Pengalaman yang Membentuk Dominasi Bayern

Cerita

by Rio Pangestu

Rio Pangestu

Pembaca yang menulis.

Pengalaman yang Membentuk Dominasi Bayern

Dominasi, dalam bentuk apa pun, tak pernah mengenakkan. Dominasi selalu meniscayakan adanya satu bagian yang membuat bagian-bagian lain jadi tertutupi—bahkan jadi tak berarti. Oleh karenanya, di bawah sebuah dominasi, kita sulit untuk menyaksikan adanya kebaruan yang menyegarkan dan menggairahkan. Di bawah dominasi, yang nyata adalah pengulangan yang menguarkan suasana kejenuhan.

Hal tersebut sepertinya sedang kita rasakan bersama saat ini, ketika melihat Bayern Munchen (lagi-lagi) keluar sebagai juara Bundesliga. Dominasi Bayern seakan membuat Bundesliga hanya diisi oleh mereka saja, sedang klub-klub lain entah ke mana.

Bayern keluar sebagai kampiun Bundesliga musim ini, setelah pada Sabtu (7/4) kemarin berhasil menuntaskan perlawanan tuan rumah Augsburg dengan skor telak 1-4. Di pertandingan tersebut Bayern Munchen sempat tertinggal lebih dulu pada menit ke-18 setelah pemain mereka, Niklas Sule, melakukan gol bunuh diri.

Namun, belum sampai wasit meniup peluit tanda berakhirnya babak pertama, Bayern sudah mampu membalikkan keadaan dengan gol yang dicetak oleh Corentin Tolisso di menit ke-32 dan James Rodriguez pada menit ke-38. Pada babak kedua, mereka menambah keunggulan lewat gol yang dijaringkan Arjen Robben (62’) dan Sandro Wagner (78’).

Bayern memang unggul dalam segala hal di pertandingan tersebut. Mereka menguasai bola sebanyak 70% sepanjang pertandingan; melesakkan 12 tembakan (berbanding 7); menciptakan 7 tembakan ke gawang (berbanding 1); dan mendapat 6 tendangan pojok (berbanding 1).

Berkat kemenangan ini, Bayern berjarak semakin jauh dengan FC Schalke 04 yang berada di peringkat kedua. Mengumpulkan 72 poin, Bayern unggul dua puluh poin atas Schalke dan sudah tidak mungkin lagi terkejar di sisa laga yang dimiliki saingan terdekatnya.

Gelar juara Bundesliga musim ini merupakan gelar keenam yang Bayern raih secara beruntun sejak musim 2012/13, dan merupakan gelar Bundesliga ke-28 yang diraih sepanjang sejarah mereka. Bayern juga mencatatkan rekor tersendiri, karena menjadi satu-satunya klub Jerman yang mampu merengkuh trofi juara liga (di era Bundesliga dan sebelumnya) lebih dari lima kali secara beturut-turut.

Dengan pencapaiannya tersebut, Bayern menunjukkan bahwa mereka memang sulit tersaingi di Bundesliga. Dominasi Bayern begitu kentara dan sulit terbantahkan. Rival terdekat mereka di Jerman saja,FC Nurnberg, masih terlalu jauh raihan gelarnya jika dibandingkan Bayern, mengingat sejauh ini Nurnberg baru sembilan kali mengangkat trofi juara.

Dominasi yang telah ditunjukkan Bayern di Bundesliga, jelas telah membikin kompetisi tersebut menjadi kurang menarik dan bergairah. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, dominasi selalu menciptakan pengulangan dan kejenuhan. Bayern bagai seekor ikan besar di kolam yang kecil.

Namun, mungkin belum banyak dari kita yang mengetahui, bahwa Bayern—sebelum menjadi klub raksasa yang mendominasi di tanah Jerman—pernah merasakan pahitnya menjadi korban dominasi sebuah sistem di tanah Jerman. Mari kita putar waktu ke masa jelang Perang Dunia II, saat Bayern menjadi korban dominannya rezim Nazi di Jerman. Fase ini juga turut membentuk kultur mentalitas pemenang Bayern sehingga dapat menjadi klub terkuat di Jerman sampai saat ini.

***

Ketika itu, Nazi sedang berkuasa di Jerman. Sebagai rezim totaliter, Nazi selalu mengupayakan agar dapat mendominasi dan mengontrol seluruh aspek kehidupan masyarakat. Salah satu caranya, adalah dengan mengirimkan intel-intel mereka ke setiap institusi, tak terkecuali klub sepakbola.

Kita tahu, Nazi yang begitu bergelora dalam mengobarkan semangat anti-semitisme, tentu tak sudi jika ada satu klub sepakbola di Jerman yang dihuni oleh orang-orang Yahudi. Tragisnya, Bayern merupakan klub tersebut. Sejak berdiri pada 1900, dua dari tujuh belas orang pendiri Bayern adalah orang Yahudi. Saat Nazi berkuasa, mereka menyebut Bayern sebagai Judenklub—Klub Yahudi.

Ketika Bayern menjuarai Liga Jerman (saat itu belum bernama Bundesliga) pada 1932, mereka berada di bawah pimpinan seorang presiden klub bernama Kurt Landauer yang merupakan seorang Yahudi. Pelatih mereka saat itu, Richard Dombi, juga merupakan seorang Yahudi berdarah Austria.

Pada 1933, ketika Nazi mulai berkuasa, Landauer dipaksa mundur dari kepemimpinan klub Bayern Munchen. Tak hanya itu, ia pun harus kehilangan pekerjaannya sebagai manajer periklanan surat kabar di Munich.

Nasib nahas menimpanya pada 1938. Ia ditangkap oleh Nazi dan dikirim ke kamp konsentrasi Dachau. Beruntung, ia masih selamat dari pembantaian karena begitu bebas dari kamp konsentrasi, ia langsung bermigrasi dengan melarikan diri ke Swiss.

Pada 1943, ketika Bayern dijadwalkan melakukan pertandingan uji coba menghadapi tim nasional Swiss di Zurich, tim Bayern dikawal sangat ketat oleh Nazi. Nazi berjaga-jaga agar skuat Bayern tidak sampai menjalin kontak dengan mantan Landauer, presiden klub mereka yang begitu mereka cintai.

Sebelum pertandingan dihelat, pelatih Bayern saat itu, Konrad Heitkamp, mendapatkan sebuah surat kecil yang diberikan oleh seorang pelayan hotel. Heitkamp sangat gembira ketika mengetahui bahwa pengirim surat itu adalah Landauer. Akan tetapi, belum sempat surat itu dibukanya, seseorang menepuk pundak Heitkamp dari belakang. Orang tersebut adalah anggota Gestapo—polisi rahasia Nazi.

“Gestapo. Berikan catatan itu. Kami tahu itu dari siapa dan kami melarangmu untuk melakukan kontak dengan orang itu. Kami mengawasimu!”

Namun Bayern tidak ingin kalah begitu saja atas represi yang dilakukan oleh Nazi. Usai laga persahabatan kontra tim nasional Swiss itu berakhir, para pemain Bayern berlari ke tepi lapangan. Mereka melambai-lambaikan tangan kepada mantan presiden klub mereka, yang menyaksikan pertandingan itu di bangku penonton.

Bayern memang dikenal sebagai klub yang pembangkang yang menolak tunduk pada aturan-aturan Nazi ketika itu. Perlawanan-perlawanan sering mereka lakukan. Karenanya, Nazi sering dibuat frustrasi oleh mereka.

Heitkamp mengaku bangga menjadi bagian dari Bayern bukan karena prestasi yang pernah Bayern raih. Terlepas dari itu semua, Heitkamp mengaku bangga karena Bayern adalah klub yang dengan teguh menolak dan melawan dominasi Nazi yang menggencarkan doktrin anti-semitisme pada masanya.

“Saya telah menjadi penggemar Bayern sepanjang hidup saya. Rumahku hanya berjarak sepuluh menit jalan kaki menuju markas klub di Sabenerstrasse. Tidak sulit untuk bangga pada pencapaian Bayern, terutama saat 2013 mereka meraih treble. Tapi tak satu pun kemenangan itu membuat saya begitu bangga, melainkan karena Bayern merupakan klub yang menentang anti-semitisme Nazi,” tuturnya seperti dilansir HuffingtonPost.

***

Terlepas dari segala pertimbangan teknis seperti materi pemain, pelatih, dll., bisa dibilang melalui pengalaman sebagai klub tertindas itulah, mentalitas Bayern terbentuk—menjadikan mereka klub yang begitu kuat di Jerman saat ini.

Jika dominasi Nazi dalam kehidupan sosial saja berani mereka lawan dan tolak, apalagi dalam hal sepakbola. Tentunya mereka menolak dan tak ingin klub lain mendominasi mereka. Hal itulah yang membuat Bayern sejauh ini begitu kuat dan, pada gilirannya, begitu mendominasi di persepakbolaan Jerman.

Karena itulah, berangkat dari keadaan saat ini di mana dominasi Bayern begitu kentara, penting bagi klub-klub lain di Jerman untuk meniru semangat dan mentalitas Bayern dalam melawan sebuah dominasi. Tentu bukan dominasi Nazi yang saat ini harus dilawan, melainkan dominasi Bayern itu sendiri. Agar Bundesliga tak sekedar mengulang-ulang pemenang dan berakhir membosankan.

Komentar