetisi elite Eropa.

Sorotan utama jelas mengarah kepada bintang-bintang PSG. Sebab pada pundak Neymar dan Mbappe, era baru klub Paris sebagai brand bukan sekadar klub sepak bola ditampilkan.

Sedangkan, tim asal Leipzig jelas perwajahan utama perusahaan multinasional Red Bull di sepak bola Eropa. Keduanya punya model bisnis berbeda, tapi sama-sama merusak kemapanan milik tim tradisional.

Ada lima tim sepak bola Red Bull. Kelimanya saling berjejaring mengembangkan pemain. Ada delapan pemain RB Leipzig musim 2019-20 datang dari skema pengembangan karier seperti itu.

Mereka memang tidak membeli pemain bintang, tapi mengembangkan bakat terbaik dengan sokongan paling optimal. Sebagai tim milik perusahaan yang menjadikan industri olahraga sebagai wadah untuk ‘story profiling’, RB Leipzig semakin mekar sejak promosi ke Bundesliga pada 2016.

Kita tahu, PSG berubah nasibnya setelah konsorsium Qatar pimpinan Nasser Al-Khelaifi menguasai mereka. Pemain elite hampir setiap musim tiba di klub Paris.

Klub juga terus mengasosiasikan diri lebih daripada tim sepak bola lewat kerja sama ekslusif dengan jenama busana, Air Jordan. Bukan pemandangan asing, selebritas Hollywood atau bintang dari olahraga lain memakai seragam trendi Les Rogeu et Bleu. Pada musim ini saja, NBA menggelar laga pertama kalinya di ibu kota Prancis lengkap dengan kehadiran pemain PSG di tepi lapangan.

Di balik dahsyatnya domplengan kekuatan besar kapital, tetap ada nama-nama ‘biasa’ yang bekerja untuk mereka. Siapa sangka, Adams yang jarang bermain memastikan tetap ada logo dua banteng merah di babak semifinal.

Dia pemain paling obskur di antara kumpulan para pemain obskur yang terkelola dengan sejahtera. Tidak ada tim dari sisi timur Jerman yang pernah bisa sebising ini.

Bukan Neymar dan Mbappe yang secara langsung menghapus pilu PSG, karena kena remontada melulu. Melainkan, kaki jenjang pemain keturunan Kamerun yang membuat klub hypebeast bisa bergaya di Lisabon sekali lagi. Hanya empat pemain muda yang jarang tampil di skuar utama bergaji bulanan lebih rendah daripada Choupo-Moting (275 ribu euro).

Nagelsmann dan Tuchel bisa saja sejenak minder tidak sejentik pun punya karier sepak bola yang sama dengan anak asuh mereka. Namun, kejeniusan dua laki-laki Jerman itu sanggup meyakinkan para pemodal kuat untuk percaya menyerahkan arah tim kepada keduanya. Bahkan nihil status juara Bundesliga.

Dari secuplik aksi Adams dan Choupo-Moting, barang kali malam nanti kembali milik orang-orang ‘biasa’. Christopher Nkunku tahu bagaimana melukai mantan klubnya. Sedangkan PSG juga punya personel yang akrab dengan sepak terjang tim Jerman, semisal Thilo Kehrer, Julian Draxler, dan Juan Bernat. Mereka bisa saja mengambil layar yang terbiasa berisi Neymar, Mbappe, atau Dayot Upamecano.

Kisah-kisah kejutan kerap bertambah sedap di telinga dengan peran signifikan ‘orang-orang biasa’. Liga Champions selamanya menyediakan kemungkinan semacam itu berkembang subur.

Sumber: Athletic Interest/Transfermarkt/Talksport.


Untuk menambah keseruan pertandingan ini, Anda bisa seru-seruan dengan bermain MPL Fantasy. Aplikasi MPL menyediakan permainan fantasy football yang memberikan Anda kesempatan untuk memenangkan GoPay dan LinkAja. Satu berlian yang Anda dapatkan dalam permainan MPL Fantasy dapat Anda tukarkan langsung dengan Rp100 rupiah saldo GoPay dan LinkAja. Download aplikasi MPL pada link berikut melalui ponsel android Anda.

[Download aplikasi MPL]

Komentar