Parade Kiper Kelas Dunia di Liga Primer Inggris

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Parade Kiper Kelas Dunia di Liga Primer Inggris

Bursa transfer musim panas 2016/17 Liga Primer Inggris hanya tinggal hitungan hari akan berakhir. Tak ingin hanya mengandalkan pemain yang sudah ada, beberapa kesebelasan terus bergerak jelang penutupan masa jual beli pemain.

Dalam hari-hari terakhir, beberapa kesebelasan Liga Primer pun melangsungkan beberapa transfer menarik, baik dari dan ke kesebelasan sesama Liga Primer maupun dari kesebelasan non Liga Primer. Diantara transfer tersebut, salah satu yang paling menarik tentu adalah kepindahan penjaga gawang timnas Cile, Claudio Bravo, dari Barcelona ke Manchester City.

Keberadaan Bravo pun semakin membuat nama Liga Primer sebagai ajang pembuktian kiper-kiper top dunia. Pasalnya, sebelum ia tiba di Etihad, Liga Primer sudah memiliki penjaga gawang kelas atas lain, seperti Petr Cech, Thibaut Courtois, dan David de Gea, hingga kiper anyar seperti Ron-Robert Zieler dan Steve Mandanda.

Kedatangan Bravo juga menjadi bukti bahwasanya kompetisi ini menjanjikan peluang untuk mengibarkan nama seorang kiper. Alasan tersebut pun bisa didapat dari faktor teknis, seperti halnya jumlah tembakan ke per laga hingga bertaburannya nama penyerang nomor satu dunia di Liga Primer musim ini.

Berikut daftar penjaga gawang bernama besar yang bermain di kesebelasan di Liga Primer musim ini disertai catatan statistik dan diurutkan berdasar peringkat kesebelasannya musim lalu;

Petr Cech

Petr Cech menjadi salah satu penjaga gawang bernama besar yang kembali mencatatkan caps dengan bermain di Liga Primer musim ini. Musim 2016/17 pun bakal menjadi musim 13-nya di kompetisi level utama di Inggris ini dan musim keduanya berkostum Arsenal setelah hijrah dari Chelsea di awal musim lalu.

Cech bahkan layak disebut sebagai salah satu kunci keberhasilan Arsenal duduk di peringkat kedua Liga Primer musim lalu. Kendati telah kepala tiga, namun kiper Republik Ceko ini mampu tampil cukup baik dan tampak tak ada penurunan performa. Total 16 clean sheet dan 2,21 penyelamatan per pertandingan pun menjadi catatan penampilannya di musim lalu.

Hugo Lloris

Sama seperti halnya Cech, Lloris menjadi salah satu kunci utama penampilan menanjak Tottenham Hotspur musim lalu sebelum terpeleset di beberapa laga terakhir. Rumor setiap tahun mengenai keluarnya Lloris dari Spurs pun tak lagi didengar usai kiper asal Prancis ini mengucapkan janji setia untuk bertahan di White Hart Lane pada musim ini.

Pada musim lalu, eks penjaga gawang Olympique Lyonnais ini membuat catatan yang tidak buruk-buruk amat. Dalam 37 penampilan, Lloris mampu membuat 13 clean sheets, 1,84 penyelamatan, dan rerata kebobolan 0,92 gol per pertandingan.

Joe Hart/Claudio Bravo

Dalam sepekan terakhir, rumor kedatangan penjaga gawang baru di City menyeruak. Penyebabnya, manajer City, Josep Guardiola kurang sreg dengan dua opsi kiper The Citizens karena keduanya tak piawai memindahkan kakinya saat menerima umpan. Rumor tersebut pun mengangkat nama Bravo ke permukaan. Beberapa hari berselang, Bravo pun tiba di Manchester dan membuat Hart semakin diisukan untuk keluar.

Musim lalu memang berjalan kurang memuaskan untuk Hart. Tampil 35 kali di lapangan, eks kiper Shrewsbury Town ini memiliki rerata kebobolan per laga cukup tinggi, yakni 1,03 gol per pertandingan. Tak heran, ia kehilangan gelar Golden Glove yang didapatkan musim sebelumnya.

Penampilan Hart seakan menjadi bahan evaluasi Guardiola. Kamis (26/8), Bravo resmi didatangkan oleh City yang tampaknya akan mengisi kursi penjaga gawang utama. Kiper timnas Chile tersebut memiliki catatan yang lebih ketimbang Hart, baik soal akurasi umpan (yang selama ini dijadikan alasan media Inggris) hingga soal menjaga gawang.

Soal akurasi umpan, Bravo musim lalu mencatatkan catatan lebih ketimbang Hart. Di musim lalu Bravo berhasil membuat 85% umpannya mengenai sasaran, sementara Hart hanya bisa membuat 56%. Soal menjaga gawang, Bravo musim lalu membuat 2,13 penyelematan per pertandingan sementara Hart hanya membuat 1,91.

David de Gea

Berbeda dengan nama-nama lain yang hanya menjadi salah satu kunci, David de Gea di musim lalu adalah kunci utama Manchester United menjaga kredibilitasnya sebagai kesebelasan papan atas di Liga Primer.

Tampil dalam 34 partai di Liga Primer Inggris, De Gea mampu membuat 2,24 penyelamatan per laga, 15 clean sheets, serta 0,97 gol bersarang per laganya. Atas pencapaian ini, De Gea pun mendapat satu tempat utama di timnas Spanyol yang bertanding di Piala Eropa 2016 lalu.

Simon Mignolet/Loris Karius

Kendati tampaknya masih akan dipercaya Jurgen Klopp untuk mengawal gawang Liverpool, tampaknya Mignolet harus mulai sedikit was-was. Keberadaan Karius sendiri dipercaya bakal pelan-pelan menggeser Mignolet.

Mignolet sendiri tampil tak cukup baik di musim. Dari catatan kebobolan, Mignolet musim lalu kemasukan 42 gol dari 34 partai, atau 1,24 gol per laganya, jauh lebih buruk ketimbang Hart. Tidak hanya itu, ia musim lalu hanya membuat 11 clean sheets dan 1,53 penyelamatan per laganya.

Sementara Karius, di musim lalu masuk ke dalam daftar penjaga gawang kelas satu di Bundesliga Jerman. Tampil dalam semua partai yang dilakoni oleh Mainz di musim lalu, Karius mampu membuat 2,53 penyelamatan dan sembilan clean sheets. Tidak hanya itu, dari catatan 42 gol yang bersarang di gawangnya, tidak ada gol yang berasal dari situasi set piece.

Thibaut Courtois

Jika mengacu pada peringkat, musim lalu Chelsea pantas disebut gagal. Menyandang status sebagai juara bertahan, Chelsea bahkan begitu sulit untuk mentas dari zona Eropa. Sontak, kegagalan tersebut menyeret Courtois yang menjadi penjaga gawang utama dalam dua musim terakhir.

Inkonsistensi menjadi masalah utama Courtois di musim lalu. Pasalnya, kendati ia banyak melakukan penyelamatan – catatan penyelamatannya naik 0,35 per laga ketimbang musim saat Chelsea juara – namun, ia juga banyak kebobolan. Catatan kebobolannya yang hanya 0,94 di musim 2014/15 pun menanjak menjadi 1,26 di musim 2015/16.

***

Persaingan di atas sendiri memang masih sebatas persaingan antar penjaga gawang kesebelasan besar. Penjaga gawang berpenampilan baik di musim lalu, seperti Steve Mandanda hingga Ron-Robert Zieler (yang bersaing dengan Kasper Schmeichel) bahkan belum masuk peta persaingan.

Dengan keberadaan mereka, Liga Primer Inggris diyakini bakal naik ke level yang lebih tinggi. Tidak lagi, sebagai kompetisi lahirnya sepakbola, tapi juga kompetisi adu tangguh penjaga gawang kelas dunia.

Komentar