Liverpool dan Roma Melaju Jauh Tanpa Ego

Cerita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Liverpool dan Roma Melaju Jauh Tanpa Ego

Presiden AS Roma, James Pallotta, begitu antusias menyambut hasil undian pertandingan semifinal Liga Champions 2017/18. Hasil undian yang berlangsung di markas UEFA, Nyon, Swiss pada 13 April lalu, menempatkan Liverpool FC sebagai lawan yang akan dihadapi Roma di fase empat besar.

Menghadapi Liverpool semifinal Liga Champions, Roma akan terlebih dahulu bertandang ke Anfield dalam pertandingan leg pertama pada Rabu (25/4) dini hari WIB. Sepekan berselang, tepatnya Kamis (3/5) dini hari WIB, baru Roma gantian menjamu Liverpool di Stadion Olimpico.

Bagi Pallotta, duel antara Roma melawan Liverpool tak ubahnya laga derbi. Sejatinya, Roma dan Liverpool merupakan dua kesebelasan yang berasal dari dua negara berbeda; Italia dan Inggris. Meski begitu, Roma dan Liverpool terkoneksi karena hubungan baik antarpemiliknya yang sama-sama berasal dari Boston, Amerika Serikat. Tak ayal, Pallotta pun menyebut laga tersebut sebagai derbi Boston.

Meski memiliki nama belakang yang kental dengan nuansa Italia, Pallotta sejatinya merupakan pengusaha sukses yang lahir dan tumbuh dewasa di Boston. Melalui perusahaannya, Raptor Group, Pallotta beserta tiga investor asal Amerika Serikat lainnya—Thomas DiBenedetto, Michael Ruane, dan Richard D`Amore—mengakuisisi kepemilikan AS Roma pada Juni 2011. Selain itu, sejak 2012, Pallotta juga tercatat sebagai anggota dewan klub basket NBA, Boston Celtics.

Sementara itu, sejak 2010 kepemilikan Liverpool berada dalam naungan Fenway Sports Group (FSG), perusahaan yang didirikan oleh John W. Henry dan Tom Werner. Henry dan Werner bukan orang asli Boston, seperti halnya Pallotta. Tapi, keduanya sudah 16 tahun menjalankan roda bisnis di Boston. Bahkan, FSG, perusahaan yang mereka bentuk sejak tahun 2001 itu bermarkas di Boston. Selain itu, FSG juga memiliki kendali atas kepemilikan klub baseball setempat, Boston Red Fox.

"Liverpool dimiliki oleh teman-teman saya di Boston, Tom Werner dan John Henry. Roma juga memiliki koneksi Boston. Luar biasa, ini akan menjadi derbi Boston. Tentunya ini akan menyenangkan. Henry menelepon saya malam itu (setelah hasil undian keluar), dan saya sudah mengirim SMS kepadanya. Ini akan menjadi pertandingan yang luar biasa bagi kami," ucap Pallotta, dikutip dari Football Italia.

***

Pallotta dan Henry bukan hanya terkoneksi karena hubungan baiknya. Kedua pebisnis itu pun sama-sama memiliki gairah yang besar terhadap olahraga. Hal tersebut disampaikan oleh David Ginsberg, salah satu pemilik saham FSG yang telah bekerja untuk Henry dan Pallotta.

“Mereka berdua sangat serius tentang olahraga. Mereka membawa kombinasi unik antara ketajaman bisnis dan semangat untuk olahraga. Itu mengatakan sesuatu tentang Boston menjadi kota olahraga. Anda tidak tiba di sana karena kebetulan," katanya, dilansir dari Boston Globe.

Dalam menjalankan bisnis olahraga, khususnya di bidang sepakbola, Pallotta dan Henry juga memiliki kesamaan pola. Keduanya bukan tipe pemilik kesebelasan yang bersedia dengan cuma-cuma menggelontorkan dana melimpah untuk membeli pemain berlabel bintang—tidak seperti Manchester City atau Paris Saint Germain (PSG) yang dimiliki oleh pengusaha asal Timur Tengah.

Mike Forde, CEO Sportsology, kepada ESPN mengatakan bahwa Pallotta maupun Henry sama-sama tidak bergantung pada pemain bintang untuk membuat sebuah langkah besar bagi klub yang dikelolanya. Sistem perekrutan pemain yang digunakan keduanya dalam mengembangkan tim asuhannya lebih berdasar pada pendekatan analisis, perekrutan cerdas dan cerdik.

"Liverpool dan Roma adalah studi kasus besar dari dampak pemikiran olahraga AS di Liga Premier dan sepak bola Eropa. Mereka menunjukkan bahwa Anda tidak harus bergantung pada belanja transfer besar dari tahun ke tahun untuk membuat langkah besar,” terang Forde.

Meski begitu, Roma dan Liverpool tetap bisa bersaing baik di kompetisi domestik maupun Eropa. Buktinya, di Liga Champions musim ini keduanya bisa melaju hingga semifinal. Laju kedua kesebelasan juga terbilang impresif untuk mencapai babak empat besar Liga Champions.

Roma, yang berhadapan dengan Barcelona di perempatfinal, sempat tak diunggulkan lolos ke semifinal, apalagi di leg pertama yang berlangsung di Camp Nou, mereka takluk 1-4. Namun, Roma berhasil mengalahkan Barcelona 3-0 pada pertandingan leg kedua di Olimpico. Meski agregat sama kuat 4-4, I Giallorossi berhak lolos ke semifinal karena keunggulan gol tandang.

Liverpool juga tak kalah impresifnya ketika mengempaskan Manchester City di perempatfinal. Di pertandingan leg pertama yang berlangsung di Anfield, Liverpool sukses menumbangkan The Citizens tiga gol tanpa balas. The Reds kian dominan setelah kembali memetik kemenangan 2-1 pada laga leg kedua di Etihad Stadium. Liverpool lolos dengan agregat 5-1.

Sementara di kompetisi domestik, Roma dan Liverpool juga menunjukkan perkembangan signifikan. Roma, dalam lima tahun terakhir, konsisten menempati posisi tiga besar di klasemen akhir Serie A. Begitu pula Liverpool, yang dalam dua musim terakhir konsisten menempati posisi empat besar di klasemen Liga Primer Inggris.

Bahkan pada musim 2017/18, mereka berpeluang mengakhiri kompetisi sebagai runner-up. Liverpool saat ini berada di posisi ketiga dengan 71 poin. Selisih poin mereka dengan Manchester United yang berada di posisi kedua hanya tiga angka. Mengingat masih ada dua pekan tersisa di Liga Primer, Liverpool tentu berpeluang menyalip posisi Man United di akhir kompetisi nanti.

"Keberhasilan Liverpool dan Roma menembus semifinal Liga Champions musim ini, menawarkan contoh yang bagus untuk klub lain, termasuk bagi klub seperti City dan PSG, bahwa analisis kepanduan, analisis yang diteliti dengan baik dan, yang terpenting, tidak adanya ego di semua posisi kunci, bisa menjadi kombinasi yang unggul," tandas Forde.

Komentar