Ini Salah Federasi dan Suporter Itu Sendiri!

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Ini Salah Federasi dan Suporter Itu Sendiri!

Lagi, masalah menghampiri sepakbola Indonesia. Bukan lagi soal pengaturan skor atau pemukulan terhadap pengadil pertandingan, melainkan melibatkan sosok di luar lapangan: suporter. Kerusuhan yang melibatkan suporter tampak begitu masif akhir-akhir ini. Tidak heran kehilangan nyawa menjadi hal yang cukup lumrah.

Kasus kekerasan suporter yang terjadi akhir-akhir ini memang cukup menyedihkan. Dalam jangka waktu tidak lebih dari satu bulan, dua orang harus meregang nyawa akibat dari perseteruan yang tidak jelas asal usulnya ini.

Harun Al-Rasyid Lestaluhu menjadi nama terbaru yang meninggal dunia akibat permusuhan antar suporter sepakbola. Pria yang akrab disapa Ambon ini tewas pada Minggu (6/11) akibat bentrokan di Tol Palimanan KM 188.

Rimanews menyebutkan Harun tewas setelah mendapat pukulan di bagian kepala ketika ia dan rombongannya hendak pulang ke Jakarta, setelah menyaksikan pertandingan antara Persija melawan Persib, di Stadion Manahan, Solo.

Meninggalnya Harun seolah semakin meyakinkan bahwa membuat rivalitas suporter sepakbola seharga dengan nyawa. Pasalnya, beberapa hari sebelum Harun menjadi korban, Muhamad Rovi Arrahman alias Omen juga tewas karena hal yang sama.

Tewasnya dua orang dalam jangka waktu kurang dari satu bulan menambah daftar panjang kasus meninggalnya suporter akibat sepakbola di Indonesia. Dalam rilis yang dibuat oleh #SOS (Save Our Soccer), total 52 nyawa hilang, di mana 15 orang meninggal akibat pengeroyokan, sejak Liga Indonesia dimulai pada 1994.

Menpora Imam Nahrawi, sebenarnya telah meminta agar kepolisian mengusut tuntas kerusuhan antar suporter sepakbola yang berujung tewasnya para korban. Namun demikian, permintaan Menpora terhadap kepolisian seakan tidak akan berguna jika para stakeholder sepakbola: penonton, federasi, dan kesebelasan, enggan menyelaraskan pikiran.

Menurut salah satu dedengkot Bonek, Andie Peci, yang dihubungi oleh PanditFootball, langkah negara saat ini harusnya juga disikapi oleh tiga pihak di atas. Sebab, jika tidak dilaksanakan, harapan akan berhentinya nyawa menjadi korban akan menjadi sia-sia.

“Tiga pihak di atas menjadi faktor utama yang bisa mengubah masalah tersebut. Namun bagi saya, ada dua pihak yang bisa membuat agar masalah tersebut untuk tidak terulang kembali, yakni suporter itu sendiri dan PSSI sebagai federasi sepakbola tertinggi di Indonesia.

“Mengenai suporter, hal ini terjadi karena banyak dari suporter masih berusia remaja. Ketidakstabilan emosi remaja jelas berpengaruh dalam masalah ini. Pemimpin dari masing-masing barisan suporter harus memberikan contoh nyata bagaimana agar rivalitas hanya terjadi di lapangan, bukan malah menghilangkan nyawa seseorang,” ujar Andie.

“Menurut saya, salah satu caranya adalah mereka harus tegas dalam aturan soal lagu dibunuh Saja. Sebab, lagu ini bisa saja memicu pikiran suporter untuk membunuh suporter lawan,” tandasnya.

PSSI menjadi faktor kedua yang dianggap oleh Andie bertanggungjawab atas kasus ini. Baginya, banyaknya kematian suporter yang terjadi membuat mereka semakin memperlihatkan diri bahwa kompetisi yang mereka buat tidaklah aman bagi para suporter.

“Kasus yang terjadi saat ini, meski kompetisi di bawah PT. GTS, namun terjadi akibat aturan-aturan PSSI mengenai suporter yang tidak jelas. PSSI tidak membuat aturan mengenai suporter benar-benar ada dan dilaksanakan,” tambahnya.

“Dari dulu mereka bilang ini terakhir, ini akan jadi yang terakhir, tapi kenyataannya tetap saja, kasus tersebut masih terjadi dan malah semakin masif. Harusnya mereka sebagai lembaga tertinggi sepakbola berani menciptakan hal tersebut agar kejadian ini tidak terjadi lagi,” imbuh pria yang juga aktivis buruh ini.

Andie pun meminta PSSI sebagai federasi sepakbola tertinggi Indonesia mencontoh apa yang dilakukan oleh federasi sepakbola Inggris dan Jerman dalam mengelola suporternya. “Coba PSSI mencontoh apa yang dilakukan oleh federasi sepakbola Inggris dan Jerman mengenai peraturan suporter.”

Menurutnya, apa yang terjadi di sepakbola kedua sepakbola negara tersebut lebih pelik. Pasalnya, rivalitas antara kesebelasan di dua negara tersebut, tidak hanya terjadi dalam dua poros.

“Indonesia ini seharusnya lebih bisa diatur. Rivalitas panasnya hanya Persebaya dan Arema serta Persib dan Persija. Dua poros ini jika berhasil ditata, tentu tidak akan mengakibatkan permasalahan seperti ini lagi.”

Andie menambahkan, peran aparat keamanan dalam kasus ini tidak akan berdampak besar sebab keruwetan yang terjadi hanya akibat dari dua masalah, suporter dan federasi, yang tidak terselesaikan dengan baik.

Padahal dalam undang-undang Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), sudah secara tegas dituliskan bahwa kasus kekerasan suporter dapat masuk ke dalam dua pasal, 170 dan 351 yang sama-sama bermuara pada kekerasan yang pelakunya bisa saja dikenakan hukuman penjara maksimal selama tujuh tahun.

“Apa yang terjadi saat ini sudah secara menunjukkan bahwa hukuman pidana tidak berpengaruh ke kerusuhan antar suporter di Indonesia. Sebab, bagi saya muara kasus ini hanya ada di dua obyek tersebut, suporter dan PSSI sebagai federasi sepakbola tertinggi.”

Kasus kerusuhan suporter sepakbola Indonesia memang sudah masuk ke tahap kronis. Tak ayal, pemerintah sampai turun tangan demi menuntaskan permasalahan ini. Namun demikian, seperti yang diucapkan oleh Andie, persoalan ini baru bisa akan selesai jika dua pihak, suporter dan PSSI benar-benar mengubah tatanan per-suporter-an.

Mau korban jadi berapa lagi, wahai suporter dan PSSI?

Feature Image: Solopos.com

Komentar