Mereka yang Kariernya Diselamatkan OGC Nice

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi 46983

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Mereka yang Kariernya Diselamatkan OGC Nice

Mario Balotelli tampaknya mulai menikmati kehidupan barunya sebagai pemain OGC Nice. Walau terlalu dini untuk menilai, empat gol dari dua pertandingan Ligue 1 Prancis bersama Nice yang ia torehkan menunjukkan bahwa Balotelli belum habis.

Seperti yang diketahui, karier Balotelli terjun bebas dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan pada musim panas ini, setelah masa peminjamannya di AC Milan berakhir, agen Balotelli, Mino Raiola, sempat kesulitan mencari kesebelasan baru untuk Balo.

Balotelli pun bergabung dengan Nice pada tenggat waktu transfer musim panas 2016 berakhir. Ada kaitannya atau tidak, namun keberhasilan Hatem Ben Arfa yang kariernya kembali menanjak bersama Nice, sekarang membela Paris Saint-Germain, cukup menjadi contoh bagi Balotelli untuk memiliki harapan serupa.

Bisa jadi Balotelli pindah ke kesebalasan yang tepat. Karena sebelum dirinya, juga sebelum Ben Arfa, Nice adalah kesebelasan yang "baik hati"; bukan sekali-dua kali mereka menyelamatkan karier seorang pemain. Berikut daftar pemain yang kariernya diselamatkan oleh Nice.

Patrice Evra

Siapa yang tidak mengenal Patrice Evra saat ini? Bek kiri timnas Prancis ini sekarang tengah merajut kesuksesan bersama raksasa Italia, Juventus. Sebelumnya, ia juga mempersembahkan berbagai trofi untuk raksasa Inggris, Manchester United.

Namun perjalanan karier Evra tak semulus yang dibayangkan. Ia sempat dibuang akademi Paris Saint-Germain setelah hanya bertahan satu musim (1997-1998). Ia kemudian harus melancong ke Italia untuk menjalani trial bersama Torino.

Hanya saja takdirnya berkata lain. Setelah 10 hari mengikuti latihan, Torino tak tertarik untuk merekrutnya. Evra, yang saat itu berusia 17 tahun, justru bergabung dengan kesebelasan Serie C1, Marsala. Musim berikutnya ia bermain untuk kesebelasan Serie B, Monza, dan hanya tiga kali bermain dalam semusim.

Saat itulah Nice, yang kala itu bermain di Ligue 2, datang "menjemputnya". Meski sempat bermain dengan tim cadangan, Evra kemudian menunjukkan kualitasnya. Pada musim keduanya, Evra berhasil masuk skuat utama dan mengantarkan Nice promosi ke Ligue 1.

Lebih dari itu, Evra juga dinobatkan sebagai bek kiri terbaik Ligue 2 musim tersebut, dengan masuk Team of the Year. Prestasinya itulah yang membuatnya digaet AS Monaco. Berkat polesan Didier Deschamps, Evra pun menjadi salah satu bek kiri terbaik Prancis, yang sebelum bergabung dengan Manchester United sempat dilirik oleh Juventus, AC Milan, dan Barcelona.

David Bellion

Pada awal 2000-an, David Bellion adalah salah satu pemain muda berbakat Prancis. Bermain di Liga Primer dengan membela Sunderland, penampilannya saat itu mencuri perhatian, terlebih usianya masih 20 tahun. Bellion pun mulai mendapatkan panggilan dari timnas Prancis U21.

Namun kemampuan Bellion gagal menyelamatkan Sunderland dari jurang degradasi. Degradasinya Sunderland inilah yang dimanfaatkan Manchester United untuk memboyongnya. Bellion lebih tertarik bergabung ke Manchester United ketimbang memperpanjang kontrak dengan Sunderland yang bermain di Divisi Championship.

Musim pertamanya bersama "Setan Merah" cukup menjanjikan dengan mencetak sejumlah gol. Namun pada musim kedua, ia kesulitan mendapatkan tempat utama setelah MU mendatangkan Diego Forlan dan Wayne Rooney.

Sempat dipinjamkan ke West Ham, namun kariernya tetap meredup. Tapi bersama Nice yang meminjamnya di putaran kedua musim 2005/2006, Bellion menemukan sentuhannya di mana ia mencetak lima gol dari 15 pertandingan.

Nice mempermanenkannya pada musim berikutnya. Meski sempat cedera serius, hal tersebut tak memengaruhi keputusan Bordeaux untuk merekrutnya pada Juli 2007. Dan bersama Bordeaux, Bellion mampu bertahan selama tujuh musim (meraih empat trofi), sebelum akhirnya bergabung dengan kesebelasan Serbia [Ralat: Prancis], Red Star FC, pada 2014.

Mathieu Bodmer

Meski karier Mathieu Bodmer tak terlalu mentereng, namun ia merupakan salah satu gelandang yang diperhitungkan di Prancis berkat kemampuan dan pengalamannya. Di Caen, Lille, dan terutama Lyon, ia selalu menjadi pilihan utama tim.

Namun pada bursa transfer musim panas 2010-2011, Bodmer memilih hijrah ke Paris Saint-Germain. Hal ini dikarenakan PSG merupakan kesebelasan yang ia dukung sejak kecil.

Sama seperti di kesebelasan lain, di PSG pun Bodmer langsung mendapatkan tempat utama. Di musim pertama, di bawah asuhan Antoine Kambouare, pemain yang berposisi sebagai gelandang serang ini mencatatkan 42 penampilan dan mencetak 10 gol.

Hanya saja kedatangan investor Qatar yang mengakuisisi PSG membuat Bodmer tersingkir, terlebih setelah Carlo Ancelotti ditunjuk menggantikan Leonardo Araujo sebagai pelatih kepala. Statusnya sebagai wakil kapten tim tak membuat posisinya aman di tim utama.

Kalah saing dengan Blaise Matuidi dan Thiago Motta membuat Bodmer memilih menerima masa peminjaman dari Saint-Etienne pada putaran dua musim 2012-2013. Pada awal musim 2013/2014, Nice pun merekrutnya dengan status bebas transfer dan hingga saat ini menjadikannya sebagai pemain utama bahkan kapten tim (sebelum kedatangan Paul Baysse).

Masih ada dua pemain lagi, sekarang bermain di Sevilla dan Leicester City. Baca halaman berikutnya...

Komentar