Kontribusi Besar Sang Ibu di Balik Deretan Prestasi Gian Zola dan Beckham Putra

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Juru Taktik Amatir
ardynshufi@gmail.com

Kontribusi Besar Sang Ibu di Balik Deretan Prestasi Gian Zola dan Beckham Putra

Gian Zola Nasrulloh. Namanya mulai dikenali ketika pemuda berusia 18 tahun ini masuk ke dalam skuat senior Persib Bandung yang berlaga di Piala Jenderal Sudirman. Bermain di usia yang terbilang sangat belia di kesebelasan sebesar Persib, apalagi saat ini cukup sulit bagi seorang pemain Bandung bermain di Persib, jelas merupakan sebuah prestasi luar biasa.

Kemampuannya memang cukup menjanjikan. Sederet prestasi individu sudah tak terhitung jari. Hal itu terpampang jelas pada lemari prestasi yang ia miliki di rumahnya. Dan tak heran, berkat kemampuan dan potensi yang dimilikinya ini, Gian Zola, bersama Febri Hariyadi, langsung diganjar kontrak empat tahun oleh Persib, yang jelas terasa istimewa bagi seorang pemain Indonesia yang biasanya hanya dikontrak satu tahun atau per musim.

Tak lama setelah Zola, giliran adiknya, Beckham Putra Nugraha, menandatangani prakontrak dengan Persib Bandung. Persib tak mau kehilangan talenta yang dimiliki pemain kelahiran 21 Oktober 2001 ini. “Sama kaya Zola, Beckham juga baru dikontrak Persib,” tutur sang ayah, Budi Nugraha, ketika saya sambangi langsung di kediamannya.

Kemampuan Beckham mengolah si kulit bundar memang tak kalah dari sang kakak. Belum lama ini, ia dinobatkan sebagai pemain terbaik dan top skor di Piala Menpora 2016. Dari total 90 gol yang dicetak Persib U15, 20 gol dicetak oleh pemain yang juga akrab disapa Etam ini.

Budi Nugraha beruntung, kedua anaknya mulai memiliki masa depan yang cerah di sepakbola. Tapi tak hanya peran sang ayah, setelah ditelisik lebih jauh, ada peran yang sangat besar dari sang ibu, Yuyun Zawariah, yang membuat Beckham dan Zola bisa menjadi seorang pemuda berbakat asal Bandung, yang mungkin dalam lima-enam tahun ke depan akan menjadi idola baru di sepakbola Indonesia.

***

Mobil baru, yang belum berumur satu tahun, terparkir di halaman rumah. Piala demi piala, yang kesemuanya gelar individu, berjejer begitu memasuki rumah Zola dan Beckham. Seragam kebesaran Persib bertuliskan nama “Zola” beserta nomor punggung 93 diabadikan dalam sebuah bingkai kaca. Medali-medali pun tak terhitung lagi oleh jari jumlahnya. Foto-foto penanda kesuksesan Zola, seperti foto bersama bintang Barcelona, Lionel Messi, terpampang di tembok rumah. Gian Zola dan Beckham Putra memang telah memberikan banyak perubahan bagi keluarganya.

Namun jauh sebelum semua itu diraih, ada perjuangan besar yang telah dilakukan sang ibu. Sejak awal anak-anaknya menekuni sepakbola, sang ibu selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi sang anak. Zola dan Beckham sendiri selalu ditemani oleh sang ibu setiap kali mereka latihan.

“Penting untuk anak-anak seusia dia. Kalau ada ibu kan, kalau misalnya anaknya perlu apa-apa, kitanya gak perlu khawatir gimana. Apalagi kalau gak dianterin, pulang jalan berdua, khawatir. Anak juga beda kalau misalnya dianter sama gak dianter. Apalagi Beckham takut kalau hujan. Dia kalau hujan gede sering ketakutan,” tutur Ibu Yuyun membuka pembicaraan.

Terkait hujan, Yuyun memang punya pengalaman yang tak akan bisa ia lupakan. Pada 2009, ia menjadi saksi bagaimana Beckham ketakutan ketika latihan tiba-tiba hujan besar datang, dan ranting yang jatuh nyaris mencelakainya. Hujan besar itu membuat Beckham trauma selama dua tahun, membuat Beckham tak mau datang latihan jika hujan.

“Waktu itu, nemenin latihan di UNI, hujan gede. Pohon sampai tumbang, kantor UNI atapnya ada yang terbang. Dia [Beckham] sampe ketakutan. Untung kan saya nemenin, anak ada lindungan ke orang tua. Kalau gak ada orang tua kan ke siapa coba kalau dia takut?” kenang Yuyun.

“Setelah itu, dia trauma setiap hujan, gak mau maen. Karena pas kejadian itu, ada ranting yang jatuh ke depan dia. Mau latihan pun kalau misalnya hujan pasti dia gak mau berangkat. Ketambah waktu itu pas pulang naek motor berempat, di depan si Zola, Beckham di tengah. Sampai usia 11-12 tahunan lah kaya gitu [trauma].”

Karier Zola dan Beckham yang terus menanjak memang tak lepas dari bagaimana perjuangan seorang ibu. Berkat upaya dan pengorbanan Yuyun juga pendidikan Zola dan Beckham tidak terganggu. Karena ia lah yang kerap mendatangi sekolah kedua anaknya tersebut agar kedua anaknya tidak tertinggal dalam pelajaran.

“Waktu di sekolah pasti terganggu kan. Bahkan sampai sekarang juga kadang saya yang ngasihin tugas ke guru-guru. Waktu Zola SMA, saya yang aktif ke sekolahnya nanyain tugas sama ngumpulin tugasnya. Sampai nanyain tugas. Waktu Beckham SD juga cemas pas dia kelas 6. Tapi Alhamdulillah nilainya gede.”

“Temen-temennya ada yang nyogok, saya juga kadang pengen kaya gitu ke guru-guru, tapi saya gak punya uang. Akhirnya saya mah pasrah aja, kemampuan anak segitu, ya segitu. Mau nilainya kecil, gede… Saya gak mau kalau anak saya bodoh tapi nilainya gede,” tegasnya.

Berkat hal ini juga Yuyun sering berdebat dengan ayah Zola-Beckham. Yuyun awalnya memang khawatir nasib kedua anaknya jika pendidikannya tertinggal. Namun akhirnya ia menemukan titik temu sehingga ia memutuskan untuk mendukung anak-anaknya menekuni sepakbola.

“Dulu saya sampai berdebat sama si Bapak, gak mau sekolah keganggu. Waktu itu saya dipanggil sama guru Zola, waktu Zola ikut Danone jadi dia sering gak sekolah. Gurunya belum tahu Zola di sepakbola kayak gimana. Saya disuruh milih, Zola fokus di sekolah atau di sepakbola, harus ada yang dikorbankan, katanya.”

“Saya bingung, kalau pilih salah satu saya gak bisa. Sepakbola keinginan dan cita-cita anak, di sisi lain sekolah jelas perlu. Makanya saya sampai berdebat waktu itu sama gurunya, minta keringanan. Sampai akhirnya saya minta waktu ke gurunya untuk ngobrolin dulu ke bapaknya. Di situ saya debat sama bapaknya. Keputusannya kemudian kata saya gini, ‘Sekolah juga belum tentu cari uang gampang. Tapi kalau main bola, kalau jadi pemain, kerja gampang, cari uang gampang. Gurunya baru ngerti’.”

Yuyun tentu hati-hati dalam mengambil keputusan tersebut. Namun ia memang melihat potensi dalam diri kedua anaknya sehingga ia berani ambil risiko dengan menomor duakan pendidikan.

“Anaknya emang keliatan ada potensinya, ibu juga melihat ke situ. Kalau biasa-biasa aja, mungkin ibu juga gak akan maksain di sepakbola. Tapi ibu pasrah, kalau sampai gak lulus juga ibu mikirnya masih ada paket C misalnya.”

“Kalau ibu lihat bakat anaknya emang di bola. Makanya gak takut walau anak ke sekolahnya cuma sekali-dua kali dalam sebulan. Keitung-lah dalam setahun berapa kali masuk ke sekolah, malah seringan ibu yang ke sekolahnya anak-anak, kaya ibu yang sekolah.”

Yuyun menyadari bahwa peran orang tua dalam mendukung anak-anaknya sangat penting bagi karier sang anak. Ia sendiri hampir tak pernah absen dalam menemani anak-anaknya sejak menjalani latihan di Sekolah Sepak Bola (SSB) UNI Bandung, hingga hijrah ke Saswco Bandung. Ia pun rela meninggalkan pekerjaan seorang ibu rumah tangga demi menemani Zola-Beckham berlatih.

“Pekerjaan rumah ditinggalkan, karena yang utama anak dulu,” katanya. “Latihan pagi, jam 6 dari rumah karena latihan setengah tujuh mulai. Kalau kesiangan sama pelatih dihukum. Makanya jam enam kurang udah pergi. Yang penting anak bisa sarapan, pekerjaan rumah ditinggalin dulu, baru dikerjakan pas beres nemenin anak latihan.”

“Nomor 1 untuk anak, sama bapaknya juga gitu. Mau hujan atau enggak, pasti dianter. Bahkan kalau latihan sore, latihan jam dua sampai jam empat, selain hujan, kegiatan pengajian ibu juga kadang-kadang harus ditinggalkan. Tapi intinya kasihan ke anaknya,” tambahnya.

Beckham dan Zola pernah terancam tak bisa melanjutkan SSB, namun simak cerita perjuangan Yuyun di halaman berikutnya

Komentar