Mimpi ke Wembley Lewat Jalur Tarkam

Cerita

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Mimpi ke Wembley Lewat Jalur Tarkam

Sepakbola yang kita tonton di televisi, misalnya Liga Primer Inggris, La Liga Spanyol, Liga Champions UEFA, sampai Piala AFC, hanyalah puncak kecil. Bahkan ketika telah sampai di puncak pun, ternyata masih ada puncak lain yang lebih tinggi.

Sama seperti gunung, tak akan ada puncak jika tak ada gundukan tanah yang membentuk lereng di bawahnya. Di sepakbola, puncak kecil ini adalah sepakbola elite. Namun sejatinya, tak akan ada sepakbola elite tanpa adanya sepakbola akar rumput (grass roots) sebagai "gundukan lereng".

Sepakbola akar rumput ini sering kita sejajarkan dengan tarkam (antar kampung) jika di Indonesia. Meski tak semua pemain profesional mengawali karier mereka di kesebelasan amatir, bukan berarti level amatir itu tidak penting.

Kita ambil contoh saja di Inggris. Semua pemain dari berbagai level, sampai level non-liga dan amatir (setara tarkam), pasti memiliki mimpi menjuarai “sesuatu” di Wembley. Pemain profesional di Liga Primer saja belum tentu bisa merasakannya, apalagi pemain amatiran. Namun, mimpi dan harapan itu tak pernah hilang.

Julio Arca dan Pascal Chimbonda adalah dua pesepakbola profesional yang sudah bukan profesional lagi. Mereka sama-sama memimpikan menjuarai “sesuatu” di Wembley meski mereka bukan orang Inggris.

Tak ada yang menyangka jika mimpi tersebut semakin dekat mereka capai di senjakala karier mereka, ketika mereka justru berstatus sebagai pemain non-profesional.

Julio Arca: Turun Level Tak Menurunkan Gairah

“[Bermain di] Wembley selalu jadi mimpiku,” kata Julio Arca. Pemain asal Argentina ini bermain di South Shields FC sejak 2015, sebuah kesebelasan dari level kompetisi ke-10 di Inggris, yang berkesempatan merasakan final FA Vase (kompetisi Piala FA khusus non-liga) di Wembley melawan Cleethorpes Town pada Mei 2017.

Arca pernah bermain di Sunderland, Middlesbrough, dan tim nasional Argentina U21. Ia dipaksa pensiun pada 2013 karena cedera. “Cedera kaki memaksaku berhenti bermain di Middlesbrough,” katanya, dikutip dari The Guardian.

“Aku sangat marah karena harus berhenti bermain. Cedera itu membuatku harus operasi dan butuh 18 bulan untuk pulih. Aku berhenti bermain secara profesional karena aku mau punya kehidupan saat tua. Aku tak ingin cedera ini memburuk, membuatku tak bisa bermain dengan anak-anakku,” curhatnya.

Ia dan keluarganya sempat pulang ke Argentina, tapi tak betah di sana, kemudian kembali lagi ke Inggris. Ia merasa sudah cocok dengan budaya di Inggris.

“Dari bermain secara profesional menuju berhenti sama sekali dan kamu tahu kamu tak akan bisa kembali. Itu sulit diterima. Bagian terbesar hidupku telah berakhir,” kata pemain yang saat ini berusia 37 tahun tersebut.

Baca juga: Magis Piala FA, Benar-Benar Magis Atau...

Namun, semuanya berubah ketika Arca menyetujui tawaran kesebelasan Sunday League (non-liga), Willow Pond FC.

Ia sempat bingung karena harus beradaptasi dengan kondisi yang sama sekali berbeda dengan sepakbola profesional, seperti rekan yang bermain padahal habis mabuk berat, rekan yang merokok saat turun minum, sampai di kesebelasan lain ada penonton yang away days sendirian dan satu orang yang rangkap jabatan sebagai manajer, tukang rumput, dan pengelola stadion.

“Temanku memintaku untuk bermain dengan tim Sunday League, aku setuju. Aku digaji dengan sub (sejenis roti lapis) seharga 3,5 paun (sekitar 66 ribu rupiah) per pertandingan dan man of the match mendapatkan dua pint [bir],” katanya ketika diwawancarai pada program Soccer Saturday.

“Gajinya beda, levelnya beda, tapi rasa senangnya, rasa gugupnya, dan ledek-ledekannya sama seperti [sepakbola] di [level] atas.”

“Lalu aku dapat panggilan dari South Shields. Semakin tua kamu, semakin kamu menikmati bermain sepakbola. Mereka adalah orang-orang baik, para pendukung juga hebat. Aku sangat gembira,” lanjutnya.

Pemilik, manajer, dan rekan-rekan setimnya justru yang lebih gembira. “Ia (Arca) seperti Tuhan di South Shields,” kata Graham Fenton, salah satu pemilik South Shields. “Mendapatkan pemain jadi lebih mudah sekarang ketika kamu bisa bilang, ‘Kamu akan main bareng Julio Arca!’”

“Ia (Arca) adalah panutan dan inspirasi untuk kami semua,” kata rekannya, Carl Finnigan. “Ia selalu datang setiap sesi latihan dan memberikan [usaha] 100 persen. Aku mungkin berpikir jika ia akan manja, tapi tidak. Ia adalah pria sejati yang dicintai para pemain dan penggemar, dan gairahnya masih menyala terang.”

Meski levelnya berbeda dari Sunderland dan Middlesbrough, Arca tetap berlatih dua kali sepekan dan bermain di akhir pekannya. “Kakiku berasa baik jadi aku tak punya rencana untuk pensiun. Aku pikir aku akan memperpanjang kontrak untuk tahun berikutnya jika mereka masih menginginkanku,” kata Arca.

South Shields tentu masih menginginkannya meski kaki Arca bermasalah dan sudah tak bisa sprint. Bagaimanapun, Arca masih terlalu hebat untuk level kesepuluh kompetisi Inggris, Northern League. Buktinya, ia berhasil membawa South Shields menjuarai FA Vase di Wembley.

“Ia menangis. Itu adalah ambisi membara Julio untuk mendapatkan [piala] di Wembley. Itu sangat berarti untuknya,” kata Finnigan.

Pascal Chimbonda: Menjaga Cinta Meski Turun Kelas

Mantan pemain Sunderland lainnya juga bergabung dengan kesebelasan Northern League Division One (level ke-8 kompetisi Inggris), dua level di atas South Shields. Pemain tersebut adalah Pascal Chimbonda, yang bergabung dengan Washington FC pada Oktober 2017.

Full-back yang berusia 39 tahun pada 21 Februari 2018 ini pernah bermain untuk Tottenham Hotspur, Wigan Athletic, Blackburn Rovers, Queens Park Rangers, bahkan di Piala Dunia 2006 bersama Prancis.

“Aku sangat senang bisa berada di sini dan aku tak sabar untuk bermain,” kata Chimbonda, dikutip dari The Sun. “Aku berbicara kepada manajer. Aku pikir tim ini butuh karakter lebih, seperti ketika kamu menang 1-0 dan tersisa tiga atau empat menit dan kamu harus kuat untuk tidak kebobolan.”

“Aku pikir semakin banyak kamu bermain, kamu akan semakin percaya diri, dan para pemain akan lebih fokus di lapangan,” lanjutnya.

Sementara itu, manajer Washington saat itu, James Clark, menambahkan: “Untuk membawa seseorang sekaliber Pascal adalah luar biasa untuk kesebelasan, para pemain, staf, dan kota ini.”

Saat ini Clark sudah tak menjabat sebagai manajer. Kemudian Chimbonda turut membantu asisten manajer setelah kepergian Clark. Tak seperti ketika masih profesional di mana ia bermain sebagai bek sayap, pemain kelahiran Guadeloupe ini bermain di posisi bek tengah, menjabat sebagai kapten, dan memakai nomor punggung 7.

Akar Rumput Sepakbola Indonesia: Piala Indonesia dan Liga 3

Kasus Chimbonda dan Arca menunjukkan kepada kita jika mimpi yang sama bisa dicapai dengan cara yang berbeda. Para pemain profesional yang sudah kadung jatuh cinta dengan sepakbola tapi level permainannya sudah menurun, mau-tak-mau menurunkan level kompetisinya juga; karena dengan begitu, mereka bisa menjaga hal yang paling membuat mereka bahagia, yaitu sepakbola.

Khusus untuk Arca, ia memimpikan mendapat trofi di Wembley dan ia tak menyangka kalau ia justru bisa melakukannya ketika ia bermain tarkam, bukan profesional. Meski level permainan dan kompetisinya berbeda, esensi mimpi Arca tetap sama. Begitu juga dengan para pemain lainnya di sepakbola akar rumput Inggris.

Kompetisi seperti FA Cup (untuk semua level), FA Trophy (untuk level 5-8), FA Vase (untuk level 9 ke bawah), sampai FA Inter-League Cup (sudah tidak ada) adalah kompetisi yang bisa membuat mimpi para pemain tarkam untuk bermain di Wembley menjadi kenyataan, karena semua final diselenggarakan di Wembley sebagai rumah suci sepakbola mereka.

Piala FA terutama, karena berisikan semua level, memungkinkan kesebelasan profesional bertemu dengan kesebelasan amatir meski kemungkinannya sangat kecil.

Itu juga yang menjadi cara bagi masyarakat Inggris, dari segala kelas, baik pemain maupun penonton, bisa bermimpi dan menikmati atmosfer pertandingan melawan kesebelasan besar. Hal yang bisa saja ditiru di Indonesia.

Di Indonesia, budaya ini rencananya akan dirajut ulang pada pelaksanaan Piala Indonesia (sempat beredar dengan Copa Indonesia).

Baca juga: Piala Indonesia, Kepingan Kompetisi Sepakbola yang Hilang

“Kita berharap penyelenggaraan Piala Indonesia ini bisa menjadi gegap gempitanya daerah di kala tim amatir bisa menjajal kekuatan tim profesional,” kata Ratu Tisha Destria, Sekjen PSSI, seperti yang ia sampaikan saat Kongres PSSI 13 Januari lalu.

“Misalnya Persigu Gunung Bintang berkesempatan menjajal kekuatan Persib Bandung,” lanjutnya. Meski tak benar-benar memfasilitasi tarkam murni karena hanya berisikan 128 kesebelasan dari Liga 1 sampai Liga 3, Piala Indonesia ini diharapkan akan menjadi Piala FA-nya Indonesia, di mana para pesepakbola amatir bisa bermimpi untuk bermain melawan kesebelasan profesional dan menjuarai “sesuatu” di Gelora Bung Karno.

Meski baru rencana, tapi itu salah satu cara kita menghargai sepakbola akar rumput dan pembinaan. “85 persen pemain sepakbola itu ada di fase amatir. 128 klub, belum ditambah dengan usia muda, dan lain sebagainya,” lanjut Tisha.

Grooming (dandanan) kita itu harus memperbaiki kompetisi amatir. Di situ, akar rumput pembinaan yang sebenarnya,” kata Tisha mengomentari Piala Indonesia dan Liga 3. Semoga itu bisa menjadi kenyataan, karena semua orang berhak untuk bermimpi, meski lewat jalur tarkam.

Komentar