Mengubah Nasib Frank Lampard

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Mengubah Nasib Frank Lampard

Keputusan petinggi Chelsea melepas Frank Lampard beberapa tahun lalu sempat disesalkan pendukung mereka. Pendukung Chelsea kecewa lantaran Lampard sudah mereka anggap sebagai legenda klub dan harusnya ia diberi kesempatan untuk memperkuat kesebelasan tersebut meski usianya sudah memasuki masa senja.

Namun demikian, kesedihan pendukung Chelsea perlahan mulai hilang di musim 2014/15. Kemunculan Francesc Fabregas dan Nemanja Matic sebagai nama baru di lini tengah membuat pendukung Chelsea lambat laun melupakan jasa Lampard sebagai pencetak gol terbanyaknya. Dan jasa-jasa Lampard semakin terlupakan saat mereka berhasil menjuarai Liga Primer musim tersebut.

Di saat Chelsea menikmati masa-masa menjadi juara bertahan di musim lalu, Lampard justru malah menjalani nasib sebagai pesakitan. Selain malah dipinjamkan ke Manchester City, kariernya juga mengalami kemunduran yang luar biasa akibat cedera yang tak kunjung reda.

Lampard yang sedianya bakal menjalani debut di New York City FC, malah lebih banyak menghabiskan waktu di ruang perawatan ketimbang mengenakan seragam didominasi warna biru muda. Imbasnya beberapa pendukung New York City FC banyak yang kecewa dengan pilihan mendatangkan Lampard.

Kekecewaan mereka bukan tanpa alasan. Berdasarkan data yang dirilis oleh Asosiasi Pemain MLS, per 2015, Lampard menjadi pemain termahal New York City FC. Dalam data tersebut, Lampard memiliki gaji 6,3 juta dolar, lebih tinggi ketimbang Andrea Pirlo dan David Villa yang bergaji 2,3 juta dolar serta 5,6 juta dolar.

Dengan status tersebut mereka berharap apa yang ditampilkan oleh Lampard setara dengan bayarannya. Bukan hanya duduk di tribun atau menonton pertandingan di apartemennya yang diklaim harganya di atas 50 ribu dolar per bulan.

Ditambah harga tiket yang begitu mahal (New York City FC merupakan klub dengan harga tiket paling mahal ketiga di MLS), kekecewaan tersebut pada akhirnya mereka lampiaskan. Tak hanya mengejek manajemen klub, tapi juga Lampard. Dalam beberapa laga kandang di Stadion Yankee, terdengar beberapa sautan yang berbunyi “Di mana Frank Lampard?”

Setelah mengalami cedera, Lampard rupanya tak langsung kembali menemukan penampilan terbaiknya. Ia pun harus menunggu sebulan demi menyamai target penampilan seperti yang ia tunjukkan di Chelsea. MLS musim 2015 pada akhirnya berakhir lebih cepat dari perkiraan Lampard. Kegagalannya menunjukkan penampilan baik harus berakhir dengan tidak lolosnya New York City FC ke babak play off.

MLS musim 2016 menjadi target berikutnya bagi Lampard untuk menunjukkan diri. Namun impiannya untuk sedini mungkin mengangkat New York City FC harus gagal. Cedera betis beberapa pekan jelang liga bergulir memaksanya menepi ke pinggir lapangan.

Cedera tersebut rupanya memantik kekecewaan jilid kedua bagi pendukung New York City FC dan penggemar MLS tentunya. Beberapa media Amerika Serikat yang terkenal provokatif pun sempat memberikan gelar pembelian terburuk sepanjang sejarah MLS kepada Lampard, setelah ia terus menerus dibekap cedera. Beberapa media Amerika Serikat bahkan membuat topik utama mengenai keputusan untuk pensiun yang secepatnya harus segera diambil oleh Lampard.

Setelah 15 laga awal absen, Lampard pada akhirnya memperoleh kesempatan bermain di musim 2016. Melawan Philadelphia Union, eks pemain West Ham United tersebut menandai debutnya di musim tersebut dengan bermain sejak menit pertama. Diawali dengan boo, Lampard akhirnya mampu mengubahnya menjadi pujian lewat sebuah gol memanfaatkan umpan Tommy McNamara di menit ke delapan.

Tidak berhenti di situ, Lampard terus menandai penampilannya bersama New York City FC dengan gol. Puncaknya, melawan Colorado Rapids, ia mencetak hattrick pertamanya untuk kesebelasan tersebut. Hattrick tersebut seakan mengangkat penampilan New York City FC. Pasalnya, bersama Lampard presentase kemenangan New York City FC meningkat dari yang sebelumnya hanya 26% menjadi 50%.

Akibatnya New York City FC yang sebelumnya kembali diprediksi bakal tak lolos ke babak play off terkatrol peringkatnya. Hingga pekan ke-29 MLS, kesebelasan asuhan Patrick Vieira tersebut berhasil duduk di posisi kedua wilayah timur, dengan Lampard sebagai pencetak gol terbanyak dari 13 laga terakhir dengan 11 gol.

Dengan prestasi tersebut, ia pun difavoritkan menjadi peraih gelar MVP atau pemain terbaik di samping rekan setimnya, David Villa, Toronto FC, Sebastian Giovinco, dan penggawa New York Red Bulls, Bradley Wright-Phillips.

Tak hanya diprediksi menjadi peraih MVP, olokan yang diterima Lampard di awal musim berubah menjadi pujian. Topik utama media Amerika Serikat yang kerap memojokkannya berubah menjadi pujian lantaran rentetan prestasi baik yang ia buat lima bulan terakhir. Pendukung New York City FC pun tak ubahnya media Amerika Serikat, yang kini balik mendukungnya.

***

Meski pendukung Chelsea sudah mulai melupakannya, namun Lampard harus ingat bahwa kini ada pendukung New York City FC yang akan selalu memberikan sokongan kepadanya. Ya, nasib siapa orang siapa orang yang tahu, tak terkecuali Frank Lampard, yang kini jadi idola baru pendukung New York City FC.

Komentar