Jalan Kaki di Wembley

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Penanggung jawab rubrik PanditSharing dan Backpass. Penyunting naskah Cerita.

Jalan Kaki di Wembley

Manchester City baru tampak seperti Manchester City ketika gol ketiga tercipta. Gol pertama dan kedua, andai Arsenal tampil lebih baik, bisa dihindari. Tapi nyatanya Arsenal terlalu payah bahkan untuk sekadar mengimbangi City.

Umpan panjang Claudio Bravo di menit ke-18 tampak sia-sia. Sergio Aguero yang menjadi sasaran umpannya dikepung dari empat penjuru. Dengan satu senggolan kecil yang masih dalam batas wajar, Aguero mengeliminasi Shkodran Mustafi. Laurent Koscielny dan Calum Chambers mendekat dari kanan dan kiri. David Ospina meninggalkan gawangnya untuk mempersempit ruang tembak.

Setiap langkah yang membawa Ospina menjauh dari garis gawang membawanya lebih dekat ke hal-hal yang ia bicarakan dalam beberapa hari menjelang pertandingan. Ospina seolah memenuhi takdir yang ia tulis sendiri.

“Sulit memukul rata namun beberapa dari kami sadar bahwa kadang penjaga gawang dinilai dari perawakannya, (dari) seberapa tinggi kami; dan jika tinggimu rata-rata saja, kau harus membayarnya dengan kemampuan lain dan memaksimalkan semua kemampuan yang kau punya,” ujarnya dalam wawancara dengan The Guardian.

Namun berhadapan dengan Aguero di menit ke-18 pertandingan final Piala Liga 2017/18, keunggulan yang Ospina butuhkan justru adalah apa yang tidak ia miliki. Aguero melambungkan bola melewati kepala Ospina, cukup tinggi untuk tak terjangkau oleh sang penjaga gawang.

Gol kedua City baru tercipta di menit ke-58. Lagi-lagi tak banyak yang bisa dilakukan Ospina. Ia sudah menebak arah bola dengan tepat namun sentuhan Vincent Kompany mengubah laju sepakan Ilkay Gundogan. Benar-benar tak banyak yang bisa dilakukan Ospina karena para pemain Arsenal lainnya memang tak berbuat banyak.

Gundogan bisa melepas tembakan ke arah gawang karena tidak ada pemain Arsenal yang benar-benar berusaha memotong umpan datar sepak pojok Kevin de Bruyne. Sepak pojok bisa tercipta karena tak ada yang cukup kompeten untuk menghentikan pergerakan Kompany di sisi kanan serangan City.

Tidak ada kesalahan penulisan di sini. Kompany memang merangsek jauh hingga sepertiga akhir. Ia menghasilkan sepak pojok yang pada akhirnya ia akhiri sendiri.

Emosi Kompany tampak benar-benar meluap dalam perayaan golnya. Sepatutnya demikian karena ia banyak menghadapi situasi tak menyenangkan dalam beberapa tahun belakangan. Seorang kapten yang lebih banyak berjuang di ruang penyembuhan berhak merayakan gol penting di pertandingan final berhak merayakan gol seperti seorang anak kecil, bahkan jika nyatanya ia adalah pemain dengan pengalaman segudang.

Selepas laga, Kompany berbagi sedikit rahasia: “Sebelum pertandingan, saya merasa akan mencetak gol. Saya berlatih dengan baik dan mendukung para pemain bahkan ketika saya tidak bermain, dan ketika saya mendapat kesempatan bermain saya mengerahkan seluruh kemampuan yang saya miliki. Saya bangga dengan tim ini. Setiap menit kerja keras untuk sembuh sepadan untuk hari semacam ini.”

Skenario pertandingan tampak sempurna dengan Kompany sebagai penentunya. Namun pemain-pemain Arsenal punya ide lain. Mereka menolak untuk melawan bahkan setelah tertinggal dua gol. Pada menit ke-64, Gary Neville yang bertindak sebagai komentator pertandingan sampai tak kuasa menahan gemas.

“[Aaron] Ramsey berjalan. Mereka berjalan. [Granit] Xhaka berjalan. [Mesut] Ozil berjalan. Di Wembley tidak boleh berjalan. Kalian tertinggal 2-0. Lari!”

Semenit berselang, komentar Neville tak lagi relevan. David Silva memastikan kemenangan City lewat sepakan kaki kiri. Masih ada kurang lebih 25 menit pertandingan tersisa namun dengan penampilan macam ini, menyebut City sudah menang di menit ke-65 tidak sama dengan meremehkan peluang Arsenal.

Ketika wasit keempat menjalankan tugasnya dengan menunjukkan durasi injury time babak kedua, ia tampak melakukan pekerjaan yang tak perlu.

Pertandingan berakhir dengan tiga gol untuk City, nol untuk Arsenal. Pep Guardiola meraih trofi pertamanya di Inggris namun tak ambil bagian dalam perayaan. Sementara para pemainnya menaiki tangga untuk menerima medali dan mengangkat piala, Pep menyaksikan dari lapangan. Ia lebih mirip seorang ayah yang bangga kepada anak-anaknya ketimbang seorang manajer yang bekerja keras nyaris 24 jam sehari, setiap hari.

“Kami sangat senang, selamat untuk semua pihak di Manchester City, selamat untuk para bos besar dan para pendukung kami,” ujar Pep selepas laga. “Babak pertama tidak begitu bagus, banyak kesalahan dalam umpan sederhana. Di babak kedua kami bermain lebih berani dan lebih menunjukkan diri; di babak kedua kami luar biasa. Sekarang kami harus fokus penuh ke Liga Primer. Ini untuk Manchester City, bukan untuk saya.”

Wenger, sementara itu, membawa Arsenal semakin jauh meninggalkan klub-klub lain. Yang baginya merupakan kekalahan ketiga di final Piala Liga adalah kekalahan keenam bagi Arsenal. Tak ada klub Inggris yang lebih sering kalah di final kejuaraan ini selain The Gunners.

Komentar