Romantisme Persahabatan Djanur dan Herkis

Cerita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Romantisme Persahabatan Djanur dan Herkis

Duel antara Persib Bandung melawan Persela Lamongan dalam lanjutan pertandingan pekan ke-14 Liga 1 Indonesia 2017 akan menjadi ajang reuni, terutama bagi beberapa penggawa Persela. Tercatat ada empat pemain Laskar Joko Tingkir yang pernah berseragam Maung Bandung.

Mereka adalah: Aang Suparman, Eka Ramdani, Agung Pribadi, dan Samsul Arif Munip. Bagi mereka, bertandang ke Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) pada Rabu (12/7/2017) akan menjadi sebuah ajang nostalgia.

Namun nostalgia yang tersaji dalam bentrokan antara Persib dan Persela nyatanya tidak hanya dirasakan oleh empat pemain Laskar Joko Tingkir saja. Sebab hal tersebut berlaku pula bagi pelatih dari dua kesebelasan, Djadjang Nurdjaman dari kubu Persib dan Herry Kiswanto dari Persela. Dua sosok tenar di kancah persepakbolaan nasional itu sama-sama berasal dari Jawa Barat. Selain itu saat masih aktif bermain, baik Djadjang dan Herry juga pernah bermain bersama di Persib pada era 1970-an.

Bermain dalam satu tim yang sama, membuat kedekatan keduanya terjalin erat. Sebelum sama-sama naik ke tingkat senior, Djadjang dan Herry ternyata sudah bermain bersama sejak di usia junior. Ketika menapaki jenjang yang lebih tinggi, yaitu tim senior Persib persahabatan keduanya pun semakin terjalin erat, bahkan hingga hari ini.

Djadjang bercerita, ketika Persib melakoni partai tandang ia dan Herry selalu satu kamar. Djadjang menilai kalau Herry adalah sosok sahabat yang baik. Pelatih asal Majalengka itu mengungkapkan bahwa selain baik, Herry juga merupakan orang yang sabar dan tidak memiliki sikap emosional yang meletup-letup.

"Saya tahu betul siapa Herry, dia adalah orang yang baik dan juga sabar. Selama saya berteman dengan dia, saya tidak pernah lihat dia marah, ya dia memang bukan orang yang temperamen. Pokoknya dia itu adalah orang yang baik," kata Djadjang.

Persahabatan yang terjalin di antara keduanya kemudian menumbuhkan chemistry yang baik saat di lapangan. Walau Djadjang dan Herry memainkan posisi berbeda kala itu namun tidak jarang kolaborasi antara keduanya bisa membuahkan gol bagi Persib.

Djadjang mengingat salah satu momen kerjasamanya dengan Herry dalam sebuah pertandingan melawan Persebaya Surabaya pada 1978 silam. Saat itu, Djadjang menerima umpan jauh Herry yang berhasil ia konversi menjadi gol kala itu. Menurutnya, ia adalah momen yang paling tidak bisa dilupakan saat masih menjadi pemain.

“Waktu itu kan Herry itu posisinya libero, tapi dia punya kemampuan passing yang bagus. Dulu itu pernah saya mencetak gol lewat setelah menerima asis dari Herry. Waktu itu kita lawan Persebaya, Herry dari belakang kasih umpan panjang ke saya yang posisinya pemain sayap. Saya lari dan berhasil menjangkau bola kemudian saya tendang dan berbuah gol. Ya, itu momen yang selalu saya ingat,” ungkapnya.

Kebersamaan Herry dan Djadjang tidak berlangsung lama di tim senior Persib, hanya satu tahun saja keduanya bertahan sejak promosi pada 1978. Herry meninggalkan Persib lebih dulu pada tahun 1979, sementara Djadjang keluar dari skuat Maung Bandung pada 1980. Uniknya keduanya hengkang dari Persib untuk melanjutkan karier di kompetisi Galatama. Meski sama-sama berkompetisi di Galatama, namun keduanya tidak pernah lagi dipersatukan dalam satu klub.

Setelah pindah dari Persib, Djadjang memilih Sari Bumi Raya Medan sebagai pelabuhan barunya. Ia bertahan di sana hingga 1982, atau sampai kesebelasan tersebut berpindah home base ke Yogyakarta. Djadjang, kemudian kembali ke Medan untuk membela Mercu Buana Medan pada 1982 hingga 1985 sebelum akhirnya kembali lagi ke Persib.

Sementara Herry, setelah hengkang dari Persib ia memilih bermain untuk Pardedetex, selama empat musim dari 1979 hingga 1983. Setelah membela klub asal Medan itu Herry hijrah ke Yanita Utama Bogor, ia bertahan selama semusim dan pindah ke Krama Yuda Tiga Berlian. Cukup lama Herry bergabung bersama Krama Yuda yaitu dari 1985 hingga 1991 sebelum akhirnya ia hijrah ke Assyabaab Salim Grup (1991/1993).

Jejak Herry menyamai Djadjang yang mengakhiri karier di Bandung, setelah lama melanglang buana di kota orang. Hanya saja bukan Persib kesebelasan terakhir yang ia bela, melainkan Marstrans Bandung Raya. Herry bertahan selama tiga musim sebelum akhirnya memutuskan gantung sepatu.

Meski sejak berpisah dari Persib keduanya tidak pernah bermain dalam satu klub yang sama, namun tetap saja ada cerita unik yang mengiringi perjalanan keduanya. Djadjang mengungkapkan, ada satu momen ia dan Herry bertemu di lapangan dengan tensi pertandingan yang sangat luar biasa panas. Tepatnya, saat Djadjang memperkuat Mercu Buana dan Herry di Pardedetex.

Diakui Djadjang bahwa laga yang mempertemukan dua kesebelasan asal Medan itu selalu berlangsung panas. Nuansa derby benar-benar tercipta, hingga tak jarang adu jotos antar pemain mewarnai jalannya pertandingan yang mempertemukan dua kesebelasan tersebut.

"Dulu itu, di era Galatama dua tim itu (Mercu Buana dan Perdedetex) memang musuh bebuyutan. Pasti kalau ketemu sering ribut. Tapi, saya tidak pernah ikut-ikutan. Jadi, kalau ada ribut di lapangan, saya sama Herry biasanya suka diam saja di pinggir lapangan," katanya.

***

Kentalnya persahabatan memang menjadi cerita lain dari kerasnya persaingan di lapangan hijau. Djadjang dan Herry memang memiliki hubungan persahabatan yang erat di luar lapangan. Namun di dalam lapangan, status tersebut akan berubah menjadi seteru yang akan saling mengalahkan.

"Saya sama Djadjang memang sahabat, dari sama-sama main dulu. Kebetulan kami sekarang sama-sama jadi pelatih dan ketemu. Saya pikir kompetisi sehat lah ya," kata Herry Kiswanto.

Bagi keduanya, saat karier pelatih dipilih, ini menjadi pertemuan kedua di ajang resmi. Pertemuan pertama keduanya terjadi di ajang Piala Presiden 2017 lalu. Saat itu Djadjang yang memimpin pasukan Maung Bandung berhasil mengalahkan Laskar Joko Tingkir yang diasuh Herry dengan skor 2-0.

Komentar