Magis Piala FA yang Dirawat Sutton dengan Segala Kekurangannya

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Magis Piala FA yang Dirawat Sutton dengan Segala Kekurangannya

Kompetisi berformat turnamen adalah kompetisi yang cukup seru untuk diikuti, terutama bagi para penikmat kejutan tak terduga. Selalu ada hal di luar ekspektasi yang kerap terjadi, dan kadang itu membuat orang bahagia.

Piala FA, salah satu kompetisi sepakbola tertua yang ada di Inggris, Eropa, bahkan mungkin dunia, adalah satu dari sekian banyak turnamen yang acap menyajikan hal-hal menarik sekaligus tak terduga dalam setiap perhelatannya. Tak jarang di Piala FA ada sebuah kejadian ketika tim gurem yang berasal dari divisi antah berantah dapat mengalahkan tim papan atas yang sudah masuk taraf profesional seperti tim Liga Primer ataupun Divisi Championship.

Saking banyaknya kejadian tim papan atas yang kalah oleh tim gurem di Piala FA, ada sebuah istilah khusus yang disematkan oleh media-media Inggris untuk kejadian ini, yaitu magis Piala FA, merujuk kepada kejadian ketika David menaklukkan Goliath, ketika tim level bawah mengalahkan tim yang sudah masuk level profesional.

Sudah banyak sekali tim-tim yang menjaga magis tradisi Piala FA ini. Memang jika dibandingkan dengan Piala Liga, kemungkinan untuk terjadinya sebuah surprise lebih besar terjadi di Piala FA. Seolah ada semangat tersendiri yang meliputi tim-tim gurem untuk menunjukkan kelasnya ketika melawan tim besar, dan mereka bahkan tidak gentar walau harus menghadapi tim yang berkompetisi di Liga Primer.

Inilah yang juga sedang dialami oleh Sutton United. Tim yang sekarang ini berkompetisi di National League ini mencatatkan sejarah lolos untuk pertama kalinya ke babak kelima Piala FA (babak 16 besar). Capaian ini mereka dapat setelah sukses mengalahkan Leeds United, klub terkenal Inggris sekaligus klub yang sekarang sedang berkompetisi di Divisi Championship, lewat gol tunggal dari penalti Jamie Collins.

Seusai pertandingan, penonton berhamburan ke dalam lapangan. Mereka merayakan kemenangan ini dengan penuh sukacita, selayak tim-tim gurem lain yang pernah sukses mengalahkan tim besar dalam ajang Piala FA. Hal ini pun benar-benar disyukuri oleh manajer Sutton, Paul Doswell.

"Kemenangan ini adalah kemenangan terbesar sepanjang sejarah klub. Dengan skuat ini, kami berhasil mencetak sejarah dengan cara kami sendiri, seperti yang pernah Sutton United lakukan di masa lampau. Jujur, dengan mengetahui level permainan kami sendiri, kami mampu mengalahkan tim yang bahkan sudah ada di taraf profesional. Saya sangat senang," ujar Doswell seperti dilansir ESPN FC.

Memang, seperti yang diungkapkan oleh Doswell, Sutton berhasil mengguratkan sebuah sejarah, dan secara tidak langsung tetap merawat magis Piala FA, dengan cara mereka sendiri.

Klub yang Serba Kekurangan

Membicarakan tentang klub Sutton, kita akan membicarakan sebuah klub yang cukup sederhana yang bertarung di kompetisi National League. Kompetisi National League yang mereka ikuti ini adalah kompetisi non-liga, kompetisi yang memadukan antara klub profesional dan klub semi-profesional di Inggris.

Dengan kata lain, status para pemain mereka bukanlah pemain profesional penuh yang dibayar oleh klub. Walau memang tidak se-amatir Liga San Marino dan masih menerima bayaran dari klub, bagi beberapa pemain Sutton, sepakbola bukanlah mata pencaharian utama. Beberapa pemainnya ada yang merangkap memiliki pekerjaan lain, dan bermain sepakbola hanya di akhir minggu saja, sebagai pelampiasan terhadap hobi yang dibayar oleh klub.

Status semi-profesional yang mereka emban membuat klub Sutton ini serba kekurangan. Disponsori oleh perusahaan pajak setempat, Beaver Pest Control, dan perusahaan produsen karpet setempat, M&S Carpets, membuat mereka sempat mengalami kesulitan dana. Bahkan mereka harus menerima sumbangan dari Paul Doswell, dan Doswell pun rela tidak digaji sebagai manajer klub ini.

Tak heran dengan kondisi yang serba kekurangan ini, mereka tidak sanggup untuk membenahi beberapa bagian dari Gander Green Lane, kandang mereka. Atap-atap stadion mereka pun dikabarkan bocor di beberapa titik, bahkan sampai ke ruang kelistrikan. Manajemen Sutton pun bingung mencari dana untuk memugar pintu masuk stadion mereka karena kesulitan dana yang mereka alami. Belum lagi kondisi stadion yang dekat perumahan warga membuat suporter tidak bisa membuat keriuhan ketika mendukung Sutton.

Suasana Gander Green Line, markas Sutton United. Foto: Wikimedia

Namun dalam kondisi yang serba kekurangan ini, Sutton tetap mampu bertarung di kompetisi National League, walau mereka sampai sekarang masih duduk di posisi ke-16. Bahkan, dengan segala kesulitan ini, mereka mampu menaklukkan Leeds United, klub yang pernah menaklukkan mereka dengan skor 6-0 pada 1970 silam. Kesulitan bukan halangan mereka untuk menciptakan sejarah.

***

Cerita itu pun telah tergurat. Jika ajang bernama Piala FA masih tetap ada, cerita tentang klub Sutton yang berhasil melaju sampai babak 16 besar Piala FA dengan status mereka sebagai klub yang bertarung di kompetisi non-liga akan tetap bergaung. Dengan segala kekurangan yang mereka punya, magis Piala FA sebagai turnamen tempat giant killing banyak terjadi mampu mereka jaga.

Di babak berikutnya, Sutton akan menghadapi Arsenal, kesebelasan dengan gelar juara Piala FA terbanyak (bersama Manchester Unietd). Akan menjadi laga yang sangat berat, tapi juga cukup menjadi berkah karena mereka akan bermain melawan salah satu kesebelasan besar Inggris, yang bisa mengangkat popularitas mereka juga.

Tapi untuk saat ini, selamat untuk Sutton. Selamat karena kalian telah meraih prestasi tertinggi kalian dalam ajang Piala FA. Jangan lupa juga untuk berbahagia, karena kejadian yang sama belum tentu terulang kembali.

foto: @andythephoto

Komentar