Dua Sosok di Balik Keberhasilan Tim Sepakbola CP Kalsel

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Dua Sosok di Balik Keberhasilan Tim Sepakbola CP Kalsel

Tim Sepakbola CP Kalimantan Selatan berhasil membuat semua pendukungnya yang sudah datang jauh-jauh dari Kalsel, sampai-sampai dibiayai oleh pemerintah, berbahagia. Mereka berhasil meraih medali emas dalam gelaran Peparnas XV Jabar 2016 setelah mengalahkan tuan rumah Jawa Barat dengan skor 4-2.

Keberhasilan Kalsel ini menghadirkan suasana sore yang begitu hangat di Lapangan Progresif, Bandung. Tawa dan tangis berbaur menjadi satu, dan semua itu melebur di tengah dinginnya udara sore hari Bandung, 23 Oktober 2016. Bahkan ada satu pemain yang saking terharunya, ketika pemain lain merayakan kemenangan, ia malah bersujud menangis. Entah bahagia ataupun entah teringat seseorang di luar sana.

Di balik sebuah kesuksesan pasti ada orang-orang yang berjasa mengantarkan sebuah tim atau klub meraih kesuksesan tersebut. Untuk Kalsel, setidaknya ada dua sosok yang memiliki pengaruh cukup besar dalam tim, sekaligus menghadirkan rasa hangat di tengah dinginnya cuaca Bandung.

Yahya Hernanda, Kapten Tim Sepakbola CP Kalimantan Selatan

Para pemain yang bermain dalam sepakbola CP memiliki kategori CP yang berbeda-beda. Ada yang masuk ke dalam kategori CP 8 (paling ringan), CP 7 (ringan), CP 6 (sedang), dan CP 5 (berat). Selain itu sulitnya menyatukan skuat yang memiliki tingkat difabilitas yang berbeda-beda membuat pelatih setidaknya membutuhkan satu orang yang dapat memimpin tim dan rekan-rekannya ketika bertanding di lapangan.

Di Kalsel, tugas ini diamanatkan kepada satu pemain berusia 20 tahun bernama M. Yahya Hernanda. Pemain ini memiliki kemampuan yang bagus, dan memang sudah terbiasa bermain sepakbola sedari kecil, meski memiliki kekurangan secara fisik.

“Sudah terbiasa main dari kecil, mas. Terus memang main sepakbola ini udah jadi hobi. Di Kalsel saya main sekitar dua sampai tiga kali seminggu,” ujarnya ketika ditemui seusai laga melawan Jabar di Lapangan Progresif Bandung.


Kapten tim sepakbol CP Kalimantan Selatan, M. Yahya Hernanda

Yahya juga adalah salah satu anggota dari timnas sepakbola CP Indonesia yang berlaga di sebuah turnamen invitasi di Singapura pada Juli 2016 silam. Dalam ajang tersebut Indonesia berhasil menjadi juara setelah mengalahkan Thailand dan Singapura dalam sebuah turnamen berformat round-robin. Hal ini menjadikan pengalaman dan kemampuan Yahya sudah sedikit lebih baik dari rekan-rekannya.

Meski begitu, sebagai pemain yang difabel, pemain yang juga merupakan mahasiswa di Institut Agama Islam Negeri Antasari ini pun tidak memungkiri bahwa ia dan kawan-kawannya acap mengalami kesulitan ketika bermain sepakbola. Ini dikarenakan orang-orang difabel, tidak seperti orang-orang normal, memiliki keseimbangan tubuh yang kurang. Itulah yang membuat mereka terkadang sulit untuk berlari atau menendang bola.

“Untuk kesulitan sendiri, sih, lebih ke keseimbangan saja mas. Meski memang dari luar kami terlihat seperti orang normal, tapi kami ini orang difabel, jadi keseimbangan kami tidak sama seperti orang normal,” ungkapnya.

“Tapi kami tetep berusaha mas. Rajin latihan, semangat latihan, juga selalu ada pelatih yang ngasih motivasi. Perlahan-lahan kami bisa mengatasi keseimbangan yang kurang dalam tubuh kami dan bermain dengan baik,” ujarnya.

Berkat pengalaman, dan juga kemampuan yang lebih ini, Yahya mampu memimpin rekan-rekannya meraih medali emas dalam gelaran Peparnas XV Jabar 2016 ini. Salut!

Pak Sarno, Pelatih Tim Sepakbola CP Kalsel

Bukan cuma sosok pemimpin berupa pemain yang berada di dalam lapangan, tapi sosok pelatih yang menjadi pembimbing di luar lapangan pun tentunya memberikan pengaruh yang besar dalam keberhasilan tim. Untuk tim Kalsel, sosok itu cocok untuk disematkan kepada Pak Sarno, pelatih tim sepakbola CP Kalsel yang juga merupakan pengajar di Martapura, Kalimantan Selatan.

Sosoknya yang begitu ramah kepada para pemain, sekaligus memiliki kesabaran yang tinggi dalam membimbing pemain-pemain yang secara mental dan fisik berbeda dari orang normal, membuatnya sukses mengantarkan tim Kalsel menjadi juara pada Peparnas XV Jabar 2016 ini.

"Menjiwai pemain-pemain ini memang butuh kesabaran, karena mereka berbeda dari orang normal," ujarnya.

"Tapi itu bukan berarti mereka buruk. Justru dari berbagai segi yang lain, seperti rasa hormat kepada orang lain dan juga menuruti instruksi, mereka lebih hebat dari orang normal," tambahnya.


Pak Sarno, pengajar di Martapura sekaligus pelatih tim sepakbola CP Kalimantan Selatan

Meski sempat mengatakan kalau ia harus beradaptasi terlebih dahulu dengan cuaca Bandung yang berbeda dengan Banjarmasin, ia mengatakan bahwa hal tersebut bukanlah masalah. Pelatih yang juga sudah lama tinggal di Banjarmasin ini mengaku bahwa waktu lima hari cukup untuk membuat anak-anaknya beradaptasi dengan cuaca Bandung.

"Awalnya memang sulit, tapi setelah waktu kurang lebih lima hari anak-anak sudah mulai terbiasa. Jika badan sudah terbiasa, maka memberikan instruksi taktikal pun akan lebih mudah," ujarnya.

Untuk profil lengkap dari Pak Sarno, pelatih tim sepakbola CP Kalimantan Selatan, anda bisa membacanya di sini

***

Terlepas dari dua sosok di atas, semua pemain, ofisial, pendukung, dan pemerintah Kalimantan Selatan pun memiliki andil cukup besar dalam keberhasilan Kalsel menjuarai cabor sepakbola CP Peparnas XV Jabar 2016 ini. Dengan dukungan baik berupa dukungan moral ataupun materi, mereka sukses menggondol emas ke Banjarmasin.

Tapi peran dua sosok di atas memang tidak bisa dianggap remeh. Pengalaman dan kemampuan Yahya, juga kesabaran dan keuletan pelatih Kalsel, Pak Sarno, mampu membawa kegembiraan datang ke raga seluruh orang Kalsel yang datang ke Lapangan Progresif pada 23 Oktober 2016.

Selamat Pak Sarno dan Kang Yahya, dan selamat juga Kalimantan Selatan!

Komentar