Liga Santri Nusantara, Ajang Membentuk Pemain dan Pribadi Berkarakter

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Liga Santri Nusantara, Ajang Membentuk Pemain dan Pribadi Berkarakter

Sebuah kompetisi sepakbola, selain mengasah kemampuan olah bola si pemain, seharusnya juga mengasah karakter dan pribadi sang pemain menjadi lebih tangguh. Harapan itu sekarang tersemat dalam sebuah kompetisi yang dinamakan Liga Santri Nusantara.

Kembali pada 2015 silam, ketika itu Menteri Pemuda dan Olahraga Indonesia, Imam Nahrawi, mengusulkan agar diadakan sebuah kompetisi sepakbola yang mempertemukan antar pondok pesantren di seluruh Indonesia. Atas gagasan tersebut, terbentuklah sebuah kompetisi bernama Liga Santri Nusantara, kompetisi yang dikhususkan bagi para santri yang bermukim di pondok pesantren di Indonesia.

Menyambut Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober (berdasarkan Keppres no, 22 tahun 2015), kompetisi Liga Santri Nusantara pun untuk pertama kalinya diadakan. Pada 2015 silam, Menpora menjadi penyelenggara tunggal Liga Santri Nusantara ini, sebelum akhirnya pada 2016, Menpora bekerja sama dengan Asosiasi Pesantren Nahdlatul Ulama sebagai penyelenggara Liga Santri Nusantara.

Sekarang, pada 2017 ini Liga Santri Nusantara sudah memasuki tahun ketiga penyelenggaraan. Dengan mengusung semangat "Dari Pesantren untuk NKRI", kompetisi ini diharapkan akan menjadi ajang pembentukan pemain dan pribadi yang berkarakter.

Liga Santri Nusantara, pilihan kompetisi usia muda yang lain

Sudah banyak kompetisi jenjang usia muda yang diadakan di Indonesia, mulai dari Piala Haornas, Soeratin, dan juga kompetisi U21 dan U19. Semua kompetisi tersebut, pada akhirnya bermuara kepada pembinaan pemain usia muda, sehingga kelak Indonesia tidak akan kehabisan talenta-talenta berbakat untuk membela tim nasional.

Di antara semua turnamen usia muda tersebut, Liga Santri Nusantara (LSN) hadir pada 2015 dengan menghadirkan semangat serta pilihan baru. Turnamen ini mengakomodir santri-santri yang memiliki talenta dalam bermain sepakbola, sehingga talenta tersebut tidak akan hilang atau malah tidak tercium sama sekali.

Ini tidak lepas dengan budaya di pesantren itu sendiri. Eratnya sepakbola dengan kehidupan santri menjadikan olahraga ini sebagai kegiatan unggulan dalam setiap kegiatan yang berhubungan dengan pesantren. Melihat besarnya potensi pemain sepakbola yang belum dibina secara terukur dan terarah di kalangan santri, maka perlu adanya wadah yang tepat untuk memfasilitasi tumbuhnya pesepakbola yang profesional. LSN adalah wadah yang tepat untuk menyalurkan hal tersebut.

Untuk LSN 2017 ini, diikuti oleh 1.024 klub dari 32 region yang mencakup 34 provinsi seluruh Indonesia. LSN 2017 sekarang sudah memasuki tahap final yang diadakan di Bandung pada 23 sampai 30 Oktober 2017 mendatang. Untuk putaran final sendiri, diikuti oleh 32 tim yang sudah lolos dari babak region yang dilaksanakan sejak Agustus hingga September 2017 silam.

"Kenapa kami memilih Jabar (Jawa Barat) sebagai tempat penyelenggaraan? Karena posisi Jabar sangat strategis. Jabar juga punya populasi pesantren yang cukup banyak. Total ada 9.000 pesantren yang tersebar di seluruh area Jabar, sehingga ada potensi pesantren yang bisa dikembangkan," ujar Abdul Ghofarrozin, Pengurus Pusat dari Rabtihah Ma`ahid Islamiyyah NU yang juga akrab disapa Gus Rozin ini.

Ajang pembentukan karakter bagi para pemain

Di pesantren, salah satunya adalah di pesantren Gontor yang kerap menjadi tempat orang-orang menghabiskan waktu sebagai santri, olahraga bukan hanya sekadar menjadi ajang mencari keringat atau ajang menghabiskan waktu di kala senggang. Olahraga, termasuk sepakbola, menjadi salah satu cara membentuk karakter dari santri itu sendiri, lewat empat motto yang kerap didengungkan oleh kyai menjelang masuk tahun ajaran baru.

  • Berbudi tinggi
  • Berbadan sehat
  • Berpengetahuan luas
  • Berpikiran bebas

Salah satu cara untuk mencapai semua itu, adalah dengan olahraga. Di balik badan yang kuat, maka pikiran-pikiran yang sehat dan maju pun akan muncul. Dibalut dengan akhlak dan budi pekerti yang tetap berada di urutan teratas, maka diharapkan akan lahir santri-santri yang memiliki budi pekerti baik, namun sehat sekaligus berwawasan serta berpengetahuan luas.

Baca Juga: Romantisme Sepakbola Pesantren

Konsep inilah yang juga dipakai dalam Liga Santri Nusantara ini. Selain untuk mengamankan talenta-talenta hebat dari pesantren, ajang Liga Santri Nusantara ini juga digelar untuk membentuk atlet dengan karakter yang kuat serta berbudi pekerti yang baik. Budi pekerti yang baik dan karakter yang kuat ini akan menjadi fondasi yang bagus untuk membentuk pemain dan tim yang memiliki karakter kuat, tapi tidak sombong dan tetap rendah hati.

"Di ajang regional screening saja sudah baik, dengan menjunjung Akhlakul Karimah sebagai dasarnya. Belum lagi dengan budaya cium tangan wasit, hal ini menunjukkan bahwa ada rasa percaya kepada wasit dan hormat kepada wasit sebagai orang yang memimpin pertandingan," ujar salah satu kontingen dari Banten.

Maka, bisa disebut juga bahwa inti dari LSN ini sendiri adalah aplikasi dari pendidikan karakter, karena sepakbola mengajarkan semangat kedisiplinan, sportivitas dan penghormatan. Nilai-nilai ini bahkan diekspresikan dalam bentuk unik di setiap laga, yakni tradisi mencium tangan wasit oleh para pemain.

"Harapannya ke depan, agar LSN ini dapat memunculkan pemain dengan skill olahraga yang baik, juga dilengkapi dengan sikap sportivitas dan Akhlakul Karimah," ujar Gus Rozin.

***

Memang kelak semua pemain timnas tidak akan berisikan pemain-pemain yang berasal dari pesantren, karena Indonesia adalah negara yang heterogen dan terdiri dari berbagai agama, suku, etnis, dan ras. Namun ada satu hal yang bisa dicontoh dari Liga Santri Nusantara ini, yakni membentuk karakter dan budi pekerti dari pemain itu sendiri.

Dengan memiliki karakter dan budi pekerti yang kuat, hal itu akan menjadi modal berharga bagi para pemain ketika mereka sudah dewasa nanti. Karakter yang kuat, serta budi pekerti yang baik akan membuat pemain menjadi pemain yang bermental kuat, namun di sisi lain tetap mampu menghormati sekitarnya.

Bahkan, bukan tidak mungkin jika nilai-nilai dari Liga Santri ini bisa ditiru dan diaplikasikan dalam turnamen usia muda lain, maka kita akan melihat kejadian cium tangan kepada wasit di mata dunia yang lain, yang dapat membuat nama Indonesia dihormati dan disegani juga di kancah internasional.

Dari pesantren, untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Komentar