Cara Melihat Sepakbola a la Klan Simeone

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Cara Melihat Sepakbola a la Klan Simeone

Setiap orang tua pasti akan menjadi panutan anaknya. Tak heran, jika salah satu orang tua sudah terlanjur menjadikan suatu hal sebagai hobi atau bahkan pekerjaan, tidak jarang si anak memilih hal yang sama.

Dalam sepakbola, bakat ayah dan anak tak selamanya berada dalam satu garis linear. Ada kalanya sang ayah lebih bertalenta sementara si anak tidak. Begitu juga sebaliknya, ada ayah yang begitu kalah jika dibandingkan dengan talenta yang dimiliki oleh si anak.

Oleh karena itu, muncul suatu hikayat; Tidak banyak ayah dan anak yang bisa menjadi pemain sepakbola berkelas, apalagi bermain di lapangan yang sama. Nah, ingin membuktikan bahwa pernyataan tersebut tak berlaku pada dirinya, Giovanni Simeone memutuskan untuk memutar haluan dan berupaya untuk menyetarakan diri dengan prestasi sang ayah.

Melihat nama belakangnya, Anda pasti sudah bisa menebak siapa ayah Giovanni. Benar, jika Anda berpikir bahwa Giovanni ini adalah anak pelatih Atletico Madrid, Diego Simeone. Giovanni merupakan anak hasil pernikahan Diego dengan Carolina Baldini, ketika sosok nyentrik ini bermain untuk Atletico Madrid, medio 1990-an lalu.

Menjadi anak seorang superstar sepakbola di masanya ibarat dua sisi mata uang. Sisi positifnya, Giovanni bisa menjelajahi setiap kota tempat ayahnya bermain dan tentu saja, berlatih sepakbola di akademi mana pun yang ia mau.

Namun, hal tersebut rupanya tidak selalu memiliki dampak positif. Ekspektasi tinggi dan kehidupan glamor yang mengikuti kehidupan sang ayah pasti bisa menjadi dampak negatif yang tidak bisa disembunyikan dari setiap sisi kehidupan Giovanni.

Hal tersebut rupanya dirasakan oleh Diego. Sebagai sosok yang telah makan asam garam sepakbola, Diego tentu tak ingin anaknya mencicipi jalan berliku atau jatuh ke dalam lubang untuk menjalani kariernya sepakbola.

“Ayah saya tidak ingin kami tahu hal-hal buruk di luar sepakbola,” ujar Giovanni kepada 20 Minutos. “Oleh karena itu, dia mendekatkan kami terhadap semua hal di lapangan. Dalam 24 jam, 365 hari selalu kami habiskan dengan sepakbola. Mulai dari tontonan televisi hingga pembicaraan di dapur selalu bertemakan sepakbola.”

“Apa yang dia (Diego) lakukan terhadap keluarganya membuat kami semua memiliki DNA sepakbola. Bahkan, bisa dibilang, 70% apa yang di otak kami berisi sepakbola, sementara 30% berisi hal-hal di luar itu.”

Simeone dan Baldini memiliki tiga anak dan dua dari tiga anaknya, Giovanni dan Gianluca, memilih berkarier sebagai pesepakbola. “Dia membuat kami merasa memiliki talenta sepakbola sejak masih kecil,” tambah Giovanni.

“Strategi” Diego untuk menyodorkan semua hal berbau sepakbola rupanya membuat anaknya menjadi pesepakbola berbakat. Giovanni sendiri dikenal sebagai salah satu striker muda terbaik di kompetisi sepakbola Argentina musim lalu. Namanya mulai terangkat sejak ia masuk ke dalam tim utama River Plate di usia 16 tahun pada 2011 lalu.

Nama Giovanni semakin melonjak usai ia diberi kesempatan membela tim junior Argentina dalam kompetisi sepakbola U-20 Amerika Selatan 2015 lalu. Dalam kompetisi tersebut, Simeone tidak hanya membawa pulang trofi juara untuk Argentina, tapi ia juga mendapatkan gelar pencetak gol terbanyak dengan total 9 gol.

“Penampilan Giovanni seakan menunjukkan bahwa ia bukanlah anak seorang bintang. Dia bermain seperti layaknya permainan ayahnya. Dia memiliki pergerakan yang cukup pintar dan penyelesaian yang begitu baik,” ujar Humberto Grandona, pelatih Argentina U-20 seperti dikutip oleh Associated Press usai kompetisi sepakbola U-20 Amerika Selatan 2015.

Penampilan baiknya di turnamen tersebut rupanya membuat Giovanni ingin mencari pelabuhan terbaik untuk meneruskan kariernya. Pasalnya, ia ingin mendapatkan kesempatan bermain penuh setiap pekan, suatu hal yang tidak mungkin ia dapatkan di River Plate.

Kesebelasan Buenos Aires lain, Banfield, dipilih oleh Giovanni untuk menjadi kesebelasan lanjutan. Di sana, ia dilatih oleh Claudio Vivas, yang tidak lain adalah salah satu kawan ayahnya dulu. Bakat Giovanni di Banfield rupanya semakin terasah, total 12 gol ia catatkan dari 29 pertandingan yang ia lakoni.

“Apa yang saya lakukan di Banfield sudah bisa membuktikan bahwa saya layak dikenal karena memiliki kapasitas untuk menjadi pemain utama, bukan karena saya berstatus anak seorang pemain legenda,” ujar Giovanni di akhir musim lalu.

Bersamaan dengan dimulainya musim 2016/17, ia mendapatkan tawaran kembali ke River Plate. Namun, tawaran tersebut pada akhirnya ia tolak karena ia ingin level permainannya semakin meningkat. Kesempatan bermain dari Italia datang, Genoa pun menjadi pelabuhan berikutnya.

Musim 2016/17, Giovanni resmi berseragam Genoa. Di sana, kita akan bisa melihat, apakah kemampuan Giovanni pantas membuatnya disandingkan dengan sang ayah yang juga menjadikan Italia sebagai pijakan karier pertama di Eropa atau tidak. Jelas, tantangan bermain di Eropa tak akan sama dengan di kampung halamannya, khususnya godaan kehidupan glamor para pesepakbola di Eropa.

Komentar