Yang Perlu Dibicarakan Jelang Indonesia vs Thailand

Cerita

by Evans Edgar Simon

Evans Edgar Simon

Death. Glory. Rock n Roll. Kontributor Pandit Football Indonesia.

Yang Perlu Dibicarakan Jelang Indonesia vs Thailand

Kekalahan dari Malaysia lebih menyakitkan ketimbang sekadar kehilangan angka. Laga melawan Thailand, Selasa (10/09/2018), harus menjadi ajang penebusan bagi Indonesia.

Rasanya mustahil untuk langsung melupakan kejadian di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Kamis (05/09/2018) malam lalu. Indonesia tidak hanya dipermalukan oleh Malaysia, melainkan juga oleh sekelompok oknum suporternya sendiri yang merusuh.

Insiden tersebut berdampak cukup fatal: Pertama, kebanggaan PSSI karena sukses bertugas sebagai tuan rumah (baca: event organizer) turnamen-turnamen internasional tahun lalu jadi terasa masuk akal. Mereka mampu menggelarnya tanpa gangguan berarti kendati aksi kekerasan di tingkat kompetisi nasional belum teratasi.

Kedua, kepercayaan diri Indonesia dalam keadaan minus. Di atas kertas, laga kandang menghadapi Malaysia memang peluang terbaik meraih kemenangan di antara seluruh laga Grup G. Palu seakan sudah diketuk atas nasib Garuda: "Selamat Tinggal, Piala Dunia!"

Selain kepercayaan diri, timnas juga kehilangan kepercayaan publik. Sulit membayangkan SUGBK dapat kembali padat ketika melawan Thailand nanti -laga vs Malaysia dihadiri 54.659 penonton. PSSI melaporkan hanya sekitar 7.000 tiket yang terjual per Senin (09/09/2018) pagi.

Ini bukan pengaruh kualitas permainan semata. Percayalah, Indonesia kalah itu sudah biasa. Keberadaan sekelompok oknum primitif di stadion lah yang sulit diterima.

Menonton sepakbola tidak seharusnya membahayakan keselamatan. Bagi yang berakal sehat pasti sepakat: aksi tercela mereka jauh lebih membuat malu dan kecewa ketimbang hasil akhir pertandingan.

Memulihkan rasa aman di tribun tidak bisa dilakukan dalam hitungan hari. Padahal, dukungan langsung suporter sangat dibutuhkan.

Tentu masih banyak hal yang patut dibicarakan terkait kerusuhan kemarin. Namun, untuk sekarang, agaknya pembahasan ini kurang efektif.

Satu-satunya hal yang bisa langsung mengembalikan kepercayaan (dan dukungan) publik kepada timnas Indonesia hanya hasil memuaskan melawan Thailand. Pelatih Simon McMenemy menyadarinya.

"Tak ada hal lain yang bisa kami lakukan selain move on dari kekalahan itu," ucap Simon seperti yang dikutip BolaSport.

Benar bahwa hasil akhir adalah segalanya dalam pertandingan olahraga. Bagaimanapun, jalannya babak pertama ketika menghadapi Malaysia menunjukkan ada sejumput harapan bagi Indonesia.

Skuat Merah-Putih tidak sepenuhnya kalah kelas dibanding Malaysia. Bisa dilihat di babak pertama, penyerangan kita lebih mengancam dan pertahanan kita lebih solid.

Operan dari kaki ke kaki relatif mulus. Keberadaan Zulfiandi dan Evan Dimas sebagai double pivot memungkinkan Stefano Lilipaly bergerak lebih bebas sebagai gelandang serang.

Permasalahan jelas muncul di babak kedua -yang berujung dengan dua gol Malaysia. Indonesia gagal mengantisipasi perubahan taktik lawan.

Pemain naturalisasi Mohamadou Sumareh yang awalnya berada di sayap kanan dipindah ke sayap kiri. Sementara, garis pertahanan diturunkan. Hal ini terbukti jitu membuka ruang bagi Sumareh sekaligus menyulitkan Indonesia menebus pertahanan Malaysia.

Selain itu, stamina juga menjadi problem. McMenemy telah menyatakan bahwa para pemain disulitkan oleh jadwal Liga 1 yang padat.

Dua pelajaran penting telah didapat. Indonesia harus membuktikan bahwa mereka bukan kesebelasan yang lebih bodoh dari keledai. Meski demikian, mengharapkan perubahan instan dan sporadis dalam laga vs Thailand nampaknya terlalu muluk.

Kualifikasi bukan adu sprint. Ini adalah sebuah marathon. Apapun hasil melawan Thailand, masih ada delapan pertandingan untuk membalikkan situasi.

Penting diingat, kualifikasi digelar bertahap hingga Juni 2020. Artinya, McMenemy punya banyak kesempatan untuk perbaiki kekurangan. Jika tidak mampu finis di peringkat pertama, setidaknya berjuanglah agar terhindar menjadi juru kunci.

Hal sama berlaku bagi PSSI, terutama ketika menggelar pertandingan kandang. Masalah klasik, seperti antrian masuk stadion yang berantakan, tidak adanya petugas untuk membantu penonton di tribun, atau kurangnya koordinasi keamanan wajib dituntaskan.

Kita sebagai suporter harus ikut berbenah. Perubahan bisa dimulai dari hal sederhana, misalnya menghormati lagu kebangsaan negara lain, menduduki bangku sesuai nomor, tidak menyuap oknum aparat untuk masuk stadion, hingga gunakan kamar kecil sesuai jenis kelamin yang telah ditentukan.

Satu perubahan positif adalah kemenangan bagi kita semua, demi persepakbolaan Indonesia yang lebih baik.

Pertandingan Indonesia vs Thailand akan digelar pada Selasa, 10 September 2019. Laga ini bisa disaksikan secara gratis melalui Web Streaming dan Apps Mola TV.

Komentar