Man City dan Lyon Membidik Semifinal Kedua Mereka

Cerita

by Rahman Fauzi

Rahman Fauzi

Homo Narrans.

Man City dan Lyon Membidik Semifinal Kedua Mereka

Pep Guardiola mewarisi tim Manchester City yang menembus semifinal Liga Champions bersama Manuel Pellegrini. Berjalan empat musim, Pep Guardiola belum sekalipun berhasil mengulangi pencapaian tertinggi klub di kompetisi ini.

Sebagai juru taktik, dia menyabet dua trofi ‘Si Kuping Besar’. Semua terjadi bersama Barcelona. Tidak sekalipun dengan Bayern Muenchen. Klub Jerman yang menunggu mereka di semifinal.

Mari lupakan Bayern sejenak. Bukan karena kegagalan Guardiola meraih apa yang dicapai Jupp Heynckes pada 2013. Namun memang Olympique Lyon yang datang tepat di wajah pada Minggu (16/8) jam 02.00 WIB.

Klub Prancis memaksa Cristiano Ronaldo memikirkan ulang masa depannya di Turin. Menyalami Maurizio Sarri yang mulutnya asam, karena dilarang merokok di dalam stadion, tersingkir di kandang sendiri, dan akhirnya dipecat I Bianconeri. Mari lupakan juga Juve.

Stadion Jose Alvalade terlebih dulu menyajikan pertunjukan kikuk saat Atletico Madrid kelimpungan menghadapi RB Leipzig. Atletico yang dalam banyak momen berada di posisi underdog, mati gaya akibat status ‘mendadak unggulan’ dengan pernah tiga kali menembus final Liga Champions.

Sepakan Tyler Adams jelang akhir laga membentur Stefan Savic yang kepalanya diperban. Jan Oblak tidak sanggup berbuat banyak. Anggaplah keberuntungan. Sekalipun, Dewi Fortuna juga mengerti ke mana dia harus berpihak.

Lantas, pada duel Man City versus Lyon, siapa yang berada di posisi unggulan? Dengan popularitas, reputasi, dan prestasi domestik terbaru, Man City tentu saja favorit menang. Hah, sungguh?

Perjumpaan terakhir kedua klub belum lama terlewat. Pada musim lalu, mereka saling bersua di babak grup dengan hasil Lyon menang tandang dan satu laga lain berakhir imbang. Sekalipun historinya singkat, tetap hadir trivia kalau Lyon, satu-satunya kontestan Liga Champions yang Man City paling sering hadapi dengan hasil tanpa menang.

Banyak yang berubah dari Lyon sembilan bulan lalu. Pelatih Bruno Genesio sekarang menimba banyak pengalaman dan uang di Liga Super Cina. Pencetak gol kemenangan, Nabil Fekir barang kali sedang menyesali mengapa bisa-bisanya musim ini dia pindah ke Real Betis. Satu pencetak gol lain di Manchester, Maxwel Cornet masih berada di klub sekalipun tidak lagi menjaringkan bola di kompetisi Eropa.

Mencari Langkah Terjauh

Perwajahan Les Gones musim ini berubah drastis saat klub menunjuk Juninho Pernambucano sebagai Direktur Teknik. Menonton ulang video kumpulan tendangan bebasnya saat bermain memang indah di mata. Namun, saat dia mengangkat rekan sejawat Sylvinho yang tidak sekalipun berpengalaman menukangi tim, jelas bikin penggemar garuk-garuk kepala.

Hanya lima bulan, Sylvinho dipecat. Satu pekan setelah kemenangan 2-0 di markas banteng, RB Leipzig. Apa daya, sekali menang dalam sembilan laga terlalu memalukan untuk mereka. Lantas, Rudi Garcia masuk sebagai pilihan aman. Perlahan, klub mendapatkan kestabilan.

Wajah eks pelati AS Roma begitu girang, setelah Lyon berhasil menggagalkan Juve mencetak gol ketiga dalam durasi 90+7 menit permainan. Memphis Depay, dkk. melenggang ke perempat final berkat keunggulan gol tandang.

Depay seharusnya disebut lebih awal. Satu pemain yang kalau mendadak berhenti melangkah, memejamkan mata, dan menutup telinga, berarti papan skor berubah angka. Kariernya terselamatkan di klub elite Prancis setelah remuk bersama Manchester United.

Tidak banyak yang bisa diceritakan dari karier semusim Depay di Manchester. Dia termasuk pembelian mahal gagal yang tambah buruk karena bernomor punggung tujuh. Untung saja, baru-baru ini Alexis Sanchez menggesernya di puncak klasemen pemain nomor tujuh terpayah MU setelah Cristiano Ronaldo pindah.

Depay mencetak enam gol di Liga Champions. Melengkapi koleksi sembilan gol liga sebelum direcoki cedera. Kontrak Depay tersisa satu musim lagi. Jika ingin punya daya tawar kuat untuk negosiasi gaji atau pindah ke klub yang lebih prestise, hanya performa gemilang yang memungkinkannya.

Lyon hanya punya satu cara untuk bermain di Liga Champions musim depan. Kelewat berat, karena mereka harus juara musim ini. Padahal, mereka sama seperti Manchester City yang tidak pernah juara dan hanya sekali mencapai semifinal. Pada perempat final musim 2009-10, Les Gones mengangkangi Bordeaux lengkap dengan penyerang legendaris, Marouane Chamakh.

Lolos lewat jalur posisi di Ligue 1 tertutup. Pemerintah Prancis terlalu gegabah meminta kompetisi berhenti setelah merebaknya pandemi korona. Upaya banding lewat meja hijau juga mentah.

Mereka tidak habis pikir otoritas liga malah memilih jalur yang sama dengan Belgia dan Belanda. Bukan menyiasati situasi seperti Jerman beserta tiga liga top lain. Dengan gagalnya mereka bermain di kompetisi Eropa, menjual bintang seperti Depay dan Houssem Aouar terasa pasti.

Aouar bersama debutan Maxence Caqueret menampilkan performa bintang lima saat menyudahi perlawan Juventus di Turin. Pada malam nanti, keduanya bersama Bruno Guimaraes, Leo Dubois, dan Maxwel Cornet beradu intensitas dengan lini tengah City selaku degup permainan tiki-taka Guardiola. Kelimanya berusia tidak lebih dari 25 tahun.

Komposisi gelandang Manchester City banyak orang mengerti. Dipimpin Kevin De Bruyne yang menggarap 13 gol dan 20 asis di Premier League, The Cityzens lazim bermain rancak. Memang, De Bruyne hanya menjaringkan sebutir gol dan sepasang asis di Liga Champions, tapi kontribusinya lebih daripada itu.

Squawka mencatat, De Bruyne mengkreasikan sembilan peluang gol saat mengandaskan Real Madrid 2-1. Jumlah yang lebih banyak daripada milik Los Galacticos secara kolektif. Jumlah yang lebih banyak dari siapapun yang menghadapi Los Blancos di Liga Champions sejak 2003.

Untuk sektor depan, Guardiola hanya punya Gabriel Jesus kalau ingin memainkan penyerang. Sekalipun memasang Bernardo Silva sebagai false nine pernah dicoba untuk mengganti Sergio Aguero yang cedera.

Pada satu laga terdahulu, peran Jesus begitu menggangu Raphael Varane yang berseragam merah jambu. Tekanan Jesus sanggup memperdayai bek pengoleksi empat trofi Big Ear sampai harus melakukan blunder melulu.

Kemampuan Jesus bertahan juga tampak saat dia tiba-tiba menggagalkan peluang emas hasil rangsekan Dani Carvajal. Kemampuan bertahan penyerang tunggal kadung menjadi variabel penting bagi tim yang mengandalkan goalscoring winger. Jelas, Raheem Sterling dan Riyad Mahrez juga kontributor penciptaan gol maupun asis The Cityzens.

Untuk kompetisi Eropa, Guardiola belum kunjung melampaui atau bahkan menyamai standar yang Pellegrini pasang. Pada dua musim terakhir, Ederson, dkk. hanya sanggup mencapai delapan besar. Musim lalu, mereka gagal menjegal Tottenham Hotspur setelah banyak gaduh, karena VAR.

Sekarang, peluang menembus semifinal terbuka lebar. Sekalipun jelas tidak cukup. Sebab, Guardiola direkrut dengan misi menyajikan gelar juara Eropa. Manchester City era Khaldoon Al Mubarak jelas tidak ingin disamai dengan Spurs dan Bimingham City yang punya gelar Piala Liga sebagai trofi terakhir mereka. Setidaknya sampai akhir musim ini.

“Ini momen penting dalam karier kami. Saya lebih ingin tampil di kandang, tapi ini jelas situasi spesial,” ungkap Guardiola.

Kontrak Guardiola di Manchester biru tuntas pada akhir musim depan. Belum ada perpanjangan. Seperti siapapun, masa depannya tidak pasti. Kekalahan dari Lyon hanya memungkinkan kinerjanya dievaluasi begitu teliti.

Manchester City sanggup mengalahkan Real Madrid pimpinan Zinedine Zidane yang tidak pernah tersingkir pada babak gugur Liga Champions. Logikanya, Lyon bisa dijinakkan.

Namun, seperti banyak aspek kehidupan lain, logika tidak pernah cukup menjadikan sesuatu yang abstrak begitu konkrit.

Manchester City unggulan, tapi Lyon berpengalaman membuat kejutan.

Sumber: uefa.com/transfermarkt/squawka.

Komentar