Curhat Robert Alberts Soal Ramadan dan Liga 1

Cerita

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Curhat Robert Alberts Soal Ramadan dan Liga 1

Pertandingan-pertandingan Liga 1 Indonesia terus berlangsung sepanjang Bulan Ramadan 2018. Jika biasanya pertandingan Liga 1 dilangsungkan mulai sore hari, khusus selama Ramadan dimulai pada malam hari, yaitu pukul 20:30 WIB (21:30 WITA atau 22:30 WIT).

Melihat dampak Ramadan terhadap kegiatan sepakbola di Indonesia, pelatih kepala PSM Makassar, Robert René Alberts, curhat kepada Pandit Football Indonesia. "Ramadan adalah fenomena internasional. Namun jika kamu di Eropa sekarang, sudah tak ada pertandingan di sana selama Ramadan," katanya.

"Untuk bermain terlalu cepat setelah berbuka [itu tidak bagus]. Waktu berbuka puasa di Bandung adalah 05:40 [sore] kemudian butuh satu jam ke stadion, semuanya terburu-buru karena [kita mengedepankan] sisi komersialnya. Mereka seharusnya mengerti itu." Mereka yang dimaksud oleh Alberts adalah pengurus liga.

"Aku berpendapat sebaiknya pertandingan dilaksanakan setengah jam setelah itu, jam 9 malam, yang akan memberikan ritme lebih baik untuk pemain dan ofisial," kata Alberts setengah tidak setuju jika waktu sepak mula dilaksanakan pukul 20:30 WIB.

Sepakbola Sebaiknya Libur Saat Ramadan

Coach Alberts bukan hanya tidak terlalu setuju dengan waktu sepak mula selama Ramadan, melainkan juga berpendapat sebaiknya kompetisi diliburkan selama bulan suci.

"Dari sudut pandang teknis dan fisiologis, lebih baik ada jeda ketika Ramadan. Dalam 20 tahun terakhir di sisi dunia ini (Asia), beberapa negara memutuskan tak ada aktivitas [sepakbola] selama Ramadan, yang mana menurutku itu lebih baik dari sisi psikologis juga," lanjutnya.

Menurut Alberts, puasa bukan soal tidak makan saja, tapi juga soal menjaga performa.

"Dari pandanganku dan juga pandangan beberapa ahli, seharusnya tak ada aktivitas selama Ramadan," kata pelatih asal Belanda tersebut. Menurutnya, jadwal liga seharusnya disusun mengikuti Ramadan.

Ketika ia melatih di Malaysia dan Singapura, seringnya liga jeda ketika Ramadan, seperti yang terjadi tahun lalu. Meski demikian, tahun ini Liga Super Malaysia tetap berjalan selama Ramadan, yaitu setiap malam hari, sama seperti di Indonesia.

Baca juga: Kapan Sebaiknya Waktu Pertandingan Liga 1 Dimulai Saat Ramadan?

Ada perbedaan besar jika liga tetap berjalan selama Ramadan. Perbedaannya bukan hanya pada pertandingan, tapi juga pada sesi latihan.

"Latihannya berbeda. Kamu harus mempertimbangkan para pemain dan para staf [pelatih] yang berpuasa. Kami tak bisa langsung latihan setelah buka puasa," kata Alberts.

"Kami punya dua kelompok latihan, pertama semua orang latihan dengan sangat ringan, kemudian pemain yang berpuasa bisa pergi dulu, sementara pemain lain latihan lebih intensif. Semua orang berkata jika pekan pertama Ramadan adalah yang tersulit karena tubuh dan pikiranmu mengatur ulang terhadap ritme [Ramadan]. Itu yang harus dipertimbangkan dalam program latihan."

"Beberapa negara tetangga mulai latihan jam 10 malam atau bahkan jam 11 malam. Pengalaman dari situ tak terlalu positif, karena mereka punya pemain yang bervariasi, yaitu pemain yang berpuasa dan yang tidak. Tapi itu harus dilakukan agar ketika bulan puasa selesai semua pemain bisa kembali ke ritme semula," kata pelatih berusia 63 tahun itu.

Pertandingan Liga 1 Setiap Hari Selama Ramadan

Liga 1 musim ini biasa memainkan pertandingan setiap Jumat sampai Senin. Pertandingan-pertandingan tersebut disiarkan langsung. Sementara Selasa sampai Kamis biasanya diisi oleh jadwal Liga 2, yang juga kadang disiarkan langsung. Namun hal berbeda terjadi selama Ramadan ini karena jadwal pertandingan Liga 1 berlangsung setiap hari.

Selain karena terbatasnya waktu karena pertandingan harus digelar malam hari, pertandingan Liga 1 setiap hari selama Ramadan juga dilakukan untuk memaksimalkan pemasukan melalui siaran langsung. Hal ini dikritisi oleh Roberts.

"Aku pikir, sayangnya, sisi komersial terlalu banyak mengorbankan sisi teknis dan fisiologis. Kita terpaksa mengikuti karena alasan [siaran] televisi dan sponsor, yang mana sebenarnya bisa disikapi dengan cara yang berbeda," curhatnya soal pertandingan setiap hari saat Ramadan.

"[Hampir] setiap hari ada pertandingan [di Indonesia], itu tak terlalu biasa di sisi dunia lain. Yang biasa itu adalah setiap orang main bersama di dua atau tiga hari," lanjut pelatih yang pernah membawa Arema juara ISL 2010 itu.

"Namun di sini mereka punya budaya yang beda. Seperti yang aku bilang, mereka sudah paham aspek finansial dari pertandingan. Semua mengalah karena itu."

Sampai 9 Juni 2018 nanti, selalu ada pertandingan Liga 1 setiap harinya, disiarkan langsung pula. Setelah tanggal itu, Liga 1 dijadwalkan libur sampai 6 Juli 2018.

Bukan Mengkritik, Melainkan Menunjukkan Fakta

Selama ini, ditambah dengan ucapan-ucapannya di atas, Robert René Alberts dan PSM Makassar sudah dikenal sebagai pihak yang sering mengkritik PSSI, PT Liga, operator, dan pihak lainnya—termasuk wasit. Namun setelah dimintai klarifikasi, Alberts keberatan jika ia disebut mengkritik.

Baca juga: Protes PSM Makassar dan Pelanggaran Sepele Cerminan Mentalitas Bangsa

"Ada perbedaan besar. Aku tak setuju jika aku dibilang suka mengkritik, suka [memberi pesan] negatif [kepada operator]. Ketika aku bilang sesuatu, seringnya ada pemahaman berbeda, misinterpretasi, ditranslasikan berbeda ke bahasa Indonesia, jika dibandingkan dengan yang kami jelaskan. Kami tak pernah mengkritik, kami hanya menunjukkan fakta," katanya.

"Ketika kamu menunjukkan fakta, itu bukan untuk mengkritik, tapi untuk menunjukkan jika itu seharusnya tidak seperti itu. Kita harus profesional, kita harus tumbuh."

"Sebagai contoh, mereka bilang kami harus ke Serui. Tapi ketika melihat lapangannya, kondisi lapangannya tak memungkinkan memainkan sepakbola profesional. Kami punya bukti, kami punya gambar-gambarnya. Itu bertentangan dengan regulasi yang mereka taruh sendiri. Jadi kami tidak mengkritisi orang-orangnya, kami bertanya kenapa kamu tidak mengikuti aturan?"

Masih dari objek yang sama, Perseru, ia juga mempertanyakan soal perpindahan kandang mereka ke Malang pada saat melawan Barito Putera (17/05).

"Joko Driyono juga mengatakan dengan tegas kalau tidak ada kesebelasan yang boleh pindah seperti Serui tahun lalu. Semua orang harus diperlakukan sama, mereka semua harus ke Serui. Lalu apa yang terjadi? Pekan lalu, tanpa kami ketahui, [Perseru melawan] Barito bisa bermain di Malang."

"Itu tak adil bagi liga ini, karena hanya beberapa kesebelasan yang harus ke sana. Kami bukan mengkritik, tapi lagi dan lagi dan lagi, kami hanya menunjukkan fakta. Mereka menaruh regulasinya tapi mereka sendiri malah tidak mengikutinya," curhatnya.

"Tentu ketika kami melakukannya (menunjukkan fakta), orang yang berkuasa menganggap jika kami melawan mereka. Kemudian mereka mencoba menyakiti kami lebih lagi karena kami mengatakannya secara terbuka. Namun jika kami tak mengatakannya secara terbuka, maka tak akan ada yang improve. Seseorang harus mengatakannya. Ini tidak sesuai dengan regulasi PSSI, dengan regulasi liga."

Namun saat ditanya apakah PSSI dan PT Liga mengalami kemajuan dari tahun lalu, Robert sedikit mengiyakan meski bersyarat.

"Aku pikir ada beberapa orang yang bisa lebih baik tapi sayangnya masih ada lingkaran orang-orang yang sama juga yang membuat keputusan yang sama. Itu adalah masalah di sepakbola kita. Kamu tak bisa melihat ada darah baru di organisasi ini, di mana seharusnya orang-orang profesional yang ada di sana."

"Panggil Aku Robert, Bukan René"

PSM akan menghadapi tuan rumah Persib Bandung pada Rabu (23/05) malam. Sebelum melawan Persib, PSM menang 1-0 atas PS Barito Putera (ralat: Borneo FC) pada 19 Mei 2018. Persib memiliki waktu istirahat yang lebih panjang karena pertandingan terakhir mereka adalah ketika mereka menang 2-0 atas Persipura Jayapura pada 12 Mei 2018.

Soal Persib yang memiliki waktu istirahat lebih panjang, Alberts hanya tersenyum. Ia lebih banyak bicara soal persiapan kesebelasannya sendiri daripada kesebelasan lawannya. Meski begitu ia mengakui bahwa kesebelasannya mengalami kelelahan di awal Ramadan ini.

Untuk menutup sesi wawancara eksklusif, ia juga curhat soal orang-orang yang lebih senang memanggilnya dengan nama tengahnya (René).

"Aku tak tahu kenapa [banyak yang panggil aku René]. Nama [depan]ku Robert. Aku pikir semua orang harus tahu, namaku Robert, bukan René. Aku pikir itu terjadi ketika aku di Arema, semua orang memanggilku René. Tapi akan lebih baik jika semua orang memanggilku Robert," tutupnya dengan senyuman.

Komentar