3 Pemuda Potensial di Pra-Musim Klub Eropa 2017

Cerita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

3 Pemuda Potensial di Pra-Musim Klub Eropa 2017

Laga pramusim akan dimanfaatkan oleh seluruh klub sebagai ajang pemanasan sebelum kompetisi bergulir. Bagi pemain lapis dua khususnya pemain muda, laga di masa pramusim dimaknai sebagai ajang unjuk gigi. Maklum, kebanyakan kesebelasan memiliki kecenderungan untuk memasang pemain mudanya untuk menambah pengalaman dan jam terbang di masa pramusim.

Dari sekian banyak pemain muda yang ditampilkan, beberapa mampu tampil apik hingga menuai pujian pencinta sepakbola. Sebenarnya ada banyak pemain muda yang mampu tampil mengesankan di masa pra musim, namun dengan segala pertimbangan, kami memilih tiga nama yang cukup menunjukkan penampilan paling menjanjikan.

Reiss Nelson

Usianya masih 17 tahun, namun potensi Reiss Nelson mampu mencuri perhatian. Ia berhasil menunjukkan penampilan impresif saat tampil bersama Arsenal di ajang International Champions Cup (ICC) dan Emirates Cup. Penampilannya pada laga melawan Benfica di Emirates Cup membuat namanya semakin menjadi buah bibir. Satu asis berhasil ia berikan untuk gol yang dicetak oleh Olivier Giroud.

Bukan hanya itu saja, sebagai pemain muda Nelson tampil sangat percaya diri. Meski memiliki natural posisi sebagai penyerang sayap, namun dengan formasi 3-4-3 Arsenal, ia mampu tampil apik bermain sebagai wing-back kanan. Sering kali pergerakannya menjadi mimpi buruk bagi bek kiri Benfica, Eliseu, sepanjang pertandingan.

Potensi Nelson sebenarnya sudah terlihat sejak ia bergabung dengan akademi Arsenal di usia sembilan tahun. Nelson selalu mengesankan pelatih tim muda Arsenal, ia sering bermain di pindah pemain yang secara umur berada di atasnya. Bahkan, ia masuk dalam tim yang rata-rata dihuni oleh pemain dengan usia lima tahun lebih tua darinya di Arsenal U-21.

Kecepatan dan keterampilannya membuat banyak orang menganggap kalau Nelson layak untuk menembus tim utama. Manajer Arsenal, Arsene Wenger, tahu betul dengan potensi Nelson, ia tidak memungkiri peluang tampil di tim utama musim depan terbuka lebar baginya.

"Dia pemain yang lebih ofensif, lebih banyak pria yang bisa bermain sebagai satu dari tiga striker atau sebagai gelandang serang. Sebagai striker atau pemain kreatif, Anda cenderung memiliki dua jenis pemain. Ada yang pandai berlari dengan bola, dan beberapa yang pandai lari dari bola. Dia merupakan pemain yang suka berlari dengan bola dan memprovokasi lawan dengan melewatinya,” kata Wenger seperti dikutip dari Sky Sport.

Brahim Diaz

Sosok potensial lainnya adalah Brahim Diaz. Pemain muda milik Manchester City berhasil menyumbang satu gol saat timnya mengalahkan Real Madrid empat gol tanpa balas di ICC. Diaz yang masuk sebagai pemain pengganti berhasil mencetak gol dari jarak 40 yard.

Proses gol yang diciptakan pemuda asal Spanyol itu juga terbilang baik. Sebelum tembakan dilepaskan dari luar kotak penalti, Diaz yang menerima operan pendek dari rekannya melakukan dribble yang tak mampu dihentikan para pemain bertahan Madrid. Tendangan keras kemudian ia lepaskan yang menembus pojok kanan gawang Madrid.

Sosok pemain berusia 17 tahun itu sebenarnya sudah menjadi incaran banyak klub besar di usia 10 tahun. Ia hampir bergabung dengan akademi La Masia (Akademi Barcelona). Namun, Malaga yang merupakan klub pertamanya berhasil mempertahankannya. Potensi Diaz semakin terlihat, pada usia 14 tahun ia selalu diandalkan dalam pertandingan kelompok usia lima atau empat tahun di atasnya.

Penampilan apiknya membuat ia dijanjikan bakal bermain di La Liga saat usianya genap 16 tahun. Tapi sayang, video rekaman penampilannya bocor yang membuat Diaz kemudian diperebutkan oleh Barcelona dan Real Madrid. Tapi, Manchester City justru yang mampu memenangkan perburuan atas Diaz. Sosok Manuel Pellegrini yang sebelumnya pernah melatih Malaga adalah penyebabnya.

Pellegrini sadar dengan potensi Diaz, yang kemudian memboyongnya ke Inggris pada saat Diaz berusia 14 tahun. Namun karena usianya belum memenuhi persyaratan transfer Masalahnya, ia baru bisa bergabung dengan City pada musim 2016/2017. Tidak butuh waktu lama bagi Diaz untuk bersinar di tim junior City, bermain di FA Youth Cup dan UEFA Youth League ia memberikan kontribusi dengan mencetak banyak gol.

Melihat aksinya yang cukup memukau di pra musim, bukan tidak mungkin Josep Guardiola memberikan kesempatan bermain padanya di kompetisi musim 2017/2018 di tim utama. Atau, setidaknya Diaz menjadi investasi paling menggiurkan City di masa mendatang.

Patrick Cutrone

Sudah 10 pemain baru didatangkan AC Milan pada musim ini, namun bukan berarti pemain muda mereka tak mampu unjuk gigi di ajang pra musim. Patrick Cutrone menjadi salah satu nama yang penampilannya cukup mengesankan di ajang pra musim. Dua gol berhasil di cetak pemain berusia 19 tahun ini saat Milan mengalahkan Muenchen di ajang ICC.

Dua gol yang disarangkan ke gawang Muenchen menyiratkan bahwa ia adalah penyerang muda dengan kemampuan komplet. Selain piawai dalam duel udara, Cutrone pun memiliki kemampuan penempatan posisi yang baik. Banyak pengamat berpendapat bahwa gaya permainan Cutrone mirip dengan Alvaro Morata.

Bagi para pendukung Milan, namanya mungkin sudah tak asing. Sebab sejak musim 2016/2017 ia sudah dipromosikan ke tim senior. Meski hanya sekali dimainkan, sebagai pengganti saat menghadapi Bologna, namun kemampuan Crutone bisa dijadikan sebagai harapan lini serang Milan di masa depan melihat apa yang ia tunjukkan selama pramusim.

Musim ini, Cutrone tampaknya akan kembali menjadi bagian dari skuat Milan musim depan karena performa apiknya. Indikasi ini terlihat ketika ia diturunkan sejak menit pertama ketika Milan menjalani babak kualifikasi Liga Europa menghadapi Craiova, di mana laga tersebut merupakan pertama kalinya penyerang timnas Italia U21 tersebut bermain sejak menit pertama di laga resmi.

Foto: Sky Sport, ESPNfc, Sempremilan,

Komentar