Menerima AC Milan Jadi Bahan Tertawaan

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi 28436

Ardy Nurhadi Shufi

Juru Taktik Amatir
ardynshufi@gmail.com

Menerima AC Milan Jadi Bahan Tertawaan

AC Milan kalah lima nol dari Atalanta. Lima-nol. AC Milan. Kalah. Wow.

Atalanta memang sedang hebat-hebatnya. Mereka baru mencatatkan sejarah di Liga Champions, tempat seharusnya Milan berada. Tapi kekalahan lima gol tanpa balas tetap memalukan bagi AC Milan. Milan lebih buruk dari yang, setidaknya saya, perkirakan.

Sampai dalam titik sekarang, rasanya sudah saatnya pendukung AC Milan membiarkan klub yang dicintainya sengsara. Sudah banyak orang yang menganalisis di mana letak kesalahan AC Milan. Dimulai dari miss-manajemen, kualitas pemain, kualitas pelatih, dan faktor-faktor lainnya dikuliti, semuanya merupakan hal yang masuk akal sebagai sebab rusaknya mentalitas dan kualitas klub sebesar AC Milan.

Pendukung AC Milan sudah harus benar-benar menerima betapa tak bisa diharapkannya I Rossoneri saat ini. Sudah berapa kali kalian menikmati harapan semu berbalut kalimat "Era Baru AC Milan"? Lain kali kalau membaca lagi kalimat seperti itu, langsung saja balas dengan meme bertuliskan "Iri Biri IC Milin".

VIDEO: 10 gol terbaik dari pemain nomor pungung 10 AC Milan



Begini, ketika kita dalam kondisi selalu mendapatkan kesialan dan merasa setiap hal yang dilakukan merupakan sebuah kesalahan, terkadang yang harus kita lakukan adalah diam untuk berpikir sejenak. Bisa jadi sebelumnya kita memang tak siap melakukan apa yang telah kita lakukan. Bisa jadi kita salah perhitungan dan pertimbangan. Bisa jadi kita terlalu buru-buru dalam mengambil keputusan. Itulah yang juga sedang dilakukan Milan.

AC Milan sedang mencari momen untuk menyadari hal di atas. Menghamburkan biaya 200 juta euro pada 2017/18 jelas hanya menjadi masturbasi hedonisme yang dilakukan Yonghong Li. Sudah terbukti, hanya sedikit pemain yang masih nongkrong di susunan utama skuat saat ini —saat menghadapi Atalanta hanya Hakan Calhanoglu, Andrea Conti, Mateo Musacchio, Franck Kessie, dan Ricardo Rodriguez yang bermain—.

Menyisakan Paolo Scaroni dari delapan pemegang saham AC Milan di era Yonghong Li menjadi indikasi bahwa Elliot Management mengontrol AC Milan hanya untuk mendapatkan kembali uang mereka yang sebelumnya dipinjam Yonghong Li. Scaroni adalah seorang pebisnis dan ekonom. Karena itulah Elliot Management tak ambil pusing dengan rekam jejak Scaroni di sepakbola yang hanya sebentar menjadi Presiden Vicenza pada akhir 90an, dibanding Marco Fassone, misalnya, yang pernah berada di lingkar manajemen Juventus, Napoli, dan Inter.

Karena tujuan utama Elliot Management adalah memperbaiki finansial AC Milan, jangan heran jika manajemen Milan tak lagi ingin menjanjikan apapun pada fans, termasuk kemenangan. Ivan Gazidis, CEO yang ditunjuk Scaroni, juga sudah menegaskan kalau dia tidak diberi batas waktu untuk memperbaiki AC Milan. Milan bapuk bisa lebih lama, gengs~

Jadi ketika Gazidis keliru memilih Marco Giampaolo dan Stefano Pioli justru semakin mempermalukan Milan, itu masalah besar tapi bukan masalah yang membuat mereka harus panik dan segera mencari solusi lain. Milan saat ini sudah dalam fase yang akan menerima setiap kekalahan, seperti kita dalam fase yang mencari momentum untuk kembali melakukan hal benar dalam hidup kita.

Segala cara akan dicoba oleh manajemen Milan. Menunjuk Gennaro Gattuso dengan pendekatan keras pada pemain tapi dianggap kurang punya kemampuan taktis, memilih Giampaolo yang punya kelebihan dari segi taktis tapi bermasalah dalam penanganan stabilitas ruang ganti, sekarang giliran Milan dilatih oleh Pioli yang dikenal punya kemampuan penanganan ruang ganti yang baik sehingga bisa memaksimalkan bakat para pemain.

Bisa jadi Milan saat ini memang hanya butuh waktu. Sampai semua persoalan finansial selesai, Milan akan kesulitan bersaing di lapangan. Pergantian pelatih tetap harus dilakukan ketika hasil tak sesuai perkiraan sebagai upaya mencari sosok yang mampu bisa menjaga kepercayaan publik dan para pemain potensial masih percaya akan proyek Milan saat ini.

Milan belakangan sangat mudah kehilangan pemain. Bermain di tim yang sedang bermasalah, tentu tak mudah dan cepat gerah. Dampaknya, banyak pemain yang sebenarnya tepat untuk Milan tapi "terpaksa" hengkang dengan harga yang terbilang murah, seperti Carlos Bacca, Mattia De Sciglio, Juraj Kucka, sampai Manuel Locatelli. Imbasnya, dulu Milan mengandalkan pemain sekelas Andriy Shevchenko, Ronaldinho dan Andrea Pirlo, sekarang hanya sebatas Rafael Leao, Suso dan Samu Castillejo.

Ketika Patrick Cutrone dijual ke Wolverhampton Wanderers awal musim ini, itu pun karena aspek finansial yang bisa membantu percepatan perbaikan finansial Milan. Cutrone, yang merupakan top skorer Milan musim 2017/18 lewat 18 gol, dijual dengan harga 18 juta euro. Transfer ini menjadi transfer paling menguntungkan setelah penjualan Thiago Silva dan Zlatan Ibrahimovic lima tahun sebelumnya. Transfer Mario Balotelli dan Leonardo Bonucci memang lebih tinggi dari penjualan Cutrone, tapi jika menghitung besaran gaji yang diterima keduanya dibandingkan Cutrone, juga nilai transfer pembelian mereka sementara Cutrone berasal dari akademi, penjualan Cutrone menjadi keputusan tersulit sekaligus termudah yang dilakukan oleh manajemen Milan saat ini.

Hengkangnya Cutrone berdampak pada ketajaman Milan musim ini. Musim lalu, ketika Krzysztof Piatek mengalami kebuntuan, Cutrone bisa diandalkan. Sekarang penyerang asal Polandia itu tumpul, yang muncul jadi juru selamat justru Theo Hernandez, seorang pemain belakang. Torehan gol mantan pemain Real Madrid tersebut saat ini lebih banyak dari Calhanoglu, Suso, dan Lucas Paqueta. Ironis.

Manajemen Milan akan terus berusaha keras mencari cara agar tidak mudah berganti susunan sebelas pemain utama setiap musimnya. Namun selama finansial masih defisit, setiap pelatih Milan harus siap dengan risiko itu. Setiap pendukung Milan harus mewajarkan dengan situasi itu.

Tentu akan tiba masa di mana Milan tak lagi jadi bahan tertawaan. Tapi Milanisti harus mampu bertahan. Segala provokasi pendukung rival abaikan.

Sekarang biarkan dulu (manajemen) AC Milan bertungkus lumus dengan cara-cara yang tak terduga, dengan hasil-hasil yang membelalakkan mata. Redam dulu keinginan melihat Milan bisa kembali berjaya dalam waktu dekat. Kebahagiaan akan datang pada saat yang tepat; cepat atau lambat.

Komentar