Kekalahan Samurai Osaka di Kota Milan

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi 38086

Ardy Nurhadi Shufi

Juru Taktik Amatir
ardynshufi@gmail.com

Kekalahan Samurai Osaka di Kota Milan

Sejak awal 2014, AC Milan memiliki seorang samurai dalam diri Keisuke Honda. Honda pernah mengatakan bahwa dirinya memiliki semangat seorang samurai; memiliki mental dan disiplin yang kuat serta tak kenal menyerah. Pemain kelahiran 13 Juni 1986 ini sadar bahwa butuh mentalitas kuat bermain di kesebelasan sebesar AC Milan.

Kemudian dalam dua setengah musim, Honda menjadi andalan Milan. Dimulai dari Massimiliano Allegri hingga Christian Brocchi, pemain yang juga pernah membela VVV Venlo ini mendapatkan menit bermain yang cukup dalam satu musim kompetisi. 82 laga dalam 2,5 tahun jelas bukan jumlah sedikit.

Honda pun kemudian menemani Milan dalam upaya kembali menjadi salah satu kesebelasan terbaik di Italia. Maklum, sejak 2010-2011, Milan paceklik gelar. Trofi baru datang pada 2016, dari Piala Super Italia dengan mengalahkan Juventus. Selebihnya, Milan tertatih-tatih, bahkan untuk berlaga di kompetisi Liga Europa pun terbilang sulit.

Hidup di kota Milan dan bermain di AC Milan tentu hal yang menyenangkan bagi seseorang yang jauh-jauh datang dari seberang benua seperti Honda. Namun dengan apa yang dialami Milan setidaknya sejak ia datang pada 2014 lalu, ia tentu tak puas dengan prestasi Milan, termasuk dengan penampilan dirinya sendiri.

“Ini bukan diri saya [yang sebenarnya],” ujar Honda dalam sebuah wawancara pada pertengahan tahun 2014. “Meski saya belum pernah bertemu dengan seorang samurai, seorang pria Jepang tahu bahwa ia tak boleh menyerah. Kami memiliki mental dan disiplin yang kuat, jadi saya berharap memiliki semangat seorang samurai ketika berada di lapangan.”

Lewat semangat itulah Honda meretas asa bisa memperbaiki performanya sekaligus mengangkat harkat AC Milan yang mulai tenggelam. Namun apa daya, perjuangannya itu tak mampu mewujudkan apa yang ia inginkan. Bahkan penampilan Milan dikecam oleh Milanisti, sebutan untuk pendukung Milan, ketika mereka tak kunjung kembali ke kompetisi antar kesebelasan Eropa yang terakhir kali mereka ikuti pada musim 2013/2014 (Liga Champions).

Honda tahu akan hal ini. Ia tahu bahwa suporter di Italia tak segan untuk melancarkan kritik bahkan cemoohan pada kesebelasan kesayangannya jika tampil di luar ekspektasi. Ini pun yang menjadi tantangan baginya dengan menerima tawaran dari AC Milan usai kontraknya di CSKA Moscow habis.

"Saya telah bermain di beberapa negara (Belanda dan Rusia), tapi di Italia penontonnya berbeda, mereka lebih banyak mencemooh. Dan saya khawatir hal itu akan menimpa saya,” ujar Honda pada wawancara pertamanya sebagai pemain AC Milan pada SkyPerfectTV.

Awalnya, semangat samurai dalam diri Honda membuatnya meretas asa bahwa ia bisa tampil lebih baik dan Milan bisa kembali ke kejayaannya. Namun ketika Milan dilatih Vincenzo Montella per awal musim 2016/2017, Honda harus menerima kenyataan bahwa ia tak bisa berbuat banyak lagi bagi Milan; Montella lebih sering membangku cadangkannya.

Padahal Honda siap melakukan apapun untuk Milan. Di Milan, ia tak lagi dikenal hanya sebagai gelandang no. 10 yang andal dalam eksekusi tendangan bebas, tapi juga ia pernah ditempatkan sebagai double pivot hingga pemain sayap. Akan tetapi kemampuannya itu tak membuat Montella meliriknya, bahkan Montella sampai mendatangkan banyak pemain yang mengecilkan kesempatan bermain Honda.

Pada pos gelandang, Milan era Montella mendatangkan pemain yang setipikal Honda seperti Jose Sosa dari Besiktas, Matias Fernandez dari Fiorentina, serta Mario Pasalic dari Chelsea. Jika ia ingin bersaing di posisi sayap, Montella justru mendatangkan Gerard Deulefou dan Lucas Ocampos pada bursa transfer musim dingin dengan status pinjaman.

Transfer-transfer pada musim 2016/2017 seolah menegaskan bahwa Montella tak membutuhkan lagi semangat samurai dalam diri Honda. Apalagi ia kemudian hanya bermain sebanyak sembilan kali saja; delapan di Serie A, satu di Coppa Italia. Padahal tidak ada cedera parah yang mengganggu kariernya musim ini.

Dengan situasi ini, ditambah Milan yang sempat terseok-seok pada pertengahan musim ini, Honda mulai jengah. Cemoohan Milanisti pun mulai dianggapnya sebagai gangguan dalam kariernya. Karenanya ketika ia dipanggil timnas Jepang dan bermain di hadapan para pendukung Blue Samurai tersebut ia begitu termotivasi.

"Di Milan, saya pikir cemoohan itu terlalu sering. Saya benar-benar tidak merasakan cinta," kata Honda seperti yang dikutip dari Japan Times. "Bagi pendukung timnas Jepang, yang terpenting tim bermain dengan kerja keras. Ketika saya bermain di timnas Jepang, saya bermain untuk negara melebihi sekadar sisi sepakbolanya."

Akhirnya, ia merasa tak lagi memiliki masa depan di Milan. Ditambah lagi meski ia kerasan bermain di Milan, manajemen Milan tak kunjung mengajukan tawaran perpanjangan kontrak padanya, padahal kontraknya akan habis per 30 Juni 2017. Bahkan masa depan Honda di Milan tampak sudah muram jauh sebelum mendekati kontraknya habis.

"Keisuke [Honda] pemain yang sangat profesional dan ia selalu menghargai keputusan Montella. Sangat aneh keduanya tak bisa bekerja sama, tapi ini lebih karena Honda bukan bagian dari rencana Montella. Montella mungkin tak mempertimbangkan sesuatu yang fundamental dalam diri Honda. Padahal ia tak akan ragu untuk memperpanjang kontrak di Milan, sebagaimana ia bahagia di klub ini," tutur Hiroyuki Honda, saudara sekaligus agen Honda, pada Calcio Mercato.

Maka dengan nasib yang tak kunjung menentu di Milan, Honda pun akhirnya hanya bisa menerima kenyataan. Pemain kelahiran Osaka ini akhirnya mengucapkan selamat tinggal pada kesebelasan yang ia impikan ini usai mencetak gol lewat tendangan bebas ke gawang Bologna pada Mei lalu.

"Kepada Milanisti, terima kasih. Terima kasih untuk 3,5 tahun yang telah menjadi tantangan sekaligus meningkatkan kualitas saya sebagai seseorang. Saya akan meninggalkan Milan pada akhir musim ini, tapi saya berharap bisa bertemu kalian lagi, mungkin dengan peran yang berbeda lebih dari sekadar pemain. Untuk ke depannya, saya akan terus mengejar cita-cita saya," tulis Honda dalam akun Twitter @kskgroup2017.

Honda kini tinggal menghitung hari-harinya di kota Milan sambil menerima tawaran-tawaran dari kesebelasan lain. Dikabarkan kesebelasan dari Turki, Inggris, hingga Amerika Serikat tertarik menggunakan jasa pemain yang hari ini tepat berusia 31 tahun. Yang jelas, Honda masih belum habis dan akan mencari petualangan baru di tempat lain; yang bisa menjadi tempat untuk menumpahkan semangat samurainya.

Komentar