Liga 1 2020: Antara Akselerasi dan Slot Kompetisi Elite Asia

Cerita

by Gia Pijar Perdana

Gia Pijar Perdana

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Liga 1 2020: Antara Akselerasi dan Slot Kompetisi Elite Asia

Di tengah antusiasme akan segera dimulainya Liga 1 2020, ada satu kesedihan yang menimpa sepakbola Indonesia. Per musim kompetisi 2021, klub Indonesia tidak akan mendapat satupun slot preliminary round 1 di kompetisi antarklub tertinggi di Asia, Asian Champions League.

Catatan pahit musim depan seolah mengulangi kisah pahit tahun 2013 dan 2014. Saat itu Indonesia juga tak mendapat slot di kompetisi elite Asia dikarenakan dualisme kompetisi sehingga menghilangkan sikap professional sesungguhnya di mata AFC. Serupa, tahun 2016 dan 2017 pun Indonesia absen di kompetisi antar klub tertinggi Asia setelah PSSI dan sepakbola Indonesia dihukum FIFA.

Kepahitan periode tersebut sejatinya kembali terulang tahun 2021 mendatang. Dari daftar ranking terbaru, klub Indonesia tidak mendapat jatah slot apapun di Asian Champions League musim depan, baik itu babak play-off pertama yang sejak 3 musim terakhir diikuti Bali United dan Persija Jakarta. Alasannya menyangkut performa klub Indonesia di kompetisi Asia yang jauh dari kata memuaskan.

Secara peringkat, kegagalan klub-klub Indonesia baik itu Bali United atau Persija Jakarta melaju jauh di LCA 2020 membuat posisi Liga 1 di ranking kompetisi AFC melorot ke posisi ke-13, sebelumnya berada di posisi 11. Ranking ini secara berkala diperbaharui oleh AFC dengan menghitung prestasi setiap klub di kompetisi resmi klub AFC, baik itu Liga Champions Asia maupun Piala AFC dalam rentan waktu 4 musim terakhir.

Melorotnya posisi Indonesia juga dipengaruhi penampilan apik klub Korea Utara di AFC Cup selama 3 musim terakhir yang diwakili April 25 SC sehingga membuat ranking kompetisinya naik ke posisi 7 Wilayah Timur. April 25 SC sanggup melaju ke Inter-Zone Playoff Semifinal tahun 2017, inter Zone Playoff Final tahun 2018 dan Final AFC Cup tahun lalu.

Kub Indonesia hanya mentok di semifinal ASEAN Zone seperti yang dicapai Persija Jakarta (2018) dan PSM Makassar (2019). Pekerjaan Rumah serta beban ada di Pundak PSM dan Bali United yang menjadi wakil Indonesia di kompetisi Asia tahun 2020. Pencapaian mereka akan menentukan ranking kompetisi Indonesia tahun mendatang dan tentunya keikutsertaan di kompetisi tertinggi Asia.

Benah-benah Kompetisi

Entah kebetulan atau tidak, secara tidak langsung PSSI dan PT LIB perlahan mulai membenahi sistem kompetisi 2020 dengan hal yang paling dasar: jadwal liga. Berbanding terbalik dengan Liga 2019 yang dimulai di bulan Mei, Liga 1 2020 akan memulai kick-off di akhir Februari 2020 dan rencana akan selesai di akhir Oktober 2020 mendatang, atau paling telat di bulan November. Jadwal ini bisa disebut seragam dengan liga-liga lainnya di Asia Tenggara.

Sebagai contoh, Thai League, sebagai liga terbaik Asia Tenggara, telah memulai kompetisi 14 Februari yang lalu dan direncanakan akan selesai di bulan Oktober. Liga Malaysia akan memulai kick-off serupa dengan Liga 1. Vietnam dan Filipina akan memulai Liga mereka di bulan Maret mendatang.

Pembenahan jadwal liga tahun ini mempunyai satu alasan besar, yaitu target juara Piala AFF 2020 mendatang. Jika kita asumsikan liga berjalan sesuai rencana dan akan selesai paling lambat akhir bulan November mendatang, maka timnas senior akan mempunyai waktu untuk persiapan yang cukup dan yang paling penting fokus tanpa terganggu urusan klub lagi. Seperti diketahui, Piala AFF 2020 akan digelar mulai 14 Desember 2020.

Lalu apa hubungannya hal ini dengan nasib jatah Indonesia di Liga Champions Asia? Percayalah, tidak ada satu klub pun akan sukses di level kejuaraan antar klub negara tanpa dukungan sistem liga lokal yang serba tertata rapi.

Secara luas sebenarnya bukan hanya masalah penjadwalan Liga saja yang rapi, semua faktor yang membuat Liga 1 naik kelas nantinya akan mempunyai efek tersendiri untuk setiap tim yang mewakili Indonesia di kancah Asia. Namun masalah jadwal ini menjadi awal tonggak Liga 1 Indonesia yang memang terus berbenah sejak selesainya sanksi FIFA 2017 mendatang. Kita tentu berharap penjadwalan rapi sejak awal sudah mengantisipasi semua kemungkinan yang akan terjadi selama satu musim ke depan, agar tidak muncul lagi drama-drama pembatalan laga beberapa hari sebelum laga tersebut dihelat. Karena tentu sangat berpengaruh terhadap fokus tim itu sendiri. Hal tersebut menguntungkan para wakil Indonesia di kompetisi Asia yang jadwalnya sudah tersusun rapi sedemikian rupa.

Persoalan tingkat kompetitif Liga pun berpengaruh sangat besar. Beberapa klub di Indonesia yang musim ini sudah tak lagi sungkan gelontorkan dana transfer untuk merekrut pemain merupakan hal positif yang akan berdampak secara tidak langsung bagi kualitas Liga baik secara teknis maupun bisnis. Di sisi teknis, semakin klub-klub Indonesia punya standar kemampuan yang bagus maka tentu klub perwakilan di kompetisi Asia akan perlahan naik standar permainannya.

Perbedaaan tingkat permainan pun yang jadi masalah terbesar klub Indonesia di AFC Cup dalam beberapa tahun terakhir. Sejak 2018, dua klub Indonesia hanya mampu menggapai semifinal zona Asean. Persija (2018) dan PSM (2019) sama-sama takluk dari wakil ASEAN, Persija dari Home United serta PSM dari Becamex Bin Duong.

Apapun itu, langkah PSSI untuk akselerasi sepakbola Indonesia patut dinantikan dan juga didukung sepenuhnya. Pembenahan liga yang dimulai dari sisi jadwal sudah sangat tepat, walaupun sebenarnya perubahan ini mendapat stimulus dari kondisi tahun 2021 dimana untuk menuju kesana scheduling management PSSI beserta stake-holder bersangkutan tak boleh salah. Namun setidaknya kita punya satu sistem yang bisa terus dilanjutkan tahun depan.

Pada akhirnya, sistem liga dalam negeri menjadi fondasi awal untuk klub kita berprestasi di kancah Asia ke depannya.

Komentar