Romantisme Persib Bandung di Kota Solo

Cerita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Romantisme Persib Bandung di Kota Solo

Persib Bandung akan melakoni pertandingan tandang menghadapi Persija Jakarta di Stadion Manahan, Solo, Jumat (3/11). Bagi Persija, bertanding di Stadion Manahan bisa dibilang sebagai kerugian, karena markas dari Persis Solo itu sebenarnya bukan stadion yang biasa mereka gunakan untuk menggelar partai kandang. Selama melakoni pertandingan kandang di Liga 1, "Macan Kemayoran" selalu menggunakan Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, yang sebenarnya juga bukan "kandang asli" mereka.

Jadi ketika laga melawan Persib dipindahkan ke Solo, bisa dibilang Persija seakan tengah melakoni laga usiran di tempat netral. Sementara bagi Persib, bermain di Solo bisa menjadi keuntungan tersendiri bagi mereka.

Keuntungan bagi Persib, bukan karena mereka akan menghadapi Persija pada laga tandang di Stadion Manahan yang bisa dibilang sebagai tempat netral. Lebih dari pada itu, ada beberapa keuntungan yang bisa diambil oleh juara Liga Super Indonesia musim 2014 itu dari pertandingan melawan Persija di Solo.

Salah satunya Persib bisa memanfaatkan keramahan Kota Solo yang sangat bersahabat bagi bagi "Maung Bandung". Solo merupakan kota yang sangat bersejarah bagi Persib. Kota budaya itu merupakan saksi dari awal mula kejayaan Persib di pentas sepakbola nasional yang dimulai sejak 1930-an.

Sejak terbentuk pada pada tahun 1933, dalam rentang beberapa tahun setelah kelahirannya itu, Persib belum dianggap sebagai salah satu kesebelasan besar Indonesia, mengingat prestasi mereka juga yang tak lebih baik dari VIJ Jakarta (Persija Jakarta) atau bahkan Persis Solo.

Namun semua berubah setelah kompetisi 1937 berakhir, nama Persib mulai membumbung sebagai salah satu kekuatan besar di kancah sepakbola tanah air, usai menjadi juara di akhir kompetisi tersebut. Bukan perkara mudah bagi "Maung Bandung" untuk menggondol piala pertamanya itu ke Kota Bandung. Di laga final mereka harus bersusah payah mengalahkan tim favorit juara, Persis Solo.

Era 1930-an awal hingga 1940-an akhir memang menjadi era keemasan bagi Persis Solo, total tujuh kali (1935, 1936, 1939, 1940, 1942, 1943, dan 1948) mereka berhasil meraih gelar juara Perserikatan. Pada kompetisi 1937 Persis tercatat sebagai tim juara bertahan, setelah pada kompetisi musim 1936 mereka berhasil mengalahkan Persib pada pertandingan final yang berlangsung di Lapangan Tegalega, Bandung. Saat itu Persis menang dengan skor 2-0.

Satu tahun berikutnya, Persis dan Persib kembali bentrok di pertandingan final Perserikatan. Namun kali ini Persis bertindak sebagai tuan rumah, laga kemudian dimainkan di Stadion Sriwedari, Solo. Melihat pamor Persis yang lebih mentereng dibandingkan Persib, membuat klub yang memiliki julukan "Laskar Samber Nyawa" itu diprediksi mampu mengalahkan tamunya dari Bandung. Prediksi tersebut setidaknya berjalan mulus hingga turun minum. Persis berhasil unggul 1-0 di babak pertama.

Namun pada paruh kedua, Persib mengamuk dan membalikkan keadaan menjadi 2-1. Dimjati dan kawan-kawan akhirnya berhasil menjadi juara untuk kali pertama dalam sejarah keikutsertaannya di kompetisi sepakbola Indonesia. Sejak saat itu, nama Persib pun mulai diperhitungkan sebagai kekuatan besar sepakbola Indonesia, hingga saat ini.

Kembali ke Solo, Persib lolos dari ancaman degradasi

Waktu terus berputar, hingga zaman pun berganti. Namun Kota Solo masih menjadi tempat yang cukup bersahabat bagi Persib. Memang tidak semua laga yang dimainkan Persib di Solo berakhir dengan hasil yang memuaskan, namun dalam beberapa momentum krusial, Solo selalu memberikan tuah positif bagi Persib.

Misalnya pada tahun 2003, saat itu performa Persib di kompetisi bisa dibilang sangatlah buruk, mereka terseok-seok selama kompetisi. Satu hal yang agak di luar ekspektasi, mengingat kala itu untuk kali pertama Persib menggunakan jasa pemain asing.

Tercatat pada musim tersebut skuat "Maung Bandung" dihuni oleh tiga pemain asing asal Polandia Mariusz Mucharsky (kiper), Piotr Orlinski, dan Maciej Dolega. Tak mau setengah-setengah manajemen Persib juga mempercayakan tampuk kepelatihan kepada pelatih asal Polandia bernama Marek Andrejz Sledzianowski. Namun alih-alih prestasi yang didapatkan, Persib justru terpuruk pada saat itu.

Perombakan dilakukan, Marek dipecat dan digantikan oleh Juan Paez yang merupakan pelatih asal Chile. Selain itu, tiga penggawa asing asal Polandia pun didepak dan slot pemain asing digantikan oleh trio Chile yang terdiri dari: Alejandro Tobar, Claudio Lizama, dan Rodrigo Sanhueza. Performa Persib mulai menanjak, namun sayangnya belum mampu untuk mengangkat posisi "Maung Bandung" dari ancaman degradasi.

Pada akhir musim, Persib harus puas menempati posisi 16 di tabel klasemen akhir Liga Indonesia 2003. Agar bisa bertahan di divisi utama, Persib pun wajib mengikuti pertandingan play-off yang digelar di Stadion Manahan, Solo. Babak play-off diikuti oleh empat kesebelasan, yang tiga di antaranya merupakan tim asal divisi satu.

Sistem play-off dibuat dengan format setengah kompetisi, jadi untuk bisa bertahan di divisi utama, Persib harus bisa unggul poin atas Persela Lamongan, PSIM Yogyakarta, dan Perseden Denpasar. Persib memulai babak play-off dengan hasil gemilang, mereka sukses mengalahkan Persela 1-0, dan berlanjut dengan kemenangan 1-0 atas PSIM. Hasil enam poin dari dua pertandingan tersebut cukup untuk membuat Persib bertahan di Divisi Utama.

Serangkaian kisah manis lainnya "Maung Bandung" di Solo

Momentum indah Persib lainnya di Solo terjadi di Liga Super Indonesia (LSI) musim 2008/2009. Saat itu Persib mendapatkan sanksi dari PSSI untuk menggelar pertandingan usiran karena kericuhan yang dilakukan Bobotoh saat Maung Bandung kalah 2-3 dari Persija Jakarta di Stadion Siliwangi.

Stadion Manahan dipilih sebagai home base sementara "Maung Bandung". Tuah bermain di Solo kembali dirasakan Persib. Bertanding melawan Persik Kediri di pertandingan pertamanya di Solo, Persib meraih kemenangan 3-1. Kemenangan tersebut memutus rentetan tiga kekalahan beruntun yang dialami Persib sebelumnya.

Kegemilangan penampilan Persib di Solo berlanjut pada turnamen pra musim Inter Island Cup 2014. Saat itu Persib yang berhasil lolos dari fase penyisihan zona Jawa, kembali bermain di Solo di babak babak 8 besar.

Tiga pertandingan dilakoni Persib kala itu dengan catatan tak terkalahkan (dua menang dan satu imbang). Hasil tersebut membuat Persib memuncaki klasemen akhir Grup B babak 8 besar dan lolos ke partai final. Sayang, pada pertandingan final yang berlangsung Stadion Gelora Jakabaring, Palembang, "Maung Bandung" menyerah 1-2 dari Arema Cronus.

Pertandingan terakhir yang dilakoni Persib di Solo adalah partai perempat final Piala Presiden 2017. Kala itu Maung Bandung berhadapan dengan Mitra Kukar, hasilnya sempurna bagi tim asuhan Djadjang Nurdjaman itu, karena mereka berhasil meraih kemenangan 3-2. Kemenangan tersebut membuat Persib melenggang ke babak semifinal.

***

Itulah serentetan kisah manis Persib saat bertanding di Solo, bisa dibilang ini menjadi modal untuk menambah kepercayaan diri para penggawa "Maung Bandung" untuk setidaknya mencuri poin saat berhadapan melawan Persija di Stadion Manahan. Apalagi kali terakhir Persib dan Persija bertemu di Manahan, Persib berhasil menahan "Macan Kemayoran" 0-0 di ajang Indonesia Soccer Championship (ISC) 2016 lalu.

Komentar